Part 34 - Merindukan Sosoknya

6 1 0
                                    

Terlepas dari belenggu pasangan pura-pura, kini Dimas menjalani hari-harinya tanpa sosok Nisa yang telah membersamainya selama enam bulan belakangan ini. Suasana berbeda dan hampa begitu jelas dirasakannya, menghitam bersamaan dengan bayangan Nisa yang tak dapat lagi ia genggam.

Semenjak kepergian sosok Nisa dari hidupnya, Bella kian hadir dan menjadi penghias hari-harinya. Penyambut paginya, dan penyemangat di kala ia sedang dilanda tugas kantor yang begitu mencekik waktunya. Tak dapat dipungkiri, Bella telah berhasil memasuki ruang yang sama setelah enam tahun lalu.

"Sayang, habis meeting ini kita makan siang di luar, ya?" ucap Dimas pada Bella sang sekretaris sekaligus kekasihnya itu.

"Habis makan siang temani aku belanja, dong?" balas Bella dengan nada manjanya, Dimas sedikit memalingkan muka.

"Hari ini aku nggak bisa nemanin kamu belanja dulu," ucapnya santai tanpa berpikir bahwa Bella akan bereaksi tak suka.

"Ya udah, makan siang aja sendiri!" ujar Bella penuh bentakan. Kini wajah ceria itu berubah murung.

"Aku harus ke wisudanya Alea, Sayang. Makanya aku ajak kamu makan di luar biar punya waktu berdua sama kamu, ya?" Dimas berusaha membujuk, memberi pengertian secara pelan-pelan.

"Oke," jawab Bella singkat.

Mendekatkan tubuhnya pada Bella dan memeluknya. "Nanti malam kita dinner berdua." Pernyataan itupun sontak membuat hati Bella seketika berbunga.

"Ya udah, Pak. Meeting bentar lagi mulai. Jangan sampai staf ngambek karena nunggu lama," ejek Bella yang seperti memberikan kode agar Dimas melepas pelukannya dan segera menuju ruang meeting.

"Hm." Dimas berdehem, mencoba menetralkan perasaannya. Ia berjalan meninggalkan ruangannya setelah membenarkan semua pakaian kantornya yang agak kusut, lalu disusul Bella setelahnya.

***

Di luar sebuah bangunan besar yang berdiri kokoh, terlihat sekelompok orang beramai-ramai memeriahkan acara wisuda. Tepuk tangan dan teriakan sorak-sorai, memenuhi setiap sudut acara berlangsung. Semua keluarga dipertemukannya dalam satu lingkup yang sama. Jangan lupa, Rian dan Nisa ikut menghadiri acara tersebut.

"Nisa," panggil seseorang dari jauh, sembari berjalan menghampiri. Gaya berjalannya begitu mirip dengan Gio, langkahnya ia hiasi dengan senyum yang mempesona.

"Gio," sahut Nisa, menyambut kedatangan Gio dengan sangat senang.

Dengan menaikkan lima jarinya, ia menyapa Nisa dan menanyakan kabar. "Hai, apa kabar?" Senyum khasnya yang menggoda itu tidak membuat Nisa lupa akan sosok Gio di matanya.

"Aku baik. Kamu?" balas Nisa lekas bertanya.

Sempat berbincang hanya sekedar bertegur sapa, kini mereka larut dalam sepatah duapatah kata hingga menjadi obrolan hangat.

Selang setelahnya, mobil sedan muncul dari arah masuk. Memperlihatkan Dimas yang turun dengan tampang gagahnya, memandang setiap inci orang-orang yang berdiri menatapnya. Sepanjang bola matanya ia fungsikan, netranya tak sengaja menangkap sosok Nisa dengan dress silver yang senada dengan Rian. Ia menghentikan langkahnya sejenak, saat melihat Nisa yang terlihat memalingkan wajah. Begitu enggan untuk menatap.

"Alea di mana, Ran?" tanya Dimas di antara keheningan yang bertajuk kemeriahan itu. Kembali, Nisa mengarahkan pandangannya ke objek lain.

"Ada di sana." Rian menunjuk dengan lima jarinya, memperlihatkan Ibu Andriani dan sang suami sedang asik berfoto mengabadikan momen. "Dia nyariin kamu tadi," tambahnya.

"Iya maaf, aku telat datang. Tadi di kantor ada meeting sebentar."

"O ya, ada yang pengen aku omongin sama kamu, Dim," ujar Rian terlihat serius.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang