[18] the Darkest Lie

45 42 47
                                    

Happy Reading 🎉






























Sowon terbangun disebuah ruangan gelap, dengan tangan dan kakinya yang terikat dengan kuat oleh beberapa lapis tali. Sorot cahaya dari satu celah pun menyorot dirinya yang tengah meringkuk lemas disana.

Matanya hanya melihat cahaya itu, rasa sakit dikepalanya teramat sangat terasa-seakan kepalanya ditusuk-tusuk oleh timah panas. Ia mencoba bangkit-terduduk dengan teramat susah payah. Menggerakkan lengannya dengan sangat lemas, kondisi tubuhnya pun sedang tak membaik saat itu, mengingat kejadian yang baru-baru ini ia alami.

Nafasnya tersesak dengan keringat yang mulai bermunculan dari pori-porinya. Ikatan tali itu sangat kuat, mungkin akan meninggalkan bekas merah disana. Ia tak bisa melepaskan ikatan itu, tapi untungnya mulutnya tak dilakban atau pun dimasukkan kain.

"Tolong," lirih Sowon dengan nafas terengah, ia mencoba menyenderkan tubuhnya ke tembok-dengan teramat susah payah. Matanya tertutup saat rasa sakit itu mulai menjadi-jadi, bukannya tak sadarkan diri-ia hanya memjamkan saja matanya, agar tak terlalu merasakan rasa sakitnya.

Ada suara langkahan kaki dari arah luar, terdengar samar ditelinga Sowon. Ia menelan cairan salivanya, ketika langkah kaki itu mulai terdengar jelas menuju kearahnya.

Tak lama, gebrakkan kaki membuka pintu kayu yang dikunci dari luar itu. Masuklah cahaya secara berbondong-bondong ke dalam ruangan itu.

"Nona, Kau tak apa?" tanya seorang namja sebari memegang kedua belah pipi Sowon.

Mata Sowon terbuka perlahan, menunjukkan seorang yang tak asing baginya. Ya, pengacara Lee.

Sowon tak menjawab, ia hanya menatap dengan penuh rasa harap pada Jongsuk. Dengan perasaan yang sedikit bahagia, karena Jongsuk telah menemukannya.

"Tenanglah, Aku akan menyelamatkanmu." ucap Jongsuk penuh janji. Matanya yang mulai berkaca-kaca melihat keadaan Sowon saat itu. Melihat kearah belakang, sebelum ia menatap kembali pada Sowon.

Perlahan, tangannya mulai melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Sowon. Membuat yeoja itu tersenyum samar seketika. Jongsuk langsung menggendong Sowon ala bridal style dengan sedikit pelan. Membawa Sowon ke tempat yang jauh lebih aman saat itu juga.

"Tenanglah, setelah ini Kau tak akan merasakan rasa sakit itu lagi." sorot mata penuh keyakinan terlihat dari cara Jongsuk menatap kearah depan.

Jongsuk tersenyum saat Sowon sudah mulai sedikit kuat dan bisa berbicara lagi. Setelah berjam-jam ia mencoba segala hal untuk keselarasan baik Sowon, telah singgah pada berbagai dokter yang berada dirumah sakit. Sebelum akhirnya mereka kembali ke rumah Jongsuk-apartemen sederhana miliknya.

"Sudah baikkan? Maaf terlalu lama tadi," ucapnya dengan seringai tawa, dengan tangan yang masih memegang tangan Sowon.

"Ne, gomawo pengacara Lee." balas Sowon dengan senyuman manis, walau wajahnya yang sedikit pucat. Ikatan tali itu membekas dengan amat jelas ditangan dan juga kaki Sowon, berwarna merah dan sepertinya sedikit sakit.

"Nona muda," panggil Jongsuk dengan jedaan nafas pendek saat itu. Memikirkan lagi apa yang ia akan katakan, apa harus sekarang dikatakan? Tapi jika tidak, nanti Sowon akan semakin menderita. Sowon menatap wajah Jongsuk yang berubah menjadi serius. "Mianhe," ucapnya selanjutnya, tangan yang mulai memegang tengkuk Sowon dengan wajah yang mendekat pada wajah Sowon.

Cup,

Bibir Jongsuk menyinggahi bibir mungil Sowon yang sedikit terdapat darah pada ujung sudut. Mata Sowon langsung menutup saat bibit tebal Jongsuk bersentuhan langsung pada bibirnya.

Backstreet Idol Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang