Part 35 - Dinner

1 1 0
                                    

Tepat di hadapan sebuah cermin, berdiri seorang wanita cantik nan anggun dengan dress hitam panjang yang memperlihatkan bagian dada sedikit terbuka. Ditambah dengan beberapa pernak-pernik berlian kecil, semakin membuat tampilannya nampak elegan dan memesona. Tak lupa dengan gaya rambutnya yang dimodif sangat baik hingga menyatu dengan penampilannya. Ibu satu anak ini terlihat berseri-seri, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

***

Light Restaurant dimeriahkan oleh pasangan yang berbahagia, begitu juga Rian dengan Nisa, serta Dimas dan Bella. Mereka nampak menikmati acara makan malam dadakan ini!

"Hai, mau minum anggur nggak?" tawar Bella pada Nisa dengan ramah.

"Oh, aku nggak minum," ucapnya tersenyum singkat, Bella mengangguk.

"O ya, Ran. Kalian kapan meresmikan hubungan?" tanya Dimas tiba-tiba membuat Rian tersedak.

Rian menatap ke arah Nisa yang juga tengah menatapnya. Lalu berkata, "bulan depan!" ujarnya yakin.

"Oke." Dimas mengangguk-angguk kecil, bersamaan dengan Bella yang ikut senang mengenai hubungan mereka.

"Lu butuh perancang buat pernikahan lu, nggak? Nanti biar gua yang urus."

"Ah, nggak usah lah," tolaknya. "Nanti gua sewa yang lebih handal."

"Santai aja," ucapnya sembari tertawa kecil.

Mereka terlihat mencicipi satu demi satu makanan yang tertata rapi di meja beralas kaca itu, keheningan seketika diisi oleh suara benturan sendok dan garpu.

"Kayaknya menu makanan ini juga harus ada di daftar pernikahan kalian deh," usul Bella sambil mengunyah sisa makanan di mulutnya. Lalu menatap Dimas. "Iya 'kan, Sayang?" Dimas balas mengangguk sembari mengelus pelan rambut Bella.

"Boleh, sih. Gimana Ian?" campur Nisa, balik bertanya pada Rian.

"Terserah kamu aja," ucapnya dengan senyum menggodanya.

Sorot mata Dimas dan Nisa tanpa sengaja tertangkap satu sama lain, ada perasaan canggung dalam situasi kali ini. Bayangan masa-masa enam bulan yang telah dilalui bersama, tiba-tiba terbit dalam ingatan mereka.

"Nisaaa! Dari mana?"

"Lho? Dapur. Ini teh buat nemanin malam kamu, karena aku lagi nggak bisa. Ngantuk."

"Sini! Sekarang tidur, ya."

"Teh kamu, dingin lho, Mas."

"Ngapain mikirin teh? Tutup mata kamu sekarang, tidur!"

"Kerjaan kamu,"

"Husst. Dari mana belajar keras kepala ini?"

"Ngapain nanyain keras kepala aku? Jangan salahin aku kalau kamu sampai ketiduran dan kerja kamu nggak kelar-kelar. Ya, Sayang."

"Cup. Ini untuk kamu yang banyak ngomel."

"Cup. Untuk yang banyak protes."

"Cup, untuk yang suka bikin khawatir. Dan, cup untuk keras kepala kamu."

"Mas,"

"Sekarang tidur ya, aku mau lanjut kerja."

Cup.

"Dimas?!" Matanya membelalak.

"Kok Dimas? Ini aku lho, Sa," ucapnya menatap heran pada manik milik Nisa.

Rian mengecup pipi Nisa dengan tiba-tiba, hingga Nisa berpikir bahwa yang melakukannya adalah Dimas. Ia menyela menyebut nama Dimas, membuat Rian merespon heran.

"Oh." Bola mata itu terlihat berkeliling. "Maksud aku," ucapnya sembari membasahi bibir keringnya. "Nggak mau nambah makan lagi?" lanjutnya setelah berpikir untuk mengalihkan situasi.

"Hm." Dimas berdehem, lalu memajukan sedikit tubuhnya. "Kayaknya ini udah cukup."

"Oh, oke." Ia tersenyum simpul.

Kring kring

Ponsel milik Rian seketika berbunyi, deringan tersebut berhasil meregangkan suasana. Terpampang jelas nama sang mama pada layar ponselnya. Setelah terdiam agak lama, Rian kemudian mengangkat panggilan. Lalu berbicara pelan dan langsung menutup telpon. Rian memperhatikan Nisa lekat yang sedang menikmati makanannya, hatinya seketika runyam. Sorot matanya tersirat sesuatu yang tak dapat diartikan, kali ini Rian benar-benar merasa bersalah.

"Ian, nggak makan?" tanya Nisa membuyarkan lamunannya. Rian mengangguk kecil, meraih gelas berisi air putih di hadapannya dan meneguknya.

"O ya, dinner-nya masih lama lagi?" tanya Rian kemudian.

"Kenapa Ran? Kalau lagi sibuk, kita bisa pulang sekarang," balas Dimas.

"Nggak juga. Tadi ada panggilan dari pihak rumah sakit, ada pasien yang perlu penanganan," ucapnya santai, namun batinnya tak setenang sebelumnya.

"Ya udah, kita pulang aja sekarang. Dinner udah selesai," sahut Bella.

"Nggak, nggak!" tahan Rian. "Kalian tetap tinggal di sini, aku ke sana sendirian aja."

"Aku ikut, Ian," sanggah Nisa.

"Kali ini jangan, nanti aku kabari kamu. Oke?" ucapnya mengecup puncak kepala Nisa, lalu meninggalkan tempat.

Nisa menatap kepergian Rian dengan sendu, perlahan punggung itu kian tenggelam dalam pandangannya. Kini tinggal lah ia di antara para kekasih yang sedang dimabuk cinta ini. Melirik ke kanan dan ke kiri, dari sudut ke setiap sudut, bidang pandangnya hanya menemukan kemesraan. Ditambah dengan dua sejoli di depannya yang tengah asik menikmati malam. Di bawah langit hitam dengan setitik cahaya bintang ini, nampak lah Nisa yang hanya diam tanpa suara. Memandang sekeliling, lalu membuka layar ponselnya berulang kali.

"Huft." Ia membuang napasnya pelan.

***

Di ruang berkonsep minimalis, rumah perpaduan cat antara hitam dan abu-abu ini, tengah dihiasi oleh keresahan yang mendadak mulai menciut. Sang penghuni rumah, sangat jelas menampilkan kegelisahan terhadap putra satu-satunya.

"Kamu jangan mempermalukan mama Rian! Harusnya kamu kasih tahu sejak awal tentang masalah ini. Sebenarnya perasaan kamu ke Nisa itu cuma sebatas mengagumi, dan karena kamu nggak bisa mengolah perasaan kamu dengan baik, sekarang begini jadinya! Mama malu sama keluarga Nisa. Kita sudah berteman baik, Nak. Dan sekarang kamu tiba-tiba mau batal nikah? Mau taruh di mana muka keluarga kita ini, Rian!" bentak Ibu Andriani pada putra sulungnya. Nampak raut kecewa yang begitu dalam mengenai keputusan Rian yang sangat tiba-tiba ini.

"Aku salah. Maafin Rian, Mah. Tapi perasaan nggak ada yang tahu ujungnya. Mungkin aku pernah suka sama Nisa, tapi bukan berarti rasa suka itu bisa bertahan hingga di titik ini. Aku juga nggak tahu kenapa perasaan aku ke Nisa udah mulai beda Mah," ucapnya menatap kosong pada meja beralas kayu putih di depannya.

Beralih memegang tangan sang mama dan berkata, "Sekarang Nisa bagi Rian cuma teman dewasa. Nggak tahu kenapa sejak hari itu, semuanya mulai berubah, Mah. Rian juga nggak mau paksain perasaan Rian. Daripada nyakitin Nisa lebih jauh lagi, aku milih buat batal nikah aja, Mah."

"Nggak gini caranya nyakitin perempuan." Suara itu membuat Rian menoleh. "Dia udah menaruh harap sama lu, tapi tanpa ada kejelasan yang pasti, lu tiba-tiba mutusin sepihak buat batal nikah. Terus gimana sama perasaannya dia?" campur Alea di sela keheningan yang menguasai. Rian menatap sorot mata adik satu-satunya yang nampak berkaca-kaca.

"Gue juga seorang perempuan. Walaupun nggak ada di posisi ini, tapi gue bisa paham. Nisa pasti bakal kaget bangat dengar semua ini. Kalian udah berhubungan lama, kalian sama-sama punya tujuan untuk melangkah ke jalan yang lebih serius. Tapi di tengah jalan, Nisa berjalan dengan lurus, dan lu malah belok. Lu udah runtuhin kepercayaan Nisa terhadap laki-laki, dan sangat tidak mudah untuk membentuknya kembali," ujar Alea yang lekas pergi menghilangkan wujudnya dari pandangan Rian dan sang mama.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang