01

290K 3.1K 262
                                    


"Kak devaanhh.....stopphh...." desah Ara saat Devan mencium lehernya dari arah belakang.

Gadis itu tengah menonton drakor di laptopnya, dengan posisi ia berada dalam pangkuan Devan. Sedari tadi Devan selalu saja mengganggu acara menontonnya.

Sedangkan Devan, ia tersenyum penuh kemenangan karna berhasil mengganggu ara.

"Stop kenapa, hm? Aku suka sama wangi kamu, Ra. Makanya aku cium terus dari tadi." Jawabnya enteng.

Ara tidak menghiraukan perkataan Devan barusan, ia masih fokus pada Drakor nya. Devan yang merasa terabaikan pun melancarkan aksinya lagi.

Devan menghirup dalam wangi dari leher jenjang milik Ara, ia meniup, mencium bahkan menggigit kecil. "Ahhh.." lenguh Ara tanpa ia sadari.

Devan tersenyum miring, seperti nya gadis di pangkuannya ini sudah mulai terangsang.

Devan memutar posisi mereka dengan dirinya berada di atas Ara yang kini telentang di bawah kendalinya.

"Kak devan, mau ngapain?" Tanya Ara gugup.

"Kak, turun ih, berath—mmphh" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Devan langsung melumat bibir ranum Ara dengan rakus.

Ciuman mereka semakin dalam dan panas, ciuman Devan turun ke leher mulus milik Ara. Ara mendongakkan kepalanya memberikan akses pada Devan.

Tangan Devan merambat memasuki kaos yang di pakai Ara, tangannya mengelus-elus dua gundukan yang ia cari daritadi. Devan meremas salah satu gundukan itu, membuat Ara mendesah nikmat. "Ahhhh kakhh..."

Tangan Devan menyelinap masuk kedalam bra milik Ara, ia meremas gemas payudara besar milik Ara.
"Araah.." desis devan.

Ara menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya, ia menuntun Devan untuk menciumnya. Ara melumat bibir Devan, Devan membalas ciuman dari Ara.

Tangan Devan mengangkat baju Ara hingga terlepas, ia memangku Ara tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ia masih meremas-remas payudara Ara, membuat Ara menggelinjang kenikmatan.

"Ke kamar, yah.." ucap Devan menahan nafsu nya, sungguh ia tidak kuat saat ini.

Ara dengan setengah kesadarannya, ia mengusap wajah Devan dan mendekatkan wajahnya ke telinga laki-laki itu. " Kak... Kak Devan kan udah janji gak bakal ngelakuin itu sebelum kita bener-bener udah nikah." Ucap Ara lembut.

"Aku gak kuat, Ra." Adu Devan dengan mata sayu nya.

"Tahan kak, Minggu depan kan kita nikah, ya?" Devan mengangguk pasrah. Terpaksa lah kali ini adiknya bermain dengan si licin.

"Berarti aku main solo lagi, dong." Lirih Devan terlihat menyedihkan.

Ara tertawa kecil. "Ga papa kak, nanti Minggu depan kan main sama Ara." Ucapnya sambil mengelus rambut Devan.

"Gak mau tau, nanti malam pertama kita main sampe subuh!"  Ara membelalakkan matanya.

"Ihh, gak mauu"

Devan menyengir. "Araaa, terus sekarang itunya aku gimana?" Rengek nya. Di bawah sana adik nya sudah sangat tegang.

Ara menggigit bibirnya dalam, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. "Mmm, nen aja ya, kak." Tawar nya.

Ia tidak berani menawarkan hal yang lebih, karna selama ini mereka hanya melakukannya sampai nen saja. Untuk urusan adiknya Devan, biarlah itu menjadi hak nya sabun saja saat ini.

Devan mengangguk, setidaknya ia dapat jatah nen saat ini. Devan baru saja ingin membuka kaos Ara, namun di tahan oleh Ara. "Kenapa?" Tanya nya bingung.

my couple 18+ [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang