Empat #Di parkiran🔞(?)

73.9K 784 2
                                    

Hari Senin di bulan Juli. Anak-anak baru SMA Skala mulai masuk. Pengumuman penerimaan dan pembagian kelas telah diumumkan dua hari lalu, tepatnya hari Sabtu. Penuh binaran dari wajah-wajah mereka. Tak ada yang murung, semuanya bersinar menandakan antusiasnya dalam menjalani pelajaran.

Perempuan berkuncir warna merah berjalan sendirian memasuki halaman sekolah. Dia memandang besar gedung yang ada di sana. Senyumannya berkembang menaiki lantai sekolah, matanya bisa melihat luasnya bagian dalam menampilkan banyaknya siswa yang dia pun tak tahu kelas berapa mereka.

"Yun!" Dia menengok ke belakang ketika namanya terpanggil. Senyumnya menjadi luntur saat wajah mengesalkan itu tersenyum padanya.

"Apa?"

Manda mengerucutkan bibirnya, Yuna menelan ludah.

"Kita nggak sekelas," ucap Manda sok imut.

"Iya!" Yuna memutar bola matanya agar tak memandang Manda. Dia menyipitkan ketika sinar matahari tiba-tiba muncul saat awan tak menutupi. "Ya udah, gue mau ke ruang komite!" Satu kata Yuna ucapkan, dia langsung berlenggang meninggalkan Manda yang tengah berdiri dengan muka kesal.

Manda melirik sekitar, tangannya memegang kedua tali tas. Tak ada satupun orang di sana yang dia kenal. Rata-rata berbadan lebih besar dan dia yakin itu adalah kakak kelas.

Senyuman Manda berkembang lagi, dia melambaikan tangan ke atas dan langsung ditangkap oleh sesosok laki-laki.

Laki-laki itu berlari kecil ke arah Manda, dia tak lupa melambaikan tangan juga.

"Udah nyampe aja lu!" Dia Ilham. Laki-laki berbadan tinggi, tak kurus dan tak gendut. Cukup lah dengan porsi badannya.

"Iya lah. Udah jam tujuh juga!" jawab Manda sedikit ngegas.

Ilham menengok ke samping kiri, dia melihat koridor di sana. Tangannya menunjuk. "Ke sana yuk. Sambil cari-cari kelasnya," ajak Ilham.

Manda mengangguk. Mereka berjalan ke sana berdampingan. Melewati tempat di mana mading tertata dengan rapi. Karena penasaran, mereka berhenti sebentar melihatnya lalu berjalan kembali.

Di tengah-tengah lapangan, Manda berhenti. Ilham memandang kebingungan.

"Bukannya lu ambil IPA?"

"Hooh!" Ilham mengangguk tanpa ragu.

Manda menghela nafas. "IPA kan ada di depan kelas atas," katanya menunjuk bangunan samping gedung laboratorium.

Cengiran masam Ilham terpancar, dia menggaruk tengkuknya. "Hehehe, iya-ya. Kenapa gue nggak kepikiran. Yaudah, gue ke sana. Lu sendiri gapapa, kan?"

"Iya gapapa."

Lalu dengan patah-patah, Ilham meninggalkan Manda yang sudah berada membelakanginya berjalan ke arah jejeran kelas.

Sejujurnya Manda pun tak paham di mana kelasnya. Banyak sekali anak-anak baru, dia tak menjumpai satu pun orang yang dirasa kenal.

Mulutnya membulat membaca tulisan nama kelas yang berada di sisi pintu. Dia menengok kecil ke dalam, ada beberapa siswa yang duduk. Matanya berkontak dengan salah satu perempuan berambut tergurai.

Manda tersenyum, dia berjalan masuk dan melihat satu bangku kosong berada di tengah. Dia duduk di sana. Suasananya lebih berbeda. Kelasnya, tempat duduknya, penghuninya, segalanya. Manda merasakan lebih nyaman.

⚡⚡

"Ohh gitu. Tapi lu bisa kok pindah ke IPA kalau mau."

Manda mengembungkan pipinya, dia menaikkan kedua alisnya dan mengangguk. "Maunya sih gitu."

"Terus?"

He | Bima (Read Desk First)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang