15+
Christopher Horezon Venice.
Siapa yang tidak kenal milioner termuda di Indonesia. Christopher Horizon Venice. Chris adalah orang campuran Indonesia-Australian. Chris sangat tampan, mapan, kaya raya dan otoriter. Apapun yang di inginkan pria itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mata Sheana berbinar. Setelah satu jam perjalanan dengan mobil milik Aristidis. Mereka tiba di sebuah pantai tak berpenghuni. Sheana tidak tau kalau di daerah pinggiran kota ada pantai seindah ini.
"Masih mau berdiri di sana?" tanya Aristidis dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana.
Sheana mengerjap, kemudian menggeleng. "Nggak, aku mau lihat ke sana!" balas nya semangat.
Aristidis tersenyum, kemudian menggenggam tangan kanan Sheana. "Ayoo, turun. Lo pasti bakal lebih suka kalau udah ke sana," ajak nya dan menuruni tebing yang tidak terlalu juram.
Sheana mengikut saja, genggaman tangan Aristidis juga nyaman, Sheana jadi menikmatinya.
Setelah perjalanan sekitar dua menit. Sheana dan Aristidis tiba di pinggir pantai dengan hamparan pasir yang begitu halus. Senyuman tidak pernah luntur dari bibir ranum Sheana.
"Suka?" tanya Aristidis mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya dan menggelarnya.
Sheana menatap Aristidis kemudian mengangguk. "Suka banget! Aku tuh jarang ke tempat alam kaya gini. Terima kasih, kak!" balasnya semangat.
Alis Sheana terangkat saat melihat Aristidis menggelar kain di dekat rumput-rumput. "Buat apa kak?" lanjutnya heran.
"Anggap aja piknik dadakan." jawab Aristidis santai.
Senyum Sheana semakin lebar. "Aku bantu!" Semangat nya.
Aristidis mengangguk dengan senyuman tipis. "Gemes banget gue." ucap nya dalam hati.
Setelah semua telah siap. Sheana dan Aristidis duduk di kain yang di gelar mereka. Menikmati cemilan yang di bawa Aristidis. Sheana tidak tau, kapan cowok itu menyiapkan keperluan piknik.
"Lo senang?" tanya Aristidis membuka percakapan.
"Senang banget."
"Bagus lah, berarti udah nggak sedih lagi dong?"
Sheana menoleh sekilas, kemudian kembali menatap depan. "Terima kasih, kak. Aku nggak nyangka pertemuan waktu itu membuat kita jadi berteman."
Aristidis tersenyum tipis. "Lebih dari itu nggak bisa?" tanyanya terdengar santai. Tapi tidak dengan Sheana yang menanggapinya.
"Em, maksud nya?" tanya Sheana gugup.
Aristidis mengangkat kedua bahu nya. "Lupain, nanti-nanti aja soal itu." balasnya dan bangun dari duduk nya. "Coba pake, pasti tambah cantik," lanjutnya dengan meletakan topi di kepala Sheana.
Sheana mengeluarkan ponsel dan langsung bercermin lewat kamera. "Wahh, bagus kak. Dari mana?"
"Nyokap, tadi dia yang masukin ke dalam tas. Katanya buat lo," balas Aristidis. "Mau gue fotoin nggak? Kasih lihat nyokap gue?"