Extra Part

29.9K 1.9K 36
                                    

"Zoo..." Glen berseru senang saat gerbang penuh dengan gambar binatang itu menyambutnya.

Nanad, Raya, Revano, Nevan tersenyum saja melihat cucu pertamanya yang tidak bisa diam itu.

"Seneng banget anak kita." kata Satya seraya merangkul bahu Sarah.

"Maunya diakan ke sini, jelas seneng." balas Sarah seraya membenarkan topi tamasyanya itu.

Cuaca terik, rasanya dia tidak sanggup berada lama di luar ruangan. Tapi, mau bagaimana lagi. Anaknya ingin liburan.

"Harusnya kita sore ke sini." Nevan melirik Sarah yang terlihat kepanasan  apalagi ibu-ibu— Nanad, Raya yang kini sudah ada di tempat yang lebih teduh.

"Yuk ke sana." Revano menunjuk tempat teduh untuk mereka duduk sejenak hingga cuaca tidak terlalu terik.

"Kenapa lemah sekali.." dengan lucunya Glen mengeluh pada nenek, kakek dan orang tuanya.

"Kakek sudah tua, Glen." balas Revano seraya menuntun cucunya untuk berteduh.

"Tapi—"

"Adik kamu kepanasan, Glen." potong Satya yang membuat Glen bungkam, anak tampan itu tidak mau adiknya kepanasan.

Glen menepuk sebelahnya. "Mommy duduk di sini." pintanya.

Sarah tidak menolak.

"Dad, di mana?" tanya Satya yang tidak di gubris Glen yang kini sibuk mengusap perut Sarah.

Satya mendengus, untung anak kesayangan.

Satya pun duduk di samping Sarah, sedangkan para orang tua sudah sibuk dengan pesan makanan ini dan itu.

Glen menyudahi usap mengusapnya lalu menatap Satya yang sedari awal menatapnya. "Daddy, jadi kapan kita masuk ke sana?" tunjuknya pada beberapa jalan yang akan membawanya ke setiap kandang hewan itu.

"Sebentar lagi." di usapnya kepala Glen yang berkeringat itu. "mana topi?" lanjutnya.

"Di pegang nenek." jawab Glen dengan sudah celingukan tidak sabar.

Satya meminta topi Glen, memasangkannya lalu merangkul Sarah yang terlihat lelah.

Sarah memang menjadi gampang lelah.

"Daddy, kenapa mereka di kandangin?" tanya Glen dengan menatap Satya penasaran.

"Mereka nakal kalau ga di kandangin, nanti gigit." jelas Satya seraya menyeka peluh di kening dan pelipis Sarah.

"Nakal?" Glen mangut-mangut paham.

Tak lama mereka mulai masuk ke dalam kebun binatang. Cuaca sudah lebih teduh dan sejuk, mungkin karena hendak sore.

"Woaaaaaaa.." Glen melebarkan mulutnya. "itu harimau?" tunjuknya pada kandang.

Satya menarik Glen pelan, takutnya Glen memasukan jari ke dalam kandang-kandang yang mereka lewati.

"Jangan terlalu deket, bahaya."

Glen mengangguk, melepas tangan Satya dan beralih memegang tangan Nevan.

"Kakek, ceritain mereka." pinta Glen yang dengan senang hati Nevan kabulkan.

Sesekali Revano menyahut, ikut menjelaskan pada cucunya yang banyak penasaran itu.

"Anak kita cerewet semenjak di sini." Satya mengulum senyum.

Sarah menatap Satya dengan semakin di buat jatuh cinta. Satya semakin hari semakin perhatian dan luar biasa keren.

Satya melirik tangan Sarah yang mengusap dadanya di sertai senyuman.

Satya menahan senyumnya yang seperti akan mengembang itu. "Jangan nakal, sayang."

Glen menoleh, melepas tangan Nevan lalu kembali meraih jemari Satya. "Daddy, mommy nakal? Apa mommy akan di masukin kandang?" tanyanya polos dan berbisik serius, seolah itu rahasianya dengan mom dan dadnya.

Satya hampir terbahak, sedangkan Sarah cemberut walau sesaat.

"Ga akan, mommy ga akan masuk kandang."

Glen menghela nafas lega lalu kembali berlari dan meraih jemari kakeknya.

Raya dan Nanad terlihat asyik berfoto ria, ibu-ibu eksis memang.

Satya melirik Sarah dengan menahan senyum. "Kamu ga mungkin aku kandangin, yang ada aku yang di kandangin." matanya berkedip sebelah dengan genit.

Sarah mendengus. "Sekarang kandang, dulu katanya aku itu tempat parkir." sindirnya dengan bibir berkedut menahan senyum.

"Bagus yang mana sayang? Kamu itu kandang Johny atau tempat parkir Johny?" kedipan mesum di lemparkan Satya.

"Dua-duanya samakan, sama-sama enak." bisik Sarah dengan nakalnya.

Satya berpaling dengan mengigit bibir, rasanya dia tidak kuat menahan gemas dan gairahnya sendiri.

Gairah tuanya tak kalah besar dari gairah mudanya.

"Langsung mau ya?" tebak Sarah.

Satya mengangguk lalu keduanya cekikikan, sungguh bahagia.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang