[O3]

51.2K 1.4K 25
                                    

Happy reading!! ^^

Malam ini juga turun hujan yang lumayan deras disertai petir, menambah kesan mencekam dan menakutkan. Vano memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Naya yang tidak tertutup rapat itu. Perlahan lahan ia melangkahkan kaki masuk untuk menyelidiki suara wanita yang membuat bulu kuduk Vano merinding.

"YA AMPUN NAYAAAA ASTAGA!! bikin jantung gue marathon lo, malem malem gini nangis kirain mbak kunti ternyata lo nangisin oppa oppa korea lo itu." Vano memekik tertahan karena sudah larut malam, takut membangunkan anggota keluarga Naya yang tidur.

"mau gimana lagi, ini dramanya aja bikin terharu. Padahal gue juga udah nahan nahan suara gue biar ngga ganggu yang pada tidur."

"itu juga pintu kamar ngga ditutup rapet, suaranya kan bisa sampe luar."

"ih yaudah sih emang dasarnya lo penakut cuma denger suara orang nangis aja langsung gemeteran"

"siapa yang ngga merinding coba jam segini denger suara orang nangis, suara cewe lagi. Dikira kan mbak kunti nangis nangis arwahnya belom tenang"

"iya iya maaf, udah sana lo keluar. Ganggu aja orang lagi menghayati film malah tiba-tiba muncul sambil teriak." usir Naya sambil mengelap ingus menggunakan tisu.

"ih jorok banget sih lo, noh liat kamar lo udah kek tempat sampah. Tisu dimana mana, nih juga kamar berantakan amat sii."

"biarin wle, kamar juga kamar gue. Ngapain lo ngurusin idup idup gue, sono keluar penakut." ejek Naya. Vano menyumpah serapahi Naya dengan suara yang sangat pelan hampir berbisik.

Merinding mendengar suara tangisan wanita di jam segini dibilang penakut gilak! sini yang berani kek gitu adepin gue sekarang dah, batin Vano.

Saat Vano kembali ke kamar yang ada di sebelah kamar Naya tiba-tiba listrik padam, mungkin gara-gara kesambet petir atau gledek yang mengglegar itu. Naya yang terkejut langsung keluar kamar menghampiri Vano di kamar sebelah.

"Van van sumpah gue takut van ini kenapa tiba-tiba mati lampu sih, mana gledeknya gede banget lagi." Naya panik memeluk tangan Vano.

"dih tadi ngatain penakut, sekarang yang penakut siapa coba. Cuma mati lampu ama gledek gini aja takut."

"itu kan beda, ini gelap gue gabisa liat apa apa. Kalo tiba-tiba ada yang dorong gue dari belakang gimana, takut lah gue."

JEDERRR

"AAAA VANO PLIS GUE TAKUT!!!" Naya berteriak langsung refleks memeluk Vano.

"alah modus lo, bilang aja mau peluk gue. Pake alesan takut gelap lah, takut gledek lah."

hiksss..hiksss...hikss

"eh eh kok nangis sih, yaudah terserah lo mau apain gue tapi jangan pake nangis, ntar mama denger dikira gue apa apain lo lagi."

"gue takut banget van, plis jangan ke mana mana." ucap Naya saat Vano bergerak ingin mencari lilin atau lampu agar ada sedikit penerangan.

"iya iya ini gue sambil nyari senter atau lilin gitu. Biasanya pada nyimpen lilin atau senter dimana dah."

"i-itu biasanya disimpen di laci nakas samping tempat tidur"

Vano berjalan agak tergopoh-gopoh menuju nakas karena Naya terus menggelayuti tubuhnya. Setelah dicari cari ternyata di situ juga terdapat lampu emergency yang lumayan besar. Ia menyalakan lampu emergency tersebut lalu meletakkannya di atas lemari agar tidak terlalu terang.

"tuh udah lumayan terang, sekarang lo mau gimana?" Vano melepaskan pelukan Naya dari tubuhnya.

"ya gue udah ngantuk, tapi masa gue tidur di kamar sendirian."

"hhhh yaudah lo tidur sini, biar gue tidur di sofa." mereka membaringkan tubuh masing-masing dengan Naya yang tidur di ranjang dan Vano di sofa.

15 menit kemudian, Vano sudah berada di alam mimpi. Namun tidak dengan Naya, ia belum bisa tidur karena hujan masih saja mengeluarkan petir yang bersahut-sahutan membuat Naya takut.

Naya membolak-balikkan tubuhnya gelisah, selama 1 jam ia masih belum bisa tertidur. Perlahan Naya berjalan menghampiri sofa dimana Vano tidur. Gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh Vano.

"Vanooo bangun dong, gue gabisa tidur. Gue masih takut hiks hiks..."

"aaarrrghhh ganggu orang tidur aja lo, apaan?!?!"

"temenin gue sampe gue tidur ya, plis van gue ngantuk tapi gabisa tidur."

"hu yaudah iya cepetan sana tidur. Gue tungguin 10 menit kalo lo ngga tidur ya terpaksa gue tinggal tidur lagi."

"aaaaa iya iya ini gue tidur sekarang." Naya memejamkan mata menghadap sofa agar dapat tertidur. Ternyata dugaan Vano benar, setelah 10 menit berlalu nafas Naya mulai teratur menandakan bahwa gadis itu tertidur.

"kalo dilihat lihat cantik juga lo kalo diem anteng begini." ucap Vano sembari membaringkan tubuhnya kembali di atas sofa dan tertidur lelap.

《~~~》

Sinar matahari menerpa wajah cantik Naya, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar membuat keduanya terbangun. Vano berjalan ke arah pintu dan membukanya, ternyata yang mengetuk pintu tadi adalah mama Nia.

"eh Vano, Naya tidur di sini ngga ya. Tadi mama samperin ke kamarnya kok kosong gaada orang." tanya mama Nia.

"iya ma itu barusan bangun juga si Naya. Tadi malem mati lampu, dia ngga berani tidur di kamar sendirian."

"yah kok Naya tidur di sini, trus kamu tidur di sofa Van?" ucap mama Nia melihat ada bantal di atas sofa.

"iya ma, gapapa kasian juga Naya di kamar sendirian." Vano melirik ke arah Naya yang sedang melamun mengumpulkan nyawa.

"yaudah kalian abis mandi langsung turun ke bawah ya, kita sarapan bareng-bareng"

"okee" ucap keduanya sambil mengacungkan jempol.

Naya menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya, hanya sekedar cuci muka dan gosok gigi lalu berganti baju. Naya memang termasuk sekte penganut prinsip mandi sehari sekali saat sedang libur sekolah.

Hari minggu kali ini hanya diisi dengan bersantai-santai di rumah, waktunya berkumpul dengan semua anggota keluarga. Nonton film bersama atau apapun itu, yang penting tidak membosankan.

Next
.
.
.
.
.
.
TBC yuhuuu

ternyata makin kesini makin ngga jelas, AHAHAHA yamaap. Lagi semangat up nih, kalo besok besok mah gatau sih ya. Ini baru awalan

Baby Boy || AlvanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang