BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

Abel : Aduh Keluar!

11.7K 677 76

Kemarin menjadi hari yang bersejarah bagiku, selain terbitnya majalah FashionAbel edisi kedua yang dengan penuh syukur badanku muat nangkring di covernya, kemarin aku juga bertemu si tengil, Albi. Benar juga, dia yang aku lihat di restorannya beberapa waktu yang lalu. Dia masih kurus dan sifatnya tidak jauh berubah. Dia meminta maaf atas ketidakhadirannya saat aku di rumah sakit karena tersambar petir, dan karena sering memperlakukanku dengan buruk. Aku menerima maafnya, dengan persyaratan aku boleh makan sepuasnya di restorannya bersama Tulus selama sebulan. Dia dengan berat hati menyanggupi. Bangkrut ngga tuh Albi, entar?

Hari ini kami kembali disibukan dengan pendistribusian majalah kami. FashionAbel segera nangkring diberbagai toko buku dan toko-toko majalah emperan. Aku dengan bangga melihat wajahku sendiri di majalahku, walau aku tahu nantinya wajahku akan dijadikan gambar oret-oretan oleh anak iseng. Jadi bungkus gorengan, atau jadi tisu toilet, tapi kayaknya yang terakhir hanya untuk antimainstream saja. Bisa juga itu kerjaannya, haters. OMG! Aku tidak akan punya haters 'kan? Mereka hanya penggemar yang memandang dengan sisi lain saja, intinya kan sama-sama meduliin.

Gina dengan muka syok dan lemas seperti habis buang muatan sisa berbulan-bulan datang padaku. "Ndut! Giwit bingit!" katanya sambil mringis-mringis ketakutan.

"Ada apa?" tanyaku datar, padahal wajahku ngga datar pipiku terlalu menonjol.

"Didi dan Okta berantem, dan yang lain malah lemparin recehan ke mereka!" teriak Gina sembari menghentak-hentakan kaki.

"Apa?!" teriakku dengan heboh.

"Kurang, Ndut!" protesnya.

"Apa?!" teriakku lagi dengan lebih heboh dan melotot.

"Belum klimak, Ndut!" protesnya lagi.

"Apa?!" teriakku sembari mendelik memutar-mutar kepala kayak Trio Macan.

"Bagus, bagus!" pujinya. "Ayo ke TKP!" ajaknya.

Aku dan gina segera menuju ke TKP dan ternyata benar, Okta dan Didi tengah bertengkar hebat, mereka saling jambak dan dorong pukul dan saling adu hantaman. Aku seperti pahlawan kesiangan melerai mereka.

"Ada apa ini?" tanyaku dengan nada keras.

"Kautahu, Abel? Dia ini ingin merusak kita dari dalam!" kata Didi menyerocos.

"Jangan fitnah, kau benar-benar kejam mengatakan itu," sahut Okta.

"Ok, jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya," kataku sok bijak.

"Ribuan kopi majalah kita dikembalikan dari toko, gelombang protes sudah merebak di dunia maya. Kita dikatakan mempromosikan gaya hidup hedonis yang tidak bermoral," kata Didi menatap tajam pada Okta.

"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.

"Ini semua gara-gara Okta, dia yang mengusulkan tema itu, kita akan segera diserang oleh orang-orang yang terprovokasi," ungkap Didi.

"Jangan salahkan Okta, Di," kataku. "Bagaimanapun kita yang sama-sama telah menyetujui tema itu. Kita semua yang sama-sama menanggung akibatnya."

"Panggung akrobat?" tanya Didi bingung.

Aku segera merogoh saku dan memberikannya cottonbud. "Nih," kataku.

Didi mengkoreki kupingnya dan mendesah-desah nikmat. "Ah.. .ah... ah...."

Semuanya segera kembali bekerja sedangkan aku kebingungan. Aku sungguh bodoh tidak menyadari ini. Di media sosial majalahku dijelek-jelekan karena dianggap telah mempromosikan gaya hidup malas-malasan dan mode hedonis. Semua lembar majalahku edisi ini memang menampilkan model gendut dengan pakaian-pakaian mewah, tidak kusangka akan berakhir seperti ini.

"Ndut, ada stasiun televisi yang ingin mewawancaraimu, untuk progam gosip besok. Apa kau bersedia datang?" tanya Gina.

"Apa aku mau masuk tipi?!" pikirku dengan heboh. "Oh, segera siapkan jadwal saja, Gina," ucapku dalam realitanya.

Besoknya aku benar-benar gugup, aku harus tampil di televisi untuk pertama kalinya secara langsung. Aku tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan pembawa acara ajukan padaku. Aku juga tidak percaya diri dengan ide Gina dengan menyumpeli perutku dengan bantal agar aku kelihatan lebih gendut. Ya, sudah aku pasrah dan segera naik ke panggung acara itu di mana ada banyak penonton bayaran dan kamera.

"Selamat sore, Abel," kata Popon seorang wanita berjambul yang menjadi pembawa acara.

"Mama! Papa! Abang! Aku masuk tipi," teriakku ke kamera dengan agak heboh. "Oh ya, sore," jawabku menahan malu saat Popon melihatku dengan jijik.

"Silakan duduk," katanya.

Aku pun duduk dengan terus-terusan melambai-lampaikan tangan ke kamera.

"Abel adalah pemimpin di majalah mode FashionAbel . Kemunculan majalah mode untuk orang-orang berbadan besar ini menuai protes karena mempromosikan gaya hidup yang tidak semestinya. Gelombang protes telah dilayangkan di banyak media, kita akan berbincang-bincang selengkapnya dengan Abel setelah pesan-pesan berikut ini," kata Popon yang tidak begitu aku dengarkan. "Abel jangan cium-cium kameranya," teriaknya.

Walau Popon melarang, aku tetap menciumi kamera dari ujung ke ujung agar semua kamera kebagian ciumanku. Entah apa yang aku lakukan ini, aku hanya terlalu bahagia sudah bisa masuk tipi. Setelah semua kamera aku kasih ciuman hangat aku kembali duduk bersanding dengan Popon.

"Kembali lagi, di acara Hidung Popon! Kita akan langsung berbincang-bincang dengan Abel," katanya dengan sok heboh. "Abel coba ceritakan sedikit tentang awal-awal pembentukan FashionAbel!"

"Aku dan ibuku sangat menyukai mode. Kami bersama-sama dengan bantuan Ayah mendirikan FashionAbel, karena nama ibuku Sutirnah, jadi kalo namanya FashionSutirnah agak gimana gitu," jawabku singkat.

"Apasih tujuan FashionAbel sebenarnya?" tanyanya.

"Kami hanya mencoba memberikan kemudahan bagi sebangsa kami yang gendut dan berlemak memilih berbagai macam pakaian agar bisa fashionable seperti orang-orang kurus, lainnya. Kami juga ingin tampil cantik, tubuh kami bukan halangan untuk membuat kami bisa cantik," jawabku.

"Aku rasa kalian juga harus bisa diet dan mengatur pola makan agar bisa cantik, tidak hanya berpakaian saja," katanya.

"Ya benar. Aku tahu itu, tetapi diet hanya menunjukkan bahwa orang gendut adalah jelek. Semua orang membenci orang gendut, kami menjadi barang bully di mana-mana. Jika aku diet dan jadi kurus, maka masih ada jutaan orang gendut yang masih dibully, masih ada banyak sekali yang tidak percaya diri. Jika semua orang diet, semuanya akan menjadi kurus dan tidak ada lagi orang gendut, maka jika ada orang gendut lagi nantinya, mereka akan dicap aneh. Aku mewakili mereka di sini, agar mereka percaya diri. Aku gendut, aku besar, tetapi aku bisa cantik dan bisa menunjukkan lemak bukan halangan untuk sukses," kataku menggebu-gebu.

"Bagaimana dengan gelombang protes atas majalah Anda?" tanyanya.

"Pasti ada yang pro dan kontra di masalah ini. Kami hanya menawarkan mode pakaian sesuai tema setiap bulannya, bulan kemarin kami menawarkan mode pakaian sederhana dan sekarang pakaian mewah. Kenapa orang-orang hanya menilai sesuatu yang wah, padahal sebelumnya kamis sudah menawarkan kesederhanaan. Selera mode berbeda-beda, apa hanya orang kurus yang boleh tampil mewah dan yang gendut tidak? Kita semua sama," jawabku dengan menggebu-gebu lagi.

"Jadi Abel, kau memang ingin mempromosikan dan menunjukkan bahwa lemak bukan halangan, kalian masih bisa sukses walau berlemak, namun itu tidak sehat, banyak kasus obesitas berakibat buruk," kata Popon.

"Mindset orang sudah terpengaruh oleh media, semua orang gendut memang sudah dicap jelek. Kecantikan hanya dilihat dari wajah dan postur tubuh yang langsing. Pola makanku memang berlebihan dan aku sadar, tetapi aku hanya ingin selalu gendut seperti ini. Aku tidak ingin menjadi kurus karena semua orang akan melihat keberhasilanku menguruskan badan bukan keberhasilanku dalam mengembangkan FashionAbel," jawabku.

Semua orang bertepuk tangan padaku begitu juga Popon yang segera memelukku. Tiba-tiba semua hancur karena saat aku kembali melambaikan tangan ke kamera. Bantal yang ada di perutku keluar dan terjatuh dan semua orang memerhatikanku dengan terkejut. Aku malu bukan main. Apa aku akan dicap sebagai pembohong?

FashionAbelBaca cerita ini secara GRATIS!