Terdiam.

Gak tau harus baca buku apa.

Aku hanya menatap orang di depanku yang sedang fokus membaca buku sejarah, siapa lagi kalau bukan Fikri.

"Fik?" Aku mulai menyapanya. lebih tepatnya memberanikan diri untuk menyapanya.

Dia melirikku sejenak, lalu kembali membaca pacarnya sang buku sejarah.

"Fik.. " aku mulai bersuara lagi, mengucapkan namanya.

Lalu mungkin dia merasa terganggu denganku, ia hanya berpindah tempat duduk menjauh dariku.

Aneh.

Ini persis seperti dulu.

Hatinya kini kembali membeku. sikap cueknya kini telah muncul kembali.

Karena aku merasa tak dianggap olehnya. Aku mengambil buku kimia, karna kebetulan setelah istirahat bakalan ada ulangan kimia.

"Ishh susah banget" aku berbicara pada diriku sendiri.

"Attjiiieehh gayaalahh yang baca buku kimia mah"

Aku melihat wajahnya. Wajah tampan mempesona, siapa lagi kalau bukan Justin.

"Siniii lah aku bantuin, kebetulan tadi gue udah ulangan kimia. lu baca bab 15 bakal keluar banyak dari situ. Mana yang gak ngerti sini gua bantu"

Aneh.

Justin... sikapnya aneh banget. Kadang baik, judes, jutek, somse, nyebelin, jail. Pusing pala saya.

Aku hanya menatap Justin. Yang di tatap malah cengir cengir ga jelas.

"Oke. gue gak ngerti yang ini" Aku menunjuk pada sebuah gambar.

"Ohh itu sihh.. *ceritanya Justin ngejelasin*"

"Gimana lo udah ngerti kan?" Kini Justin bertanya.

"Udahh, lo hebat banget yaa, wkwk, cocok lu jadi guru kimia." Aku mengukir sebuah senyuman padanya.

G.A.W.A.T.

Jangan sampai dia terpesona oleh senyumanku. Kegeeran banget sih gue.

"Ihh gua pengennya jadi dokter. gimana dong?"

"Yaudah sih wkwk, btw makasih ya gue balik ke kelas dulu."

Saat aku berbalik.

Ternyata dia menatapku. Iyaa, dia Fikri.

Setelah ia mengetahui kalau aku melihatnya, ia segera menghapus pandangan dia dariku. Ia segera kembali membaca pacarnya si buku sejarah.

Saat aku melangkah pergi untuk pergi dari perpustakaan. Aku menepuk pundak Fikri. sambil berkata;

"Cie sifat dulunya kambuh lagi"

Tetapi dia tetap tidak meresponku.

××××××××××××

"Gilaaakk lu keren banget kimia dapet 100 Key" Seorang anak berteriak padaku. Siapa lagi kalau bukan Ketua Kelas, Garry.

Sontak semua anak di kelas langsung menatapku dengan tatapan 'Gila. ini. anak. hebat. banget' lalu mereka langsung bertepuk tangan.

"Ini Keyla 100, Angga 97 ah Ga lo cuman salah satu. Udah cuma kalian berdua yang tuntas. Yang lainnya termasuk ketua kelas kalian yang ketjeh ini gak tuntas. So, kkm kimia kan 78 yang lain di bawah 78. Dan nanti nilainya bakal gue pampang di mading kelas."

"Ih kenapa coba.. Angga kembaran gue dapet 97.. kenapa gue di bawah kkm coba? ih sebel" Anggi mengomel kepada Keyla.

"Ya mungkin dia belajarnya lebih fokus dari pada lo" Aku menjawabnya sambil menatapnya dengan tatapan 'sabar Gi, ini mungkin takdir. tapi gue tau lo pasti bisa, jauh lebih hebat dari Angga'

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!