Milan - Bukan Aku

744 219 105
                                    

Sempat salah publish, Bor. Ini lanjutan yang benul, ya. Enjoy

______

“Arsenal taiiiiik. Gue, kan, yang nunggu duluan!”

Aku baru selangkah keluar kamar ketika teriakan Chelsea menggema. Sumbernya dari lantai satu, kuterka lokasinya depan kamar mandi. Ada gedoran pintu serta teriakan yang lagi-lagi memecah telinga.

Aku menghela napas sambil balik badan. Kembali ke kamar sebab giliranku ternyata masih sangat panjang. Arsenal yang baru masuk sementara Chelsea harus menunggu, itu jelas bukan perkara singkat. Dua adikku itu sedikitnya akan menghabiskan satu jam perorang di kamar mandi.

Hidup bersaudara keputusannya hanya dua. Jadi yang pertama atau terakhir. Misalnya dalam hal mandi. Kalau mau mandi dengan tenang maka harus bangun paling pertama atau yang terakhir. Dan hari ini kebetulan aku bisa bersantai lebih lama di kamar.

Aku hendak membunuh waktu dengan ponsel tapi kemudian gerakanku terhenti. Jantungku berdebar lebih cepat, darahku pun berdesir kuat. Jangan-jangan semua orang masih mencurigaiku. Atau mereka tetap menuduh bahwa aku memang bersalah.

Tidak. Kataku pada diri sendiri. Mereka tidak ada di tempat kejadian perkara. Polisi pun masih dalam proses penyelidikan. Belum ada kesimpulan. Lagipula aku tidak bersalah. Hanya sedang apes karena ada di sana saat Gibran tewas.

Aku menelan ludah dan merasakan bulu kuduk meremang. Kata tewas terasa mengerikan. Yang lebih parah lagi, aku seperti terlibat. Oh, ini seperti mimpi buruk!

“Anda yakin hanya ada Vishal saat Anda sampai?” Dua hari lalu pria muda berkaca mata bertanya penuh selidik. Memang beda kalau anak orang kaya. Begitu ada kasus langsung dibantu orang tua. Padahal belum ada penetapan dari pihak berwajib, tapi ayah ibunya langsung antisipasi dengan mencari orang untuk membela anaknya. Keren juga ortunya si Vishal.

“Ya,” jawabku pendek.

“Informasi mengatakan bahwa Gibran sempat mabuk dan ngelantur.”

Saat dia mengatakannya, dadaku bergemuruh. Aku merasa lebih baik lenyap saat itu juga. Ditelan bumi atau apapun itu. Dia bersikap seolah-olah tahu sesuatu.

“Dia mabuk, kami semua tahu itu. Sudah, ya. Bel sebentar lagi berbunyi. Saya harus makan sebelum kembali ngajar.”

Aku langsung angkat kaki di hadapannya. Jantungku terus berdebar, membuatku sesak. Bulir keringat menjejak di dahiku. Tanganku juga gemetar cukup cepat.

Aku memang mengalami perasaan tidak menentu setelah kejadian itu. Terutama resah dan panik. Kadang aku juga memimpikan kejadian tersebut sampai aku terbangun di tengah malam. Tolong jangan berburuk sangka dulu. Aku resah bukan karena takut ketahuan menghabisi satu nyawa. Tidak! Bukan itu karena aku memang tidak bersalah.

Aku merasa resah karena orang-orang mulai menaruh atensi kepadaku. Bertanya ini itu. Mengorek informasi dalam-dalam. Aku paling tidak suka itu! Aku tidak mau tahu urusan orang, aku pun tidak mau orang lain tahu urusanku.

Getar ponsel membuatku terperanjat. Ada pesan masuk. Nama pengirimannya membuat senyumku terurai. Sensasi kupu-kupu yang menggelitik perut langsung terasa.

Sayang, aku kangen.
Ketemuan yuk

*
*
*

Sebelum mengenalnya, hatiku amat tertutup terhadap dunia romansa. Sedari kecil aku tidak begitu mengenal cinta. Mungkin hal ini dampak dari perilaku Ayah. Karena manusia itu pula stigmaku terhadap kaum adam amat buruk. Bagiku, lelaki adalah sejenis makhluk menjijikan yang sepatutnya tidak diciptakan. Yang ada di pikiran mereka hanya seks, kepuasan, dan diri sendiri.

They Did ItTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang