[O6]

43.5K 1.4K 25
                                    

Happy reading!! ^^

Vano masih belom bisa tidur daritadi, padahal udah ditinggal Naya beberes rumah berjam jam. Saat Naya kembali ke kamar, ia melihat Vano yang tengah melamun menatap langit-langit kamarnya.

"masih belom bisa tidur? sini bentar deh." Naya mengecek suhu badan Vano yang ternyata masih panas, sama sekali belum mereda.

"tuh kan masih panas, emang dipaksain tidur masih gabisa juga?"

"ya gitu udah daritadi masih gabisa tidur, tapi pusingnya udah lumayan berkurang sih."

Setelah itu Naya hanya bersantai santai ria duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya.
....

"Nay"

"Nay"

"Nay"

"hmmm"

"Nay"

"APASIIII"

"Nay mau ini boleh ngga?" ucap Vano memohon kepada Naya sambil menoel noel bagian dada istrinya itu.

"ngga ngga, apaan yang ada enak di lo rugi di gue." gerutu Naya menanggapi bayi besarnya itu, seenak jidatnya grepe grepe sembarangan.

"ih kok gituu, jadi istri tu harus nurut sama suami."

"kalo suaminya macem lo mah ogah gue."

Vano yang mendengar sang istri berkata seperti itu langsung membalikkan badannya tidur membelakangi Naya bermaksud ngambek agar dibujuk dan dituruti permintaannya oleh Naya.

"dih pundung."  Ekspetasi Vano tak seindah realitanya, pasalnya Naya malah lanjut memainkan ponselnya.

Tapi kalo Vano sok ngambek gini kan malah ngga dapet apa apa, jadi dia memutuskan untuk membujuk Naya saja, biar Naya mau menurutinya.

"Nay ayolah, kalo berbuat baik kepada suami kan mendapat pahala. Jadilah istri yang baik wahai sayangku."

Naya berpikir sejenak, bukankah ini memang kewajiban ia sebagai istri mematuhi suaminya? Di malam pertama saja Vano tidak memaksanya untuk melakukan apa yang biasa pengantin baru lakukan. Tau lah ya ngapain tuh pengantinnbaru.

Vano memang sabar menunggu Naya sampai kapan pun Naya siap untuk itu, ia tidak memaksakan kehendak Naya.

"yaudah" putus Naya pada akhirnya.

"HAH?!?! Yaudah apa?" ucap Vano sok gatau apa maksud omongan Naya tadi. Padahal ia hanya menggodanya.

"y-yaudah itunya."

"itunya apa sayang, hmmm?"

"tadi katanya mau ini." Naya memandang dadanya.

"ini apa sih"

"oh kalo gamau yaudah"

"aaaaa iya iya mauu"

"eh tapi kan punya gue gaada isinya, ngga usah lah ya. Kan ngga enak kalo gaada isinya."

"gapapa sayang, obat alami itu namanya. Nanti kan cepet sembuh, percaya deh."

Dengan ragu dan sedikit deg-degan Naya mulai membaringkan tubuhnya menghadap Vano.

"ih maluuu, ngga jadi ah"

"heh gaboleh gitu, harus jadi."

Naya mulai mengangkat sedikit bajunya hingga terlihat perut putih polosnya itu lalu menutupnya kembali.

"loh kok ditutup lagi sii."

"gue malu Vanooo, first time buka baju di depan lawan jenis."

"ish gapapa ayo, gue aja yang buka deh." ujar Vano tak sabar.

Baby Boy || AlvanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang