Part 32 - Sudah Berakhir!

1 1 0
                                    

6 bulan sudah dilewati Nisa bersama dengan Dimas. Dan di pagi ini, suasana terasa tak seperti biasanya. Perlahan, sikap Nisa tak lagi sama ditunjukkannya selama ini.

Teh manis tak lagi menjadi rutinitas, kini semua serasa kembali pada jalannya semula.

"Nisa, aku ada meeting hari ini. Kamu siapin tehnya cepat, aku bisa terlambat," ucapnya sembari melipat lengan kemeja putih yang dikenakannya.

Nisa tak menggubris, ia duduk terdiam dengan tatapan kosong. Dimas menghampiri. "Nisa." Memeluknya dari belakang, seketika  Nisa merespon kaget.

Nisa terlihat gelagapan, menutup mata dan mengernyitkan kening. Menepis tangan Dimas pelan. "I-iya. Aku buatin," ucapnya segera melarikan dirinya ke dapur.

Menunggu hingga beberapa menit, namun teh tak kunjung di depan mata. Apalah daya dengan waktu yang sama sekali tidak mendukung, Dimas bisa melewatkan meeting jika tetap menunggu Nisa.

Memilih menyusul. "Sayang, aku ke kantor. Tehnya nanti aja. Aku udah telat," ucapnya sambil merapikan jas miliknya. "Sayang kamu kenapa?" tanya Dimas yang menyadari perubahan raut pada wajah Nisa, pipi itu kian basah dibalut air mata.

"Kamu kenapa?" tanyanya lagi. "Kamu sakit?" Memegang kening Nisa dengan punggung tangannya.

"Sayang, kamu cerita ada apa," ucapnya sedikit melakukan penekanan, namun terdengar sangat lembut.

"Nggak papa." Ia menghapus jejak-jejak air matanya. "Maaf ya, aku nggak bisa layani kamu pagi ini. Kamu buruan ke kantor, nanti telat meeting-nya."

"Nggak." Dimas menggeleng kuat, meletakkan tas kantornya di meja dapur. "Aku nggak bakal ninggalin kamu ke kantor dengan keadaan seperti ini." Memegang tangan Nisa erat.

Nisa lagi-lagi menepisnya. "Kamu 'kan lagi ada meeting," ucapnya menatap bidang dada Dimas lekat, tak berani menatap langsung pada wajahnya.

"Aku bisa batalin meeting-nya hari ini." Ia mengambil ponsel dari balik jas yang dikenakannya, menghubungi resepsionis dan membatalkan seluruh jadwal meeting yang sudah diaturnya tersebut.

"Dimas, kamu apa-apaan!" Tindakan Dimas yang baru saja dilakukannya mengundang kemarahan Nisa. "Kamu ke kantor, nggak usah peduliin aku." Wajah kecut mulai ditampakkannya.

"Aku nggak tenang ninggalin kamu sendirian, Sayang."

"Ya udah," ucapnya dan menghirup napas dalam-dalam. "Aku ke rumah ibu. Kamu bisa pergi dengan tenang."

"Nisa dengarin aku, KAMU KENAPA?!" Nada keras penuh penekanan itu terlontar tanpa sadar dari mulut Dimas, membuat Nisa menoleh dengan kasar. Menatap wajah Dimas penuh murka.

"Kenapa?" Memajukan tubuhnya pelan, dan berkata, "KAMU YANG KENAPA!" Nisa berdesir kuat, suaranya tak kalah menggema dari nada milik Dimas.

"Nisa?" kaget Dimas, matanya melongo.

"Apa?" Kelopak matanya bersarang air mata. "Selama enam bulan, selama itu kamu bohongin aku! Kenapa? Ha?" Dimas terpatung kaku. Kini Nisa memukul dada bidangnya, melampiaskan sesak yang tertahan.

"Sejak kapan? Sejak kapan kita nikah? Dan kamu berani-beraninya nyentuh aku, keterlaluan!"

"Mentang-mentang ingatan aku hilang? Terus kamu ngambil kesempatan ini?"

"Aku, sekretaris kamu! Tapi hidup aku harus jatuh ke dalam lubang gelap, dan semua itu karena ulah kamu!"

"Berawal dari kota Malang, kamu udah bikin hidup aku dalam masalah. Kamu bawa aku menyusuri jalan dan menabrakkan diri. Sekarang, aku ada di apartemen ini. Hidup bersama seorang laki-laki yang nggak tahu diri!Puas kamu nyakitin aku?"

"Keterlaluan!" Mendorong tubuh Dimas hingga terjatuh ke lantai.

"Pembohong! Pendusta! Penipu!!"

Makian demi makian yang sangat memekakkan telinga itu, tanpa diduga menyerang Dimas bersamaan dengan sangat hebat.

Dimas tak mampu berkutik, ia mencengkram kuat pada dadanya sendiri.

"Nisa, maafin aku." Air matanya mengalir. Selama bersama dengan Nisa, ia telah melupakan status Nisa sebagai istri pura-puranya. Hidup layaknya pasangan halal yang sudah terikat akad dan janji. Dan malangnya, Dimas terjebak pada semua itu. Ia terlena oleh setiap belaian dan perhatian dari Nisa untuknya, hingga tak menyadari kenyataan yang sebenarnya.

Mencoba bangkit dari tempat ia terkulai, mendekati Nisa yang mengusap wajahnya frustasi.

"Aku nggak ada maksud apa-apa. Ini bukan kemauan aku, Nis," ucapnya menyentuh pelan punggung Nisa.

"Jangan sentuh aku!" tepisnya dengan kasar. "Jangan berani-berani sentuh aku lagi!" peringatnya sembari menaikkan jari telunjuknya, terpampang jelas pada bola mata Dimas.

"Sajak kapan Nis, ingatan kamu pulih?" tanyanya dengan sangat hati-hati.

Waktu itu ....

"Eh, kamu mau ngapain?"

"Ya aku mau buka dress lah, mau mandi. 'kan?"

"Ngapain buka di sini, di dalam aja!"

"Mas ngapain!"

"Nisaaa, bawa pakaiannya ke dalam."

"Bella, kamu nggak papa, Sayang?"

"Tempat ini adalah tempat yang paling bersejarah dalam hidup kita. Tempat pertama kali kita berbagi kasih. Kamu ingat? Kamu berjalan dari arah sana,"

"Lalu disusul seorang anak perempuan yang sangat cantik dan manis."

"Si-siapa anak kecil itu?"

"Anak kamu,"

"Anak?"

Sekilas, semua kejadian yang pernah terukir dalam hidupnya, menjadi pengantar bagi ingatannya untuk bisa menemui jalannya. Dari perasaan aneh yang ia rasakan selama ini, pelan-pelan mengetuk daya ingatnya.

Dimas menundukkan pandangannya. Betapa besar rasa malu yang tengah ia tanggung di hadapan Nisa saat ini, diiringi rasa bersalah dan penyesalan yang kini sudah tak ada arti lagi.

"Maafin aku, atas semua perbuatan yang udah aku lakuin ke kamu. Aku salah, udah banyak nyakitin hidup kamu. Aku nggak ada maksud buruk, semua ini terjadi tanpa perencanaan." Terlihat Nisa memalingkan muka, seperti tak sudi lagi memandang.

"Kamu udah mempermainkan hidup aku!" Nisa balas menatap. "Kenapa nggak dari awal kamu jujur, kalau kamu bukan suami aku! Udah berapa kali kamu nyentuh aku, dan kamu melakukannya dengan penuh kesadaran!" bentaknya penuh murka.

"Kamu pikir minta maaf aja cukup? Kamu udah rusak seluruhnya! Dan sampai kapanpun, kamu nggak akan pernah bisa menebus semua ini."

"Aku tahu, aku emang nggak akan pernah bisa nebus semua kesalahan aku. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku nggak ada niat buat jebak kamu dalam permasalahan ini. Semua terjadi gitu aja, dan ngalir sampai sekarang." Memegang tangan Nisa. "Makasih Nis, untuk semua waktu dan perhatian kamu selama ini. Entah kamu datang dari mana, kamu udah berhasil mewarnai hidup aku," tuturnya penuh makna.

"Cukup!" potongnya sembari menaikkan jari telunjuk. "Aku benci sama perbuatan kamu! Bisa-bisanya kamu menikmati semua kebohongan ini."

"Terserah kamu mau mikir apa sekarang. Kamu mau pergi, silakan. Aku ngga akan nahan kamu lagi."

"Kamu emang nggak punya hati!" ucapnya dengan nada penuh amarah. Ia memilih pergi diiringi hentakan kakinya yang begitu menggema saat berbenturan dengan lantai marmer.

Dimas menatap sendu setiap detik langkah Nisa, hingga wujudnya tak lagi terlihat dalam bidang pandangnya. Perlahan, air mata itu kembali jatuh. Dengan cepat ia menepisnya.

"Jangan lupa berkunjung ke apartemen ini, saat kamu udah benar-benar pergi. Ada banyak kenangan yang udah kamu ukir di setiap sudut ruangan ini. Tawa, bahagia, dan rintihan air mata kamu, semua menyatu dengan penuh kasih." Jeda. "Jangan lupakan aku," monolognya.

Nada itu terdengar sangat kental. Ada makna lain di balik setiap penuturannya.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang