Satu #2 juta dengan Rena🔞

85.1K 1K 115
                                    

"Cheers!"

Satu teriakan bahagia disambut dengan gelak tawa mereka peradukan. Dengan suara gemuruh tempat redup itu mereka berada merayakan suatu kemenangan yang tiada artinya.

Empat gelas dibawa oleh empat perempuan sedang duduk melingkar di sebuah sofa diskotik. Mereka menenggak secara nikmat minuman itu. Bir segelas penuh mereka habiskan dalam beberapa detik. Tersenyum seperti orang gila kehilangan kewarasan. Sungguh suatu kegiatan konyol yang akhir-akhir ini selalu mereka lalukan.

Ting!

"Eh, gue ada panggilan nih. Biasa, cari duit. Duluan, ya!"

Silla berdiri dengan terhuyung setelah membaca pesan. Celana jeans atas pahanya semakin ke atas, mencetak tubuhnya begitu terang dengan dukungan tangtop pink yang dia pakai tanpa jaket atau penutup lainnya. Dia mengambil tas-nya, hampir limbung jatuh ke samping jika saja tak berpegangan dengan tumpuan meja.

"Have fun, Guys! Bye-bye, muach!" Satu pamitan Silla layangkan ke teman-temannya sambil memberikan kiss bye. Dia berjalan pergi dari sana dengan meliuk-liukan badan.

Manda menghela nafas bersandar pada sofa, dia memegangi perutnya yang sudah kembung akibat banyak meminum bir.

"Mau nambah lu hah?!" Rena bertanya dengan mata sayu dan bau mulut.

Manda menggeleng. "Nggak, udah teler banget gue."

Alya melihat ke belakang, lalu dia mengangguk kecil menatap kedua temannya kembali. "Pulang yuk, capek banget gue."

"Yuk, yuk. Siapa yang gandeng?"

Rena menunjuk Manda, anak itu langsung menunjuk dirinya sendiri kebingungan. "Loh, kok gue? Nanti kalau nabrak gimana?!"

Tak ada jawaban, Rena dan Alya berdiri dan langsung menarik tangan Manda untuk keluar dari sana menuju parkiran depan.

Mereka ke diskotik hanya untuk merayakan kelulusan SMP yang baru saja kemarin diumumkan. Memesan berbagai minuman keras hanya untuk ditenggak berempat bersama Silla, kakak kelasnya yang sudah SMA kelas 11.

Manda masih ditarik oleh Rena dan Alya menuju parkiran, langkah mereka terhenti ketika di depan pintu ada dua laki-laki menghalangi jalan. Senyuman keduanya terlihat seram dengan melirik tak beraturan terhadap ketiga badan perempuan yang berada di depannya.

Rena bertengger tangan menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya.

"Kenapa? Minggir! Kita mau pulang," katanya berani.

Alden terkekeh kecil, tangannya pelan-pelan terulur ke depan meraih pinggang Rena lalu ke atas menuju payudara sintal itu. Dia meremat kecil sebelum Rena menepis tangannya dari sana.

"Goblok, apaan si?!"

"Lu udah mabok banget. Mendingan ikut gue ke kamar atas. Sabilah lima ratus ribu," pinta Alden spontan tanpa malu-malu.

Rena dan Alya saling pandang, lalu tertawa bersama seperti ada suatu yang lucu. Manda dan Alden tampak kebingungan apa yang mereka berdua tertawakan.

"Lima ratus ribu? Serius lu? Dua juta deal!" Rena mengulurkan tangannya ke Alden. Laki-laki di depannya mendengus, lalu meraih tangannya dan tersenyum.

"Deal. Ya udah ke sono, gue ambil kondom dulu di motor."

Rena mengacungkan jempolnya, sedangkan Alden menepuk bahu Nandra lalu pergi menuju motor.

Nandra menatap Alya dan Manda bergantian, dia tersenyum menyebalkan sembari menaik turunkan alisnya.

Manda dan Alya bergidik ngeri, mereka lebih baik berlari dari sana dan membiarkan Rena.

He | Bima (Read Desk First)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang