Dua #Bima suka??

52.2K 650 15
                                    

(〒﹏〒)

🐰

Pagi hari yang mendung. Langit hitam ingin menangis. Sebentar lagi hujan turun, ini saatnya bagi anak-anak sekolah ada alasan kenapa mereka terlambat padahal masih bergelung dalam selimut.

Laki-laki yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya, jaket, sepatu dan lainnya. Dia berdiri di atas tangga, langsung melemparkan tas-nya yang sangat berat hingga menabrak lantai mengeluarkan suara keras.

"KENAPA SIH?! BIMA!" teriak Mamanya karena kaget.

"APA?!"

Bima turun tangga dengan malas. Dia memegangi pegangan pinggiran. Rumahnya gelap, itu lebih baik karena Bima tak suka rumah yang terlalu terang. Kalau boleh meminta, Bima lebih memilih hidup di jaman dulu yang tak ada listrik dan hidup di dalam alam liar. Lebih tenang.

"Masak apa, Mah?" tanya Bima menuju dapur. Dia mencium bau wangi tapi tak tahu bau apa itu.

"Tumis udang. Tadi apa yang kamu lempar?!" Suara lembut Bu Nadya, Mama Bima menjadi keras saat menanyakan pasal barang yang dilempar oleh anaknya itu tadi.

"Tas," jawab Bima enteng. Dia menenggak air minumnya yang sudah tiga gelas ini.

Bu Nadya datang membawakan satu bakul nasi dan satu piring. Dia menghela nafasnya berat.

"Ngapain dilempar?! Semales itu kamu bawa?"

"Di dalem tas ada banyak buku kelas sepuluh. Mau aku balikin ke perpus," jawab Bima sambil menyidukan nasi ke piring.

Bu Nadya kembali ke arah penggorengan. Dia mematikan kompor dan mengangkat tumis udangnya ke atas mangkok untuk lauk Bima sarapan.

"Emang kamu udah mulai pelajaran?"

"Belum sih. Palingan cuman ndotor aja di kelas. Guru-guru kan masih sibuk ngurusin pendaftaran anak baru."

Bu Nadya tak menjawab. Dia duduk di depan Bima dengan menaruh mangkok tumis udang, langsung disambar oleh anaknya.

Bima sudah kelas sebelas. Dia masuk ke SMA satu tahun lalu, mengambil jurusan IPS karena dia suka menghitung uang. Kalau menghitung massa dan tekanan, dia bukan ahlinya, serahkan pada Archimedes dan kawan-kawan.

Acara sarapan itu tenang. Tak ada suara gemerusuh dari keduanya. Bima dan Mamanya tinggal berdua untuk saat ini, karena Pak Hendra, Papa Bima sedang ada proyek di luar kota.

Bima menaruh sendoknya ke atas piring, dia sudah selesai. Sudah hal biasa kalau sehabis makan harus minum. Akhir-akhir ini Bima suka dengan acara yang dinamakan 'minum'.

Bu Nadya yang sudah selesai makan, dia berdiri mengambil piring Bima untuk dicuci. Dia menatap Bima sekilas, lalu tersenyum melihat wajah anaknya yang begitu nampak lebih segar dari sebelumnya.

"Aku berangkat, Mah. Assalamualaikum!"

Bima berlari kecil ke arah bawah tangga untuk mengambil tas-nya. Dia menyeret saja sampai ke depan. Kepalanya mendongak ke atas menatap langit yang begitu gelap dan menghitam, seakan matahari sudah lelah untuk menyinari. Tangannya mengadah ke depan, merasakan rintikan air hujan yang setetes turun dari atas. Bima mengangguk saat dia yakin dalam hitungan menit, hujan deras akan turun dan bisa saja membasahi dirinya.

Motornya dia starter, memasukan gigi dan menggerungkan gas. Dia melaju kencang sebelum hujan turun. Pundaknya tampak tak nyaman karena beban berat yang dia pikul sendirian. Bima menggeram saat dia tak berhasil menerobos lampu merah.

Air gerimis semakin banyak dan lampu merah itu lama sekali berubah menjadi hijau. Seperti menunggu dua jam, akhirnya berubah juga. Bima langsung menancapkan gas menyalip truk gandeng dari arah dalam, sopir itu geleng-geleng kepala melihat bagaimana tingkah laku bahaya anak muda.

He | Bima (Read Desk First)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang