Bagian 3

8.8K 374 13

Vina's POV

Pagi ini aku sudah berkutat didepan laptopku, memeriksa pemasukan tiap periode. Aku baru sadar, bulan ini sepertinya mengalami sedikit penurunan, hah....akan aku tanyakan pada Siwi nanti.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku dari layar,

" Masuk.. " kataku. Ternyata Siwi, kebetulan sekali.

" Ada yang ingin gue tanyain sama lo " Ujarnya.

Kami memang terbiasa dengan panggilan " Gue-Elo " meskipun kedudukanku lebih tinggi. Namun kami juga tahu diri saat ada orang selain kami, kami akan menggunakan panggilan " Bu "

" Sebelumnya, gue dulu yang mau nanya. Kenapa bulan ini pemasukan menurun ? " tanyaku tanpa babibu memotong ucapannya.

Siwi menghela nafas. Lalu duduk di kursi depan mejaku tanpa kusuruh. Hal yang biasa juga dilakukannya.

"Elo kan tau sendiri itu normal. Tiap bulan juga gitu kan? Naik turun. Lagian beberapa menu baru kita meskipun diminati, tapi kita kekurangan modal untuk membeli bahan serta memperbanyak olahan. Jadinya ya, banyak pelanggan yang kurang beruntung yang nggak kebagian menu baru kita. Seperti kemarin waktu gue nyari-nyari lo tapi lo malah ngeloyor pulang gitu aja. Kemarin itu tuh gue mau ngasih tahu juga soal yang kita bahas ini. Jadi bukan salah gue dong...!"
Penjelasan Siwi membuatku terperanjat. Ternyata aku yang salah. Aku terlalu sibuk memikirkan gadis pujaanku sehingga membuat pikiranku benar-benar teralihkan dari pekerjaanku.

"Ya Tuhan....kenapa gue bisa seceroboh ini? Ok..ntar lo coba susun laporan seberapa besar gue harus nambahin modal buat pengembangan menu. Kalo udah selesai,,lo segera serahin ke gue. Besok gue bakal beresin ini semua. Tapi sebelum itu, lo adain meeting dulu sama para chef kita soal ini"

"Ok." Siwi telihat sumringah atas rencana ini.

Hening sejenak...

"Apa musti nunggu bedug maghrib dulu baru lo jadi nanyain gue?" tanyaku sarkastik mengingatkan niatan awal Siwi untuk menemuiku.

"Oh iya, sampai lupa..." Siwi yang seperti baru tersadar dari lamunannya lalu melanjutkan,

"Sebenernya gue penasaran sama elo Vin, kenapa akhir-akhir ini lo slalu pulang lebih awal? Bahkan disaat Resto ini lagi urgent, Lo tetep pulang awal. Lo ada project baru?"

"Nggak ada." jawabku singkat.

"Nggak ada? Terus kenapa? Ada masalah lain?"

"Nggak ada..."

"Lah terus? Nggak biasanya lo kaya gitu"

Aku heran sama Siwi, apapun yang aku lakukan selalu membuatnya Kepo.

Ya,memang benar apa yang dikatakan Siwi, meskipun aku pemilik resto ini tapi aku sangat bertanggung jawab mengelolanya, aku bahkan terkadang mematuhi jam kerja seperti karyawanku. Walaupun sebenarnya aku bisa saja meng-handle semua ini dimanapun tanpa aku susah wara-wiri ke resto. Tapi sekali lagi aku sangat menjunjung tinggi komitmen.

"Apa itu penting?" Tanyaku setelah terdiam beberapa saat. Ku lihat ekspresi Siwi mulai berubah, entah kesal atau kecewa

" Seenggaknya lo kasih tau gue, lo tau sendiri meskipun kita udah nggak ada apa-apa tapi gue masih perhatian sama lo... " Jawabnya tulus.

Aku menghela nafas, menyerah.

"Gue mau cerita tapi lo jangan cemburu ya?" Tanyaku menggoda sambil menaik turunkan alisku.

" Apaan sih lo? Gue kan udah punya pacar,  jadi nggak bakalan cemburu. Yaaa mungkin cemburu dikit sih "

Aku tertawa, Siwi itu Bi. Setelah putus dariku dia lantas berpacaran dengan seorang pria. Dan yang ku tahu pria itu adalah pegawai bank.

So Possessive (gxg)Baca cerita ini secara GRATIS!