Chapter Tujuh

74 15 1
                                    

[WARNING: NSFW AND STRONG DEPICTION OF SEXUAL INTERCOURSE AHEAD, READER DISCRETION IS ADVISED]

Xander’s POV

Napasku beradu dengan napas Logan yang memburu. Kepalanya yang baru saja menjauh beberapa senti sedikit terdongak. Saat menatapku, matanya sedikit sayu. Melihat pipinya yang bersemu merah, secara spontan aku mengeluarkan suara geraman rendah. Sedetik kemudian, aku meletakkan satu tangan di tengkuknya lalu menarik lehernya supaya wajahnya kembali mendekat. Tanpa adanya penghalang apapun di antara kami, bibir kami pun kembali bertemu.

Kali ini dalam ciuman panas yang menggairahkan. Penuh dengan tuntutan dan kebutuhan. Aku ingin merasakan lebih, dan aku ingin mengambil lebih. Tubuhku mendambakannya. Dan betapa bersyukurnya aku ketika Logan mengabulkan permintaanku. Ia membiarkan aku menerobos masuk melewati bibirnya yang ranum. Meskipun aku melakukannya dengan tidak ramah, ia tidak keberatan. Logan justru menyambutku dengan antusiasme serupa yang tak kalah besarnya.

Awalnya aku hanya menjelajahi rongga mulutnya, menyapu geliginya, dan mencecap keranuman bibirnya. Namun ketika Logan mengajukan diri untuk menyapaku balik dengan lidahnya, aku kehilangan kendali. Bibir kami saling menekan, saling berpagut. Lidah kami saling bergulat dengan satu sama lain. Gigi kami saling bergesekan. Dan kami bahkan mungkin tidak lagi bisa mengenali liur satu sama lain.

Satu hal yang bisa aku pastikan ketika aku mencecap mulut Logan adalah, ia terasa seperti anggur tua. Asam manis memabukkan yang akan membuat siapapun yang merasakannya menjadi ketagihan. Tapi membayangkan ada orang lain selain diriku pernah merasakan Logan menyulut api kemarahan dan kecemburuan di dalam diriku. Bukan kemurkaan pada Logan, melainkan kepada mereka yang pernah menjadi pasangan satu malam Mate-ku itu. Ya, Logan adalah Mate-ku. Milikku seorang. Tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya selain aku. Tidak ada yang bisa merebutnya dariku. 

Kedua tangan Logan yang semula diletakkan di atas dadaku kini ia memindahkannya dengan mengalungkan kedua lengannya ke leherku. Jari-jemarinya sesekali mengelus tengkukku dengan gerakan memutar yang lembut hingga sekujur bulu kuduk di tubuhku meremang dan darahku berdesir. Matanya yang sesekali terbuka dan menutup memancarkan gairah yang menyala.

Rasa panas menyengat yang menjalar dari kulit tubuhku yang bersentuhan langsung dengan kulit tubuh Logan. Rasa panas ini cukuplah menyakitkan untukku, namun rasa sakit ini bukan dalam dalam artian yang buruk, melainkan rasa sakit yang menyenangkan dan sulit untuk diabaikan. Apalagi ketika akal sehatku kini sedang berperang melawan insting inner wolfku yang ingin mengambil alih dan memuaskan hasrat terliar kami karena memasuki siklus rut yang tidak diduga-duga.

Aku seolah sedang berperang dengan sisi diriku yang lain di dalam pikiranku. Di satu sisi aku ingin bersatu dengan lembut, memakai waktu yang kupunya untuk mencicipi tiap jengkal tubuhnya sedikit demi sedikit. Namun di sisi lain diriku—di bagian naluri terliarku—aku ingin merengkuh, menindih, dan mengambilnya dengan cepat, lalu melumatnya tanpa sisa untuk melampiaskan hasrat yang membuncah tanpa menahan diri.

Di bawah berkas cahaya mentari sore yang mengintip dari celah-celah jendela, kulit Logan tampak berkilauan bagai malaikat yang baru turun ke bumi. Sepuhan warna jingganya, beradu dengan semu merah di wajah dan leher Logan, menambah aura sensualitas yang menguar darinya. Iris matanya berubah seperti percampuran sewarna kabut dan semburat kuning keemasan. Sungguh sangat unik dan memukau.

Ketika aku hendak menarik bibirku dari pagutan panas itu, Logan mengerang. Ia menggigit bibir bawahku hingga aku bisa mencecap rasa logam dari daging yang sedikit tergores akibat gigitannya. Tak cukup hanya itu, ia juga kembali menjambak rambutku dengan satu tangan dan menyentakkan kepalaku ke belakang. Kali ini Logan mengambil alih ciuman kami. Aku sendiri seolah bisa mendengar inner wolfku mendengkur dengan puas karena keagresifan yang ditunjukkan oleh Mate kami ini.

The Omega's Toy [Revised Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang