26. Untuk Mendekap Diri Sendiri

52K 10.5K 3.5K
                                    

Katanya, kita harus tahu caranya memegang payung untuk orang lain
Tapi untuknya, aku ingin membuatnya basah kuyup. Sampai dia tahu rasanya menggigil

○○○》♡♡♡《○○○


Adinata tahu bahwa patah hati adalah hal yang lumrah. Ketika ia kehilangan cinta, bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti dia akan bertemu dengan cinta yang baru. Hidup terus bejalan, tidak peduli seberapa sering ia merasakan patah. Minggu sore masih seramai biasanya. Anak-anak komplek bermain di halaman rumah dengan teriakan serta gelak tawa dari ujung blok sampai ke ujungnya lagi. Beberapa di antaranya adalah balita yang baru saja selesai mandi dengan bedak tebal--hanya pakai singlet dan kolor, sibuk berkejar-kejaran dengan pengasuh mereka hanya untuk sesendok makanan.

Dari jendela kamarnya, Nana menemukan Cetta dan Jaya sedang bermain bulu tangkis di halaman. Sementara itu, ia bisa mendengar bagaimana Bang Tama sibuk berdiskusi dengan Kak Ros. Awalnya mereka hanya duduk berdua sambil menikmati bakwan sayur dan dua cangkir kopi, tapi lama-kelamaan obrolan menjadi seputar panasnya kota Jakarta akibat perubahan iklim yang ekstrem, isu tenggelamnya kota tersebut dalam beberapa tahun ke depan, sampai konspirasi covid dan keluhan terhadap kebijakan pemerintah. Tidak meratanya pelaksanaan vaksin bahkan membuat keduanya seperti dua pegawai pemerintahan yang sedang serius memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

Dan ketika Nana memutuskan untuk keluar dengan pakaian yang rapi, kedua orang itu menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Motorku kemana?" Ia baru menyadari bahwa kendaraannya tidak ada dalam garasi. Karena seharian ini dia memang tidak kemana-mana. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan bermain game setelah Bang Willy pamit pulang. Dan sekarang, ketika Nana merasa energinya benar-benar sudah pulih, motornya justru tidak ada.

"Dibawa Jovan," kata Kak Ros, "Pakai mobil kakak aja."

Nana mendengus. Padahal dia mau ke Rumpi, datang membawa mobil jelas akan membuatnya repot. Apalagi ada banyak sekali jalan-jalan sempit yang harus dia lewati. Kalau dia membawa mobil, maka dia harus memarkirkan mobilnya di Indomaret dan berjalan kaki cukup jauh.

"Pakai motor cetta aja deh." Katanya kemudian.

"Anaknya mau les." Sahut Bang Tama.

"Kan ini hari minggu. Les apaan hari minggu?"

"Jumat sama sabtu kemarin dia absen, makanya minta dijadwalin minggu." Kata Kak Ros. Lalu saat laki-laki itu merogoh saku celananya, Nana hanya bisa menghela napas panjang. "Udah, pakai ini aja."

Akhirnya, Nana tidak punya pilihan lain selain menangkap kunci mobil yang dilemparkan Eros dan berjalan ke arah garasi dengan langkah lunglai. Dan sama seperti hari-hari biasanya, mobil kakaknya selalu bersih dan wangi. Kondisinya selalu terlihat mulus, persis saat pertama kali mobil itu dibeli. Maklum, di rumah, Eros adalah orang yang paling rewel kalau keadaan sekitar terlihat berantakan. Dia tidak memiliki OCD, tapi cukup sering mendumal jika ada beberapa barang di rumah yang terlihat berantakan. Maka seperti menyetiri dirinya sendiri, Eros akan menata semuanya hingga dalam keadaan yang super rapi.

Nana bahkan mengernyit saat ia menemukan lipstick berwarna merah muda di dasboard mobil. Punya siapa lagi kalau bukan punya Mbak Rania. Bahkan Nana nyaris tidak menyangka dengan deru halus mesin mobil ketika menyalakannya. Dia sejarang itu menggunakan mobil Eros. Makanya ketika ia memakainya sesekali, ia tak menyangka bahwa Eros akan merawat mobilnya sebaik ini.

"Mobil aja dikasih perawatan kayak gini, apalagi anak bininya nanti. Buseeet, alus bener." Anak itu bahkan geleng-geleng kepala.

"Yak, terus! Terus! Lurus!"

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang