Extra Part

33.8K 2K 34
                                    

       Sarah membalikan tubuhnya ke samping kiri lalu detik selanjutnya ke samping kanan, terus saja berulang hingga Satya yang baru terlelap itu kembali bangun.

"Kenapa sayang? Ga bisa tidur? Ga nyaman?" Satya membelai pipi Sarah dengan mata setengah mengantuk.

"Ga tahu, pengen muntah tapi susah, pengen tidur tapi perut begah rasanya." cerocos Sarah terlihat seperti ingin menangis.

"Makan apa tadi waktu makan malem?" Satya mengusap perut Sarah, mengecup keningnya lalu menatapnya lagi.

"Ga makan yang aneh-aneh." Sarah tiba - tiba terisak.

"Loh? Kenapa?" Satya mendadak tidak lagi mengantuk. "hey, kok nangis." di peluknya Sarah dengan khawatir.

"Aku ganggu tidur kamu." lirih Sarah di dalam pelukan Satya.

Satya mengerjap, menelan ludah lalu mengurai pelukan. "Siapa juga yang ke ganggu, engga sama sekali." yakinnya lalu kembali di kecup kening dengan bonus bibir Sarah.

"Maaf, aku ga tahu, kenapa aku malah nangis." tangisan Sarah malah semakin menjadi.

Satya yang kelabakan bergegas memeluk Sarah, menepuk pantatnya layaknya menenangkan balita.

"Kamu kayak gini, ga lagi hamilkan?"

Tangis Sarah sontak reda, keduanya larut dalam hening hingga Sarah mengurai pelukan Satya.

"Aku telat kayaknya, seminggu lebih."

***

Glen berlarian mengelilingi meja ruang keluarga, berteriak dengan senang karena akan segera memiliki adik.

"Tapi tunggu—" Glen berhenti di depan Satya, Sarah lalu menatap Nanad, Nevan, Raya dan Revano bergantian. "kok satu? Glen mau 10! Papah bilang 10!" amuknya dengan wajah di tekuk seperti ingin menangis, mengeras marah dan terlihat sekali keras kepala.

Semua melongo lalu terkekeh pelan.

"Bisa, cuma harus satu-satu sayang, kasihan mamah." Satya menarik lembut Glen, mengecup rambut Glen yang wangi itu.

"Ga mau! Harus 10!" amuknya dengan terisak lalu berlari meninggalkan ruang keluarga.

Pengasuh Glen mengekor, menenangkan tuan mudanya itu dengan hati-hati.

"Terus gimana?" Satya terlihat lesu, dia merasa bersalah karena membuat anak kesayangannya menangis dan sedih.

Sarah menghela nafas. "Bujuk aja atau alihin ke hal lain." jawab Sarah dengan lesu, entah kenapa dia gampang sekali lelah.

Satya mengusap punggung Sarah, mengecup keningnya sekilas. "Bujuk dulu Glen kalau gitu, tunggu di sini sama bunda, ayah, mama, papa." balasnya lalu berpamitan pada yang lain.

"Gimana? Udah mual?" tanya Raya setelah cukup lama dari kepergian Satya.

Sarah mengangguk."Ga terlalu sering sih, Bun." jawabnya dengan tanpa sadar mengusap perut ratanya.

Hamil yang kedua dan kali ini ada Satya, dia tidak tahu akan bagaimana.

"Itu wajar, soalnya masih baru banget." Nanad ikut bersuara yang di angguki Raya.

"Bunda waktu hamil Satya, dari 3 minggu udah muntah-muntah parah,  kamu sih bagus menurut bunda, ga separah bunda ngandung Satya."

Sarah berdo'a semoga tidak parah, dia tidak tahu ke depannya walau begitu dia akan menerima apapun itu demi anaknya.

"Kalo mama waktu hamil kamu ga rewel, tanya sama papa, mama bahkan ga ada lemes-lemesnya ya, pa?" godanya penuh makna.

Nevan hanya menggeleng pelan sebagai respon sedangkan Raya dan Revano tertawa pelan.

Sarah hanya tersenyum lalu pandangannya beralih pada Satya yang terlihat cerah menghampiri mereka itu.

"Berhasil di bujuk." leganya setelah duduk di samping Sarah.

"Mainan pasti." sambar Nanad yang di angguki Satya.

"Itu sama pengen liburan ke kebun binatang katanya." jelas Satya.

"Yaudah, kita berangkat semua kalau perlu." Nevan bersuara.

"Bagus, sekalian liburan keluarga setelah lama ga liburan." tambah Revano.

"Iyah, rencanain aja." Raya terlihat setuju.

"Bagus juga syarat yang di kasih cucu kita." canda Nanad yang di respon tawa hangat mereka.

Siang menuju sore hari itu pun terasa hangat, apalagi semenjak tahu kabar Sarah yang berbadan dua. Rasanya semua bahagia.

***

"Namanya Rahadinan, daddy." kata Glen memperkenalkan.

"Kok panggil papah, daddy?" Satya mengusap kepala Rahadinan sekilas lalu kembali menatap Glen.

"Biar keren kayak Rahadinan." jawab Glen acuh tak acuh, kedua tangannya sedang sibuk menyiapkan mainan.

"Papah aja." Satya mencubit pelan pipi Glen.

Glen menggeleng. "Maunya, daddy!" tegasnya tidak ingin di bantah.

"Ga papa om papah, daddy lebih keren." kata Rahadinan dengan senyumnya yang lucu.

"Setuju." kata Glen.

Karena sering pada akhirnya jadi terbiasa, Glen sering memanggilnya daddy dan mommy. Pada awalnya Sarah kurang suka, namun karena keras kepalanya Glen membuat mereka pun pasrah selagi itu sopan.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang