[13]

35.4K 1.2K 28
                                    

Warning🔞🔞🌚🌚

Happy reading!! ^^

Seusai mandi dan makan malam, mereka hanya bersantai-santai di penginapan. Seperti ada sebuah teras/balkon yang terdapat ayunan yang terbuat dari kayu.

Naya dan Vano menikmati semilir angin malam, duduk berdua di atas ayunan dengan kepala Naya yang bersandar di bahu kiri Vano. Tangan keduanya saling bertautan dan menghangatkan.

"Van tau ngga sih, aku ngga nyangka kita bisa jadi suami istri kek gini loh. Dari tom and jerry jadi romeo and juliet"

"ih tumben ngomong gitu, kemasukan setan mana kamu"

"ah gatau ah ngeselin banget" Naya beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar.

"eh eh kok ngambek, NAYA AKU CUMA BECANDA SAYANG" teriak Vano dari luar.

"BODOAMAT AKU MAU BOBO, VANO NGESELIN" Naya balas berteriak.

"jangan ngambek gitu dong, nanti jeleknya nambah"

"nah kan, bodo ah Van"

"engga engga, istrinya Vano itu cantikkkkk banget. Kalo ini bukan cuma gombalan tapi emang aku jujur sejujur jujurnya, aku bersyukur banget sumpah bisa nikahin kamu Nay. Emang awal pernikahan kita itu cuma sekedar paksaan, tapi gatau kenapa sekarang aku bisa sayang banget sama kamu" ucap Vano panjang lebar.

Vano menyusul Naya yang merebahkan diri di atas ranjang. Ia mengukung tubuh Naya dari atas, sekarang Naya berada tepat di bawah Vano.

"aku juga selama ini udah mulai sayang sama kamu," Naya menutup wajahnya malu.

Vano menyingkirkan tangan Naya lalu secara perlahan ia mulai melumat bibir Naya. Namun Naya merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini, ia menukar posisinya sehingga Vano yang berada di bawah dan Naya berada di atas tubuh Vano.

Naya membalas ciuman Vano, mereka berdua saling melumat. Entah mengapa sedari tadi Vano bergerak gusar dengan ekspresi yang sulit diartikan. Naya menghentikan ciuman panas itu secara tiba-tiba.

"kenapa gerak gerak gitu sih Van"

"sayang turun bentar deh, kamu dudukin si Burno. Sekarang udah sesek banget jadi sakit"

"aduh aduh maaf sakit dimananya, maaf Van aku gatau kalo sakit" Naya menggeser duduknya menjadi di samping Vano

"ini sayang sakit banget, obatin dong" Vano menunjuk miliknya yang sudah menggembung di bawah sana.

"ih gimana ngobatinnya, kan aku gatau"

"itunya dielusin gini" Vano menarik tangan Naya untuk menyentuh Burno.

"gini?" tanya Naya polos sambil mengelus milik Vano.

"ahhh shhhh elusin terus sayang"

"sakit banget ya Van? perasaan cuma aku tindihin doang"

"iyahhh celananya dibuka aja Nay, sama ambilin itu krim di kantong koper yang dijadiin satu sama parfum aku"

"bentar aku ambilin dulu. Ini Van? krim apa sih,"

"itu krim yang biasanya buat pijitin Burno pas lagi sakit" padahal itu semacam krim pelumas gitu.

"sayang pijitin Burno yah, keram deh kayanya sakit banget"

Naya mulai membuka semua celana Vano dengan ragu-ragu, mulai dari celana boxer hingga celana dalamnya.

"Van aku takut kalo salah pijit" ucap Naya saat ingin membuka celana dalam Vano.

"ahhh gapapa cuma pijitin pelan pelan kok, udah buka aja"

Naya langsung membuka celana dalam Vano hingga terpampang jelas milik Vano yang mengacung tegak, cukup besar dengan ujung yang memerah.

Baby Boy || AlvanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang