[11]

33.6K 1.1K 21
                                    

Happy reading!! ^^

Setelah menyelesaikan kegiatan menyusu-menyusui, mereka berdua terlelap tidur. Kepala Vano yang berada di atas dada Naya dibiarkan seperti itu namun Naya sudah menutup payudaranya dengan kaos oversize yang ia kenakan.

Saat mereka tidur tiba-tiba ada yang membunyikan bel rumahnya, Naya memindahkan kepala Vano ke bantal di sampingnya lalu berjalan menuju pintu rumahnya untuk mencari tau siapa yang bertamu sore-sore begini.

"eh mama ngagetin aja, kok ngga ngabarin Vano atau Naya kalo mau kesini?" ucap Naya yang baru saja membuka pintu dan ternyata tamunya itu mama Nia, mamanya Naya.

"ish tadi mama udah nelfon kamu sama Vano juga tapi gaada yang dibales, ngapain aja lo lo pada"

"tadi cape pulang sekolah abis mandi langsung tidur, gaada yang pegang hp ma. Yaudah ayo masuk aku bikinin minum dulu, pasti haus kan?"

Ibu dan anak itu berbincang-bincang sampai waktu maghrib tiba. Naya membangunkan Vano yang ada di kamar untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

"Van bangun, udah maghrib kita sholat dulu. Ada mama Nia juga mau nginep disini"

"mmm iya sayang 5 menit lagi," Vano yang sudah setengah sadar itu mulai meregangkan otot-otot badannya.

Mereka semua menjalankan ibadah sholat maghrib secara berjamaah, dengan Vano sebagai imam, mama Nia dan Naya sebagai makmum. Menantu yang baik dan taat pada agama, tapi mesum maklum keknya bagi cowo.

"Mama tadi jam berapa sampe sini?"

"tadi jam 5an kalo ngga salah, dianterin pak parjo. Mama iseng main main kesini nengokin kalian" Pak Parjo itu supir keluarga Naya.

"oiya ma nanti kamar yang satunya aku bersihin dulu, biar bisa buat tidur mama" ucap Vano kepada sang mama mertua.

"makasih ya sayang"

"iya ma sama-sama"

"mama bantuin Naya masak di dapur aja ya buat makan malam, kamu bersih-bersih sendiri gapapa?"

"iya gapapa ma santai aja, ini cuma sedikit kok yang perlu dipindahin"

Kali ini makan malam terasa berbeda karena ada mama, jadi tambah rame. Mama bahas ini itu dari ujung sana sampe ujung sini gaada abisnya.

"ini kalian berdua mau bulan madu ke mana rencananya? kalo udah ada tempat dan waktu yang pas biar mama rembug bareng papa mama Vano juga"

"gimana kalo bulan madunya pas liburan akhir semester setelah UN, itu kan lumayan lama jadi bisa buat bulan madu. Tapi kalo tempatnya kita belom tau mau kemana"

"Naya pengennya mau bulan madu kemana Nay? Siapa tau Vano juga setuju sama keputusan kamu"

"kalo Naya sih lagi pengen ke pantai, paling ngga tu ke lombok atau karimunjawa"

"Vano setuju ngga?"

"Vano setuju setuju aja sii ma, ke pantai atau ke manapun Vano juga mau"

"yaudah berarti tinggal nentuin di lombok atau karimunjawa nya"

"iya ma biar Naya liat tempat tempatnya dulu dari internet nanti"

Semua telah menyelesaikan makan malamnya, Vano membantu meletakkan pring-piring kotor ke atas wastafel lalu Naya yang mencucinya.

"sayang, kamarnya udah selesai dibersihin kan?" tanya mama kepada Vano.

"udah kok ma, tas pakaian mama juga udah Vano taro di kamar"

"kalo gitu mama duluan ke kamar ya,"

"oke ma" jawab Vano dan Naya.

Naya sudah mencuci semua piring, sendok, garpu, wajan, dan alat-alat lain yang kotor. Kini Vano dan Naya berada di kamar mereka.

"Nay aku gabut banget tau, main apa gitu yuu. Eh kamu kan punya ular tangga yang jadi satu sama monopoli itu kan, ayo main itu aja!"

"bentar aku cari dulu, udah lama ngga aku mainin. Seingetku tuh aku taro di tas bareng novel novel, nah ini dia" seru Naya yang telah menemukan sekotak peralatan main monopoli dan ular tangga di tasnya.

"ayo di bawah aja sini, mana aku siapin alat-alatnya. Kita main ular tangga aja ya yang gampang ngga usah bagi-bagi uang"

"oke aku yang warna merah, kamu yang biru Van"

"oke kita mulai, yang kalah dapet hukuman cubit hidung biar mancung" mereka suit untuk menentukan siapa yang main duluan.

Masih di waktu yang sama, mama keluar kamar untuk mengambil minum di dapur melewati kamar Naya dan Vano, saat lewat depan kamar mereka, mama mendengar seperti suara Naya yang merintih kesakitan. Apa jangan-jangan lagi bikinin cucu, pikir mama Nia.

Mama Nia mengendap-endap mendekati pintu kamar Naya lalu menempelkan telinganya untuk mempertajam pendengaran.

"ouh ouh Van pelan-pelan ih sakit banget," Naya mengelus hidungnya yang dicubit Vano karena ia kalah bermain ular tangga ronde 1.

"maaf maaf jadi merah gini, ayo lanjutin lagi"

"ngocoknya pelan aja sayang, itu lubangnya kamu tutupin pake telapak tangan biar ngga keluar ke mana mana" suara Vano yang mengingatkan Naya agar mengocok dadu yang ada di dalam ember dengan benar.

Vano kembali mencubit hidung Naya karena kalah yang kedua kalinya.
"ahh ahh shhh sakit banget Van, pake dua jari gini kenapa sakit banget sih. Awas aja kalo sampe keluar darahnya"

"ngga bakal keluar darahnya sayang,"

"kalo gini enak ngga Van?" tanya Naya sambil memijat bahu Vano.

"nahh kerasin lagi Nay, harus pake tenaga biar makin kerasa enak"

"ngga ah, keenakan kamu. Mmhhh geli geli geli Van, stop!" ucap Naya saat Vano tiba-tiba menggelitiki pinggang Naya.

Masih dengan mama Nia di depan kamar, "ih mainnya pada hebat-hebat gitu sampe sakit, enak, geli sahut sahutan. Dasar anak muda kalo main gatau waktu, baru juga jam 8," mama Nia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berlalu menuju dapur.

"udah ah hidung aku udah sakit Van, emang lagi apes kali ya daritadi kalah mulu, atau emang kamunya yang jago main ginian. Padahal dulu kalo aku main tuh menang terus"

"iya iya udah kesana duluan, ini biar aku yang beresin"

Mereka berdua sudah berbaring di ranjang saling berhadapan.

"Nay"

"hmm"

"kenapa cantik banget sih" ucap Vano seraya memajukan wajahnya mendekati Naya lalu mencium bibirnya.

"manis" lanjut Vano.

Pipi Naya memerah akibat perilaku Vano yang tiba-tiba. Salting bukan main ya kan, siapa yang ngga salting kalo digituin ㅠㅠ

"y-ya aku gatau, kan aku udah gini dari lahir"

"ih ih ih pipinya merah gitu lucu tau ngga, masa cuma digituin udah salting" Vano mencubit pipi Naya gemas.

"gatau ah" Naya membalikkan badannya membelakangi Vano.

Vano mendekatkan diri ke arah Naya lalu memeluknya dari belakang, menelusupkan kepalanya di ceruk leher Naya. Menghirup aroma shampo strawbery dari rambut Naya yang sangat ia sukai, apalagi aroma tubuh Naya yang sudah harum tanpa menggunakan parfum.

"tidur yang nyenyak cantiknya Vano" bisik Vano di dekat telinga Naya.

"hmmm" Naya hanya berdeham singkat sambil mengusap lembut tangan Vano yang melingkar di pinggangnya.

Next
.
.
.
.
.
.
TBC yuhuuu

GATAU GAJELAS BANGET GUE NULIS PAAN?!?!?

Ini aku terlalu rajin up kali ya, soalnya pengen cepet cepet selesein ni cerita trus buat cerita baru lagi yeay.

Jangan lupa voment tsay!! see you👋

Baby Boy || AlvanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang