🌙ㅣ8. Sekolah

58.3K 9.1K 296
                                    

''Terlalu awal mengetahui kebenaran terkadang tidak terlalu baik''

"Udah pada siap? Bulan mau sama siapa?" Anggara menatap semua anaknya yang sudah siap di depan rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Udah pada siap? Bulan mau sama siapa?" Anggara menatap semua anaknya yang sudah siap di depan rumah. Pakaian mereka sudah rapi, pertanda sudah siap dengan hari baru mereka sebagai keluarga baru.

"Sama kakak aja yuk?" ajak Alderion lalu ia menunjuk mobilnya yang sudah terparkir.

"GAK!" Alvano langsung ngegas, ia merentangkan tangannya menghalangi Rembulan dari Alderion. "Mending sama bang Vano aja, pake motor enak. Lagian kalau sama bang Rion, jalurnya juga beda."

Alderion melotot. "Tapi—"

"Sama abang Zero aja deh, biar asik pake mobil keren," ucap Alzero mencoba menengahi.

"Kalian diem dulu." Anggara terkekeh melihat Rembulan yang sekarang sedang menggaruk tengkuknya bingung. "Bulan mau sama siapa? Sama papa?"

"WHAT?! NO NO NO! Gak boleh! Papa gak ada di list!" tolak Alvano cepat. Kalau papanya itu ikut-ikutan, sudah jelas dong Rembulan akan memilih siapa?

Laila tersenyum melihat kejadian di depannya, ia mengusap bahu Rembulan yang ada di depannya membuat Rembulan menoleh padanya.

"Bulan mau sama siapa?"

Rembulan menggigit bibir bawahnya bingung, matanya menatap satu persatu lelaki di depannya, kecuali pada Alvaro karena lelaki itu sudah pergi sejak tadi.

Ah iya, ngomong-ngomong mereka semua akan berangkat melakukan aktivitas senin pagi mereka. Anggara yang akan ke kantornya, Alderion yang jadwal kuliah pagi, terakhir Alzero dan Alvano yang akan berangkat ke sekolah sama halnya Rembulan. Alzero, Alvaro dan Alvano akan berangkat ke sekolah yang sama dengan Rembulan, semalam Anggara membicarakan kepindahan mereka.

Sebenarnya itu semua membuat Rembulan sedikit panik. Di sekolahnya tidak ada yang tahu menahu soal Rembulan yang sudah menjadi saudara tiri keluarga Zanava. Bayangkan saja, bagaimana nanti hebohnya murid di sekolah?

Rembulan takut, bukannya ucapan selamat yang ia dapatkan, tapi malah makian atau mungkin ejekan yang ada.

Tidak mungkin 'kan seorang Rembulan harus menjadi salah satu bagian dari keluarga Zanava? Ia sangat berbeda dengan keempat keturunan Zanava, Rembulan sangat jauh berbeda dengan mereka.

"B-Bulan mau naik bus aja," ucap Rembulan membuat semua mata melotot.

"Lho? Bus?" Alvano memekik. "Gak banget ih, panas, terus harus sempit-sempitan. Gak enak banget."

Rembulan menoleh pada Anggara. "Paa, maaf ya, B-Bulan gak mau t-temen Bulan tau dulu."

Suasana mendadak hening, mereka terdiam saat mendengar ucapan Rembulan.

Laila merangkul Rembulan dengan pelan, ia tersenyum. "Kenapa?"

"Emm, i-itu ... Bulaan ...." Bagaimana Rembulan akan menjawab? Mana mungkin ia mengatakan kalau ia adalah siswi yang menjadi bahan bulian di sekolah, bagaimana jika semua orang tahu bahwa Rembulan mulai sekarang menjadi bagian keluarga Zanava? Bagaimana jika mereka semakin memojokan Rembulan? Atau lebih parahnya, satu keluarga bisa terbawa-bawa. Rembulan tidak mau menyeret keluarga Zanava ke dalam masalahnya.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang