25. Tentang Bumi, Rumpi dan Magandhi

45.4K 11.8K 3.2K
                                    

Kalau kita nggak bisa mewujudkan mimpi kita sendiri, kita bisa bantu orang lain mewujudkan mimpinya.

○○○》♡♡♡《○○○


Nana terkapar. Kadang hidup memang selucu itu untuk mempertemukan dirinya pada satu titik sedih dan satu titik bahagia dalam waktu yang bersamaan. Luka lamanya bahkan masih basah, tapi dia sudah harus ditimpa luka lagi.

Nomer whatsapp Gayatri sudah tidak aktif, katanya. Nana tahu karena sudah dua hari ini Jaya mengomel-ngomel kalau Mbak Aya tidak bisa dihubungi. Tanggal 15 agustus, Nana tahu bahwa gadis itu sudah pergi jauh. Dan Nana menyadari bahwa dia tidak memiliki kemampuan apapun untuk mengejarnya lagi. Ia seolah pasrah pada Sang Ilahi. Yang laki-laki itu lakukan saat ini adalah mengemasi kenangan-kenangan indah yang ia miliki bersama Gayatri untuk ia simpan rapat dalam sebuah kotak besar bernama usai.

Dan saat ini, Nana memilih untuk menikmati betapa pedihnya lebam-lebam baru dalam dadanya. Kalau langit-langit kamarnya bisa bicara, mungkin ia akan mengeluh sejak tadi. Bosan ditatapnya dengan pandangan paling nanar yang pernah ia punya.

"Setiap kematian selalu butuh peratapan, begitu pun cinta yang telah mati", kata Raditya Dika. Nana bahkan tahu, terlalu sulit bagi siapapun untuk lekas pulih dari patah hati. Bahkan sebadas jancuk apapun Jovan Akhal Raksi, Nana yakin bahwa kakaknya itu pasti pernah patah hati juga.

"Jadi ini yang kata Jovan calon orang sukses?" Nana terlonjak saat tiba-tiba, kepala Willy muncul dari celah pintu. Sambil menyengir lebar dan mata sipit yang perlahan menghilang. "Calon orang sukses apaan yang kerjaannya rebahan mulu?"

Nana bangkit, lalu terkekeh pelan, "Apa yang lo harapkan dari seorang mahasiswa di hari minggu? Lo mau gue ngapain? Ngukur panjang jalan dari Anyer sampai Panarukan?"

Lalu setelah membuka lebar pintu kamar Nana, Willy tergelak. Laki-laki itu duduk di kursi belajar, untuk akhirnya menatap Nana dengan pandangan ragu.

"Perasaan gue nggak enak nih," Nana tahu kalau Willy terdiam, apalagi dalam waktu yang cukup lama, artinya dia harus lari. Karena laki-laki bermata sipit itu pasti akan membicarakan sejarah musik yang membosankan, dan Nana terlalu malas untuk meladeninya hari ini.

Akhirnya, setelah berdecak dan menarik napas panjang, anak itu bangkit. Namun belum sepenuhnya ia turun dari kasur, Willy berkata dengan penuh kehati-hatian,

"Kalau gue datang ke sini buat ngomongin abang lo lagi, lo nggak pa-pa?"

"Bang Tama? Lo mau ngomongin dia soal apaan anjir? Di rumah ini cuma dia doang yang kagak punya aib. Kecuali kalau--"

"Yang gue maksud Sastra," kata Willy setelah itu. Benar-benar membuat Nana berhenti tertawa dan menatapnya dengan tatapan kosong. "Ngomongin Sastra, sama artinya dengan lo membasahi luka lo lagi pakai air jeruk nipis. Tapi kalau gue nggak ngomongin ini sama lo, gue nggak tahu lagi kapan waktu yang pas."

Nana terdiam. Begitu lama sampai laki-laki itu merasakan sekujur tubuhnya mati rasa. Perpisahannya dengan Gayatri berhasil membuatnya patah, tapi lebih parah dari itu, ada patah hatinya yang masih belum pulih. Dan benar apa kata Willy, membicarakan Sastra sama artinya dengan membuka kembali luka lama. Bahkan detik ini pun, Nana melihat dalam kepalanya sendiri bagaimana malam menyakitkan itu datang selayaknya mimpi buruk. Mimpi yang sialnya, abadi dalam kenyataan.

Dalam hujan deras, ia melewati jalanan yang basah. Di balik kemudi, Eros selalu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun begitu ia tiba di rumah sakit dan melihat bagaimana tubuh kakaknya nyaris remuk, Nana tahu, baik-baik saja adalah sebuah omong kosong. Sastra memang pulang, namun pulangnya dalam definisi yang berbeda. Sampai hari ini, Nana masih ingin mengingkari semuanya. Sampai akhirnya Willy datang, dan Nana kembali mendapati dirinya menjadi seperti dulu.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang