🌙ㅣ4. Acara

60.5K 9.4K 88
                                    

''Mendapatkan sosok baru itu tidaklah mudah. Apalagi hanya sebatas mengetahui, bukan mengenal''

Rembulan berdiri di tengah-tengah pasangan pengantin yang sedang berbahagia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rembulan berdiri di tengah-tengah pasangan pengantin yang sedang berbahagia. Hari sabtu, di sebuah gedung mewah yang disewa ini, Rembulan mengambil foto yang bisa dibilang foto keluarga barunya. Ada ayahnya yang baru, ibunya, dan juga dirinya sendiri.

Hari ini hari di mana ibunya melepas status kesendirian dalam hidupnya, ibunya sudah memilih pasangan sehidup sematinya untuk yang kedua kali. Rembulan tidak tahu ia harus merasakan perasaan seperti apa. Yang pasti ia malah campur aduk.

Terkejut, masih tidak menyangka, bahagia, terharu, semuanya bercampur dalam dirinya. Membuat Rembulan selama acara resepsi ini hanya mengangguk atau tersenyum canggung ke arah tamu-tamu yang berdatangan.

Rembulan memang tahu, tepat pada hari ini ibunya menikah, tapi Rembulan tidak menduga jika ibunya menikah dengan seseorang yang katakanlah jauh dari ekspektasi Rembulan. Pria yang sudah menjadi suami ibunya itu sangat terkenal dalam dunia bisnis, bahkan Rembulan mengenalnya karena selalu banyak berita mengenai perusahaan yang pria itu punya.

Rembulan kira namanya saja yang mirip, tapi ternyata orang itu memanglah orang sama dengan orang terkenal di kota. Bagaimana Rembulan tidak lemas saat mengetahui kebenarannya? Yah, Rembulan baru tahu kemarin, sebelum pernikahan ini berlangsung. Untung saja dirinya tidak langsung pingsan saat mendengar kabar besar ini.

"Rembulan?"

Suara serak juga berat membuat Rembulan menoleh ke arah kanan, sepasang mempelai sedang memperhatikannya.

"Eh, i-iya om? Eh, Pak? Eh?"

Laila dan suami barunya atau sebut saja Anggara terkekeh saat melihat Rembulan gelagapan. Anggara mengisyaratkan Rembulan untuk mendekat padanya, tadi setelah sesi foto selesai, Rembulan jadi terlihat lebih sering melamun.

"Panggil Papa, boleh?" tanya Anggara dengan lembut, tangan kanannya yang besar mengelus surai Rembulan dengan penuh sayang.

"E-eh? Emmmm B-bulan p-panggil Papa?"

Laila tersenyum, ia menggenggam satu tangan Rembulan. "Sekarang, panggil om Anggara sama sebutan Papa, terus kamu panggil Ibu pakai sebutan Mama, bisa?"

Papa dan Mama.

Ya ampun, apa Rembulan tidak sedang bermimpi ya?

"I-iya Pa, Maa ...." Rembulan menundukan kepalanya, mendadak wajahnya terasa panas karena malu. Ia belum terbiasa dengan panggil seperti itu.

Anggara tersenyum bangga. "Bulan mau dipanggil apa sama Papa? Bulan? Rembulan? Atau putri kesayangan papa?"

"Mas ya ampun." Laila terkekeh. "Jangan berlebihan, nanti Bulan gak suka. Dia sukanya dipanggil Bulan."

Rembulan mengangguk membenarkan perkataan Laila dengan pipi merona. "Papa, panggil Bulan ajaa."

Anggara mengangguk, ia mengelus kembali kepala Rembulan. "Bulan capek gak berdiri terus? Bulan juga keliatan pucat, mau istirahat?"

Rembulan menatap kedua orang di hadapannya bergantian. Apa boleh? Jujur, Rembulan memang lelah dari pagi tidak berpindah tempat selain berpindah sejauh tiga langkah. Rasanya tulangnya remuk, Rembulan ingin beristirahat.

"B-boleh, Pa?"

"Boleh dong, sebentar ya." Anggara berbalik badan menghadap ke arah orang-orang. Ia terlihat sedang mencari sesuatu sampai tangannya terangkat, mengisyaratkan seseorang untuk menghampirinya. Tak lama kemudian, sosok pemuda tinggi dengan paras tampan dan setelan jas melekat di tubuhnya sudah berdiri di depan Anggara.

"Apa, Pa? Kalau masalah Zero, Varo, sama Vano, aku udah bilang mereka—"

"Rion." Anggara memotong ucapan pemuda di hadapannya itu, lalu menarik lengannya agar berhadapan dengan Laila dan juga Rembulan. "Adik kamu mau istirahat, anterin ke ruangan dia ya?"

Rembulan menegang, telinganya langsung berdengung saat mendengar kata 'adik' barusan. Apa kata Anggara tadi? Ia adalah 'adik'? Adik dari pemuda tinggi itu? Rembulan belum tahu tentang ini, ia tidak tahu dirinya akan memiliki saudara.

Ternyata masih banyak yang Rembulan tidak ketahui, masih banyak kejutan-kejutan yang Rembulan dapatkan bukan? Rasanya Rembulan belum siap.

"Oh, boleh. Rion anterin ke ruangannya. Ayo dek? Eh, Rion panggil apa ya?"

Rembulan menatap pemuda itu dengan ragu. "Emmmm ... B-Bulan aja kak."

Pemuda itu tersenyum ramah, aura hangat keluar dalam dirinya membuat siapapun yang berada di dekatnya bisa merasa tenang, termasuk Rembulan yang enggan melepaskan tatapannya dari senyuman pemuda itu.

"Ayo Bulan, Kakak anterin," ucapnya dengan menekankan kata 'kakak' lalu ia menarik tangan Rembulan untuk ia genggam, dan menjauh dari pelaminan setelah berpamitan.

"Bulan capek ya?" tanya pemuda yang berjalan di depan Rembulan, hanya basa-basi agar tidak terlalu canggung.

"Eh, i-iya kak. B-bulan sedikit capek."

Pemuda itu terkekeh, ia membuka pintu tinggi di hadapannya lalu masuk bersama dengan Rembulan. "Rembulan, kita baru ketemuan nih. Kenalan boleh 'kan ya?"

Rembulan duduk di kursi yang diberikan pemuda itu, lalu mengangguk. "B-boleh kak. A-aku Rembulan. Kalau kakak?"

"Aku Alderion Zanava. Anak tertua di keluarga ini, biasa dipanggil Rion. Kalau Al, nanti bakalan bingung," ucapnya seraya terus menebar senyuman hangat.

Jantung Rembulan saat ini tidak aman. Ia belum pernah melihat lelaki setampan Alderion tersenyum padanya. Bahkan lelaki di di sekolahnya saja enggan menatap Rembulan.

Tapi, sepertinya ada yang aneh.

"K-kenapa bisa bingung?" tanya Rembulan.

"Nanti saudara kamu yang lain bingung kamu manggil siapa."

"Yang lain?"

Padahal Rembulan masih terkejut dengan fakta kalau ia akan memiliki seorang kakak. Lalu apa lagi ini? Yang lain? Maksudnya Rembulan akan mempunyai saudara lagi?

"Iya, yang lain. Sekarang mereka gak bisa dateng. Mungkin besok mereka bisa ketemu sama kamu. Nama awalnya Al semua, jadi bakalan bingung kalau kamu panggil kakak pakai Al, lebih baik Rion aja," jelas Alderion panjang lebar. Sebagai anak tertua di keluarga Zanava, sudah sepatutnya ia menjalin hubungan baik dengan keluarga barunya, termasuk adik barunya yang terlihat lugu ini.

Dari sana, Alderion banyak menceritakan mengenai keluarga Zanava, berusaha mengajak Rembulan untuk terbiasa mengobrol dengannya. Mulai dari kativitas sehari-hari, sekolah Rembulan, kuliah Alderion, dan hal lain agar mereka tidak merasa canggung.

Saat itu juga, Rembulan merasakan sesuatu yang hangat dalam dirinya.

Jika sebelumnya tidak ada yang pernah memperlakukannya sebaik Alderion selain keluarganya, sekarang Rembulan bisa merasakan kehangatan dan kepedulian sosok baru dalam hidupnya.

Rembulan senang, sangat senang sampai secara tak sadar senyumannya mengembang sedari tadi.

Melihat sikap Alderion yang terlihat terbuka, ramah, dan juga menerima kedatangannya, Rembulan merasa dirinya mempunyai orang lain selain Laila.

Rembulan harap, ini adalah awal bahagia untuk Rembulan dalam keluarganya yang baru.

- to be continue -

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang