24. Garis Tipis Sedih dan Bahagia

45.2K 12.3K 6.2K
                                    

Kan sudah sering beredar kalimat seperti ini; tidak apa-apa sedih, barangkali ada bahgia setelahnya
Dan mungkin memang benar. Ketika sedih datang, bahagia akan tetap ada.
Walaupun datangnya nggak ngotak banget

○○○》♡♡♡《○○○

Persis di samping dipan, Ibu Gayatri terduduk lemas. Ia dekap surat dari si bungsu erat-erat dalam dadanya. Sepucuk surat itu seperti ditulis dengan derai keputus asaan. Ibu tidak tahu seberapa lebam perasaan Gayatri ketika ia menulis surat itu. Beberapa bagian tulisan nampak basah sebelum akhirnya mengering dan tinta biru di atasnya mulai mengabur.

"Gayatri pergi, Pak..." Ibu merintih, tapi di sana, Bapak tidak mengatakan apa-apa. "Padahal aku cuma mau anakku hidup dengan baik. Nggak kekurangan apapun sampai dia tua nanti."

Bapak mendesah ringan. Bahkan di titik ini, dia sudah tidak mampu menangis lagi. Ia tahu bahwa wanita di hadapannya saat ini sedang patah-patahnya, tapi Bapak berusaha keras untuk tidak menenangkannya sama sekali. Biarlah dia menikmati perasaan itu. Biarlah dia memahami betapa kacaunya dirinya dalam bersikap.

"Semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi kamu terlalu banyak mendikte, terlalu keras mempertahankan pola pikirmu itu. Bahkan burung yang kamu kasih makan nasi selama berbulan-bulan pun pasti akan mati. Padahal kamu cuma mau dia kenyang. Kamu nggak tahu bahwa selama ini makanan yang kamu kasih adalah salah." Meski sama-sama patah, Bapak berkata dengan tenang.

Lalu dengan derai air mata, Ibu menyahut, "Aku tahu yang terbaik untuk anakku." Hanya untuk membuat bapak menoleh dengan tatapan nyalang.

"Kamu nggak pernah tahu. Karena kalau kamu tahu, jawabannya pasti bukan dengan kepergian Gayatri. Anak itu pasti masih di sini dengan semua pilihan dalam hidupnya." Setelah itu bapak berdiri. Berjalan menuju jendela dan menumpahkan semua kekesalannya di sana. "Apa artinya membesarkan anak kalau setelah dewasa yang dia dapatkan cuma tuntutan? Harusnya kamu membebaskan apapun yang Gayatri pilih. Kalau ternyata yang dipilihnya itu kesalahan, baru kita sebagai orangtua turun tangan untuk meluruskan!"

Masih dengan perasaan yang lebam-lebam, ibu memeluk sepucuk surat itu semakin erat. Semakin dalam ia dekap dalam penyesalan.

"Aku cuma khawatir kalau besok aku mati, anakku hidup kesusahan, Pak. Aku bawa 9 bulan dia di perutku, aku sayang-sayang dia sewaktu masih kecil bukan untuk menjadikan hidup dia menderita begitu dewasa."

"Iya, aku tahu." Bapak menoleh, "Tapi kebahagiaan dalam definisimu itu isinya cuma materi, materi dan materi. Kamu lupa kalau definisi bahagia itu bukan cuma uang. Ada banyak hal di dunia ini yang bisa bikin manusia bahagia, dan Bapak yakin bahwa Gayatri pasti punya definisi bahagianya sendiri."

Pagi itu, benar seperti dugaan Gayatri, ibu meratap akan kepergiannya. Dan Bapak tidak ingin menenangkannya seperti yang sudah-sudah. Sementara di depan pagar, persis di dalam mobilnya yang belum menyala, Ibram memperhatikan foto lawas yang tersimpan rapi dalam dompetnya. Foto usang dua bayi yang berada dalam satu box yang sama. Foto dirinya dan Gayatri.

Ibram tahu bahwa ada kalanya dia tidak ingin memaksakan apapun. Tapi setidaknya dia sudah mengusahakan apa yang ia bisa. Walau kini ia tahu, tidak ada satupun yang berhasil. Gayatri pergi dan dia tidak punya pilihan apapun selain berhenti. Selesai. Urusannya meyakinkan Gayatri benar-benar selesai.

Sesaat sebelum Ibram menyalakan mobilnya, ponselnya bergetar. Ada satu pesan whatsapp baru dari adik bungsunya,

"Mas Ibram dimana? Mama masuk ICU."

Dan Ibram tahu bahwa inilah yang akan terjadi.

○○○》♡♡♡《○○○

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang