BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

Albi : Kamu Siapa, Ya?

11.5K 795 201

Kehidupanku sehari-hari bukan hanya mengurusi restoranku tapi juga mencari panti pijet untuk kesembuhan tanganku. Ibuku emang masih kuno, bukannya disuruh ke dokter aku malah disuruh ke dukun, abis itu ke paranormal, abis itu ke cenayang, abis itu ke rumah kentang, abis itu ke pengadilan dan abis itu ke Taman Makam Pahlawan. Aneh-aneh saja.

Setelah berhari-hari aku sudah menemukan banyak panti pijet, dan hasilnya nihil. Tidak ada satupun yang memberikan kesembuhan, yang malah semakin parah. Tadinya kelingking udah mulai bisa getar-getar gitu, bisa buat ngupil sekali-kali lumayan, sekarang bukannya getar malah berdering, mending juga mode diam.

Aku harus bagaimana? Alhasil setelah pencarian panjangku aku menemukan rumah pijet ini, cukup familiar di mataku, hanya saja dengan gaya bangunan yang mirip panti pijet, membuatku curiga bahwa ini bukanlah panti pijet. Sudahlah, apa salahnya mencoba.

"Ada yang bisa dipijet?" tanya seorang ibu-ibu datang menghampiriku.

"Ada, Tante. Tangan saya butuh dipijet," ucapku malu-malu.

"Ah, bahagianya baru kali ini aku dipanggil Tante!" ujarnya kemudian berputar-putar menari seperti di film-film India.

"Jadi, apakah sekarang saya bisa dipijet, Tante?" tanyaku memastikan.

"Duduk saja dulu, Nak! Tante ambilin minyak nyongnyong sama perkakasnya dulu yah," ucapnya segera pergi.

Asataga naga! Aku dipijet pakai perkakas apaan? Mungkin itu cara yang ampuh, lebih baik aku ikuti saja prosedurnya. Melupakan apakah tanganku akan dimacem-macemin atau tidak, aku melihat sebuah majah di meja, sebuah majalah yang berukuran besar. Sama seperti model cover dalam majalah ini.

Wajah ini, tubuh gembrot ini, seperti pernah kukenal. Apa dia anaknya tukang jahit yang menjahit sempakku itu, yah? Ah, sialan aku jadi ingat! Cewek anaknya tukang jahit itu merampas sempakku, katanya baunya membuatnya kecanduan. Aneh-aneh saja.

"FashionAbel," kataku membaca nama majalah yang kupegang. "Apa?! Abel!" Aku langsung syok dan agar lebih dramatis aku menjatuhkan majalah itu ke lantai.

"Albi!" panggil seseorang dari belakangku.

Aku menoleh dan langsung mendelik melihat orang di belakangku.

"Albi!" panggilnya lagi, "Albi... Albi... Albi..." ditambah gema-gema agar lebih natural.

"Didi!" panggilku kaget.

"Didi... Didi... Didi... " Dia sendiri yang menambahkan gemanya.

Kemudian aku mengingat bahwa Didi adalah anaknya tukang urut, dan langsung saja sontak aku bertanya, "ini rumahmu?" 

Didi yang berdandan menor itu kemudian melangkah mendekatiku. "Iya! Ya... ya... ya..." Tentunya dia masih menggunakan efek gema dalam bicaranya.

Kemudian dengan reflek aku mengambil majalah yang terjatuh itu dan menaruhnya lagi dan menunjukannya padanya. "Ini Abel?" tanyaku.

Dia mengangguk. "Kebetulan aku kerja di kantor Abel. Oh ya, bagaimana kabarmu? Aku sama sekali tak pernah mendengar namamu lagi sejak kau memustuskan pindah dari sekolah.

"Aku, aku baik-baik saja. Apa Abel sekarang sudah sukses? Dia punya kantor sendiri?" tanyaku yang tidak mau repot-repot menanyakan keadaan Didi.

"Ya, dia punya sebuah kantor majalah. Itu majalahnya! Dia seorang pemimpin sekarang," jawab Didi mendekatiku.

"Apa... apa aku bisa bertemu dengannya? Apa aku bisa?" tanyaku gelagapan.

"Bisa saja, kalau kau mau, aku bisa mengantarmu ke kantornya. Dia belum pulang jam segini," jawabnya santai. "Tapi tunggu! Kenapa kau ada di sini? Apa kau ingin dipijet?" tanyanya.

FashionAbelBaca cerita ini secara GRATIS!