1 Awalan dari Amanda

107K 1.1K 44
                                    

SMP 4 Angkasa, sekolah menengah favorit di kota itu. Terletak di pinggir jalan yang bukan jalan raya dan sekolah besar dengan fasilitas yang memadai. Banyak yang ingin bersekolah di sana, mulai dari anak SD, anak TK dan bahkan ibu-ibu yang anaknya belum sekolah saja sudah menyiapkan apa saja kebutuhan anaknya supaya bisa bersekolah di sana.

Alexa Amanda Aurora, gadis tiga belas tahun yang dua bulan lagi berumur empat belas tahun. Dia kelas tujuh semester dua. Sebentar lagi akan melakukan PAT dan bisa naik ke kelas delapan. Semoga saja.

Sebenarnya Manda bukan seorang anak yang suka ambis apalagi niat dalam melakukan ulangan atau pengerjaan tugas. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan teman dekatnya yang polos-polos ber-bordir.

Yuna Dwi Indah, anak kedua dari tiga bersaudara. Dia nggak polos dan mudah dimanfaatkan, tapi karena dia kena guna-guna oleh Manda, jadi mau-mau aja kalau disuruh. Bahkan semua ulangan atau tugas, dia yang mikir dan Manda tinggal nyontek. Di luar dia lugu, di dalam sebenarnya dia adalah kucing jalanan, otak lumpur dan mulut pisau.

"Eh, ini gimana sih?" Perkataan pertama Manda untuk pura-pura nggak tahu dan akhirnya Yuna males buat ajarin lalu pada akhirnya dia juga yang mikir dan nyontekin jawaban dia ke Manda.

Mereka bisa dibilang sahabat dan bisa dibilang enggak. Lebih ke majikan dan babu. Nggak usah dukung antara satu dari mereka, karena mereka pun sama-sama gilanya.

Manda dan Yuna lebih pintar Yuna, itu tentu. Yuna lebih tanggap, rajin mengerjakan tugas walaupun jarang belajar. Dia juga adalah lima dari rangking terpintar di kelas. Anak laki-laki suka ke dia kalau yang lain pada jadi seleb, tapi mintanya maksa, dan alhasil Yuna juga yang harus ngalah.

Kalau Manda itu anaknya tergantung mood. Kalau lagi bagus ya mikir sendiri, kalau lagi jelek yang harus pake otak kedua, yaitu Yuna. Pokoknya mereka kaya Upin Ipin beda versi. Manda juga kurang tanggap, bukannya bodoh, cuman agak lemot.

Sekarang Manda lagi di kamar main handphone sambil di cas. Dia berdiri menyandar di tembok karena charger-nya dicolok ke stopkontak dekat saklar lampu.

Dia berdiri sudah dua jam lamanya, dan masih mengisi enam puluh persen. Panas sih, tapi dia juga nggak bisa meninggalkan vidio masak-masak dari beranda Facebooknya.

SeMinggu lagi padahal sudah PAT, dan persiapan Manda masih terbilang dikit. Dia hanya membuka buku dan melihat-lihat gambar, terlalu malas untuk membaca.

"Manda! Udah main hape-nya! Dari tadi Mama lihat main hape mulu. Kalau hape-nya rusak gimana? Siapa yang mau cari uang buat beliin hape kamu?!"

Suara Mama terlalu sumbang di pendengaran, terlalu menganggu untuk didengar, terlalu malas untuk dirasakan. Manda mendengus, dia memencet tombol tengah dan langsung mengunci laman Facebook-nya agar vidio tadi tak hilang. Langsung dia menyambar tempat tidur dan berpura-pura tutup mata.

Mama membuka pintu secara kasar. Dia langsung terdiam melihat Manda yang tengah pura-pura tertidur.

Setelah Mama sudah pergi dari kamar, Manda menengok ke arah pintu, lalu bernafas lega. Lagi-lagi Mama hanya marah soal handphone. Lebih mementingkan handphone daripada mata anaknya yang mungkin saja sebentar lagi akan buta.

Manda sudah lelah, lebih baik dia tidur dan esok harus sekolah.

Tunggu sebentar, sepertinya dia harus membuka situs di handphonenya terlebih dahulu.

💦💦

"Pahh! Ayuk!" teriak Manda dari luar rumah. Dia sudah siap walafiat, tapi Papanya itu sangat lelet. "Papah! Cok! Lambat banget sih!"

He | Bima (Read Desk First)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang