🌙ㅣ21. Bertemu Musuh

51.4K 8.1K 264
                                    

''Momen mendebarkan bisa menjadi menyenangkan jika dilewati bersama orang yang tersayang''

''Momen mendebarkan bisa menjadi menyenangkan jika dilewati bersama orang yang tersayang''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cekrek!

Itu bukan suara pintu terbuka, bukan pula suara barang terjatuh. Melainkan suara sebuah kamera analog dengan merk Olympus OM-1. Seorang lelaki dengan kemeja putih bergaris hitam itu tersenyum melihat hasil yang ia dapat.

"Bunda cantik," ujarnya dan merapikan tangkai bunga yang satu jam lalu ia buat dengan tangannya sendiri. Tubuhnya kini condong ke depan, mempertemukan mulut kenyalnya dengan nisan dingin yang beberapa lama ini tidak ia kunjungi.

Lelaki itu menghela napasnya yang bergetar, terduduk di tanah tanpa khawatir jeans hitamnya kotor atau tidak. "Maaf ya, Bunda. Varo baru bisa dateng ke Indonesia beberapa minggu lalu. Varo juga gak langsung nemuin bunda."

Alvaro terdiam untuk beberapa saat, menatap lurus pada nisan bundanya yang sudah berdiam di sana. "Bunda gak marah 'kan kalau papa punya yang lain? Bunda gak akan marah sama Varo 'kan karena Varo gak bisa cegah semuanya? Kalau bunda marah, Varo lebih marah. Bunda terima mereka di rumah kita? Kalau bunda enggak terima, Varo lebih enggak terima lagi, Bunda."

Dua jam menetap dalam keheningan makam, Alvaro menceritakan semua yang terjadi di rumahnya, menganggap bahwa bundanya sedang duduk di hadapannya dan memandangnya dengan senyuman lebar seperti dulu, seperti saat Alvaro kecil yang menceritakan bagaimana ia mendapat nilai sempurna dalam tes.

Ini bukan pertama kalinya Alvaro melakukannya. Alvaro selalu berdiam selama berjam-jam di makam bundanya sendirian semenjak bundanya benar-benar meninggalkan Alvaro. Hanya sekadar untuk berkeluh kesah, atau menjelaskan bagaimana perubahan yang ada di keluarganya saat satu-satunya perempuan di sana sudah tiada. Menurut Alvaro, lebih baik ia berlama-lama di sini dengan bundanya dibanding berkumpul dengan keluarganya yang bahkan sudah tidak ia anggap lagi.

Tangan Alvaro terangkat, mengarahkan lensa kamera pada objek yang ia tuju sedari tadi. Namun Alvaro menghentikan aksinya dan malah menatap ke samping kiri, tepat pada seseorang yang juga ikut berjongkok di depan makam seperti halnya Alvaro sekarang.

Kedua alis Alvaro menukik tajam, ia memandang dengan tatapan seolah-olah berkata 'ngapain lo di sini?!' dengan nada sewot. Tapi mulutnya tetap bungkam, ia tidak mengatakan apapun selain diam memperhatikan subjek yang juga balas menatapnya.

"Kak, maaf ya Bulan ngikutin kakak sampe sini."

What the hell.

Alvaro sudah mengumpat lagi saat mendengar ucapan gadis yang ternyata adalah Rembulan! Gadis yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kehidupan dan keluarganya itu mengakui jika ia 'mengikuti' Alvaro. Sejak kapan? Kenapa Alvaro sampai tidak sadar dengan hadirnya sosok Rembulan?

Alvaro ingin sekali berteriak dan membentak gadis yang masih menatapnya itu, bisa-bisanya Rembulan mengatakan dengan gamblang bahwa ia mengikutinya dan dengan tidak berdosanya gadis itu memperlihatkan senyuman polos yang membuat Alvaro mendengus keras.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang