BAB 13 : Berteman

41.1K 4.3K 28
                                    

"Saya minta maaf" ucap Arsen sambil menatap mata Nayara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Saya minta maaf" ucap Arsen sambil menatap mata Nayara.

Nayara mengerutkan alisnya mendengar Arsen yang tiba-tiba meminta maaf padanya. Nayara berpikir sebentar dan mengingat pertemuannya dengan Arsen hari ini. Seketika Nayara teringat tentang kejadian tadi di rumah Arsen ketika ingin pulang.

Apa ini permintaan maaf karna udah maksa nganterin gw pulang?

"Karna tadi maksa nganterin saya pulang? Kalau itu udah saya maafin kok" balas Nayara.

"Bukan"

"Terus untuk apa kamu minta maaf?" tanya Nayara karna tidak menemukan alasan lagi kenapa Arsen tiba-tiba minta maaf padanya.

"Untuk yang terjadi saat kita SMA" jawab Arsen.

Ohh..

Nayara terdiam sesaat sebelum membalas, "Oh. Untuk kejadian yang di SMA. Udah saya maafkan. Sekarang tolong berikan kunci mobil saya. Saya capek mau istirahat dan anda juga harus segera pulang"

Nayara menadahkan telapak tangan kanannya meminta kunci mobil. Tapi bukannya memberikan benda yang Nayara pinta, Arsen malah meminta maaf sekali lagi.

"Saya benar-benar minta maaf"

"Iya, kan tadi saya sudah bilang, sudah saya maafkan. Jadi cepat kembalikan kunci mobil saya" balas Nayara kembali meminta kunci mobilnya.

"Kamu benar-benar sudah memaafkan saya?"

Nayara menggeram pelan sebelum menjawab, "Iya Bapak Arsenio Rahagi Aldric"

"Saya bukan Bapak kamu, kita hanya beda 1 tahun" protes Arsen.

Nih orang kenapa sih? Salah makan yah tadi? Kok jadi bawel kayak gini?

"Ck, terserah. Sekarang cepat kembalikan kunci mobil saya. Saya capek, mau istirahat"

Lagi-lagi bukannya mengembalikan kunci mobil Nayara, Arsen malah kembali bertanya. Dan pertanyaannya membuat pupil mata Nayara membesar sempurna.

"Jadi apakah saya boleh berteman dengan kamu setelah ini?"

"BERTEMAN?!?"

"Iya. Berteman. Sama kamu."

Mereka terdiam dengan posisi saling menatap satu sama lain. Mereka mencoba membaca pikiran satu sama lain lewat tatapan mata. Merasa sudah terlalu lama mereka terdiam dan saling tatap, Arsen berdeham dan mulai berbicara lagi.

"Jadi?"

Nayara pun tersadar, lalu membalas Arsen dengan balik bertanya, "Jadi apa?"

"Kamu mau berteman dengan saya?"

Sudah tiga kali Arsen mengajak Nayara berteman. Arsen gemas melihat Nayara yang masih terlihat bingung dan tidak mengerti padahal Arsen sudah mengutarakannya secara eksplisit sebanyak tiga kali. Bukannya mendapat jawaban, Arsen malah mendapati sebuah tangan menyentuh keningnya, seperti sedang mengukur suhu badannya.

"Gak panas kok"

Arsen menghembuskan napasnya kasar.

"Yah memang, kan saya tidak sedang sakit" sahut Arsen dengan nada suara yang mulai naik.

"Kalau gitu kenapa kamu aneh banget? Tiba-tiba ngajak temanan"

"Aneh? Aneh dari mananya? Saya hanya ingin berteman dengan kamu. Segitu sulitnya kamu menjawab ajakan saya?"

"Justru itu anehnya. Kamu tiba-tiba mengajak saya berteman. Kamu mau jadiin saya bahan taruhan lagi yah?" tanya Nayara sambil menyipitkan matanya.

"Astaga. Segitu buruknya saya di mata kamu? Tidak, saya tidak menjadikan kamu bahan taruhan. Saya benar-benar ingin berteman dengan kamu. Sampai di sini mengerti?"

Saat ini Nayara sedang meneliti Arsen. Mencari tau tujuan Arsen yang sebenarnya. Tapi Nayara tidak menemukan apa-apa.

"Untuk yang keempat kalinya saya bertanya, kamu mau menjadi teman saya?"

"Tidak."

Arsen kembali menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menahan emosi yang akan meledak sebentar lagi jika wanita di depannya terus membuatnya kesal dengan tingkah lakunya.

"Kenapa?" tanya Arsen tenang.

"Karna saya gak mau berteman sama kamu"

"Kenapa?"

"Kan tadi saya sudah bilang, saya gak mau ber-"

"Kenapa kamu gak mau berteman dengan saya? Karna saya pernah jadiin kamu bahan taruhan? Bukannya tadi kamu bilang sudah memaafkan saya? Berarti sebenarnya saya belum sepenuhnya kamu maafkan karna sekarang kamu tidak mau berteman dengan saya" tuduh Arsen.

Nayara yang merasa tertuduh mencoba membela dirinya.

"Sudah memaafkan bukan berarti saya bisa berteman dengan kamu. Lagian kamu kenapa ngotot banget sih pengen temanan sama saya?"

Sekarang giliran Arsen yang terdiam. Dia juga bingung kenapa dia segini maksanya ingin berteman dengan Nayara. Setelah beberapa menit terdiam, Arsen menemukan jawabannya.

"Saya ingin menebus kesalahan saya sama kamu"

"Hah?" Nayara tidak mengerti.

"Saya ingin berteman dengan kamu karna saya ingin menebus kesalahan masa SMA saya kepada kamu" jelas Arsen.

"Kamu tidak perlu menebus kesalahan kamu. Saya sudah memaafkannya. Mending sekarang kamu berikan kunci mobil saya dan segera pulang. Saya mau istirahat. Kamu juga pasti lelah dan harus pergi ke kantor besok pagi"

"Jadi kamu tetap tidak mau berteman dengan saya?" tanya Arsen untuk yang kelima kalinya.

"Tidak"

"Tidak"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang