23. Ruang Tanpa Obrolan: Pada Jakarta

39.1K 11.3K 2.7K
                                    

Dan bukankah selalu ada kata 'selamat' dalam selamat tinggal?
Sementara aku tidak mengucapkan kalimat itu sama sekali

○○○》♡♡♡《○○○


Jam 2 dini hari, Nana baru sampai di rumah. Ia membiarkan tubuhnya terduduk di atas dipan. Ia menyaksikan bagaimana cahaya bulan sabit di atas sana menghilang perlahan-lahan, ditelan mendung pekat. Suara angin bergemerisik, ribut di atas kepalanya seolah sedang mendiskusikan ranah penting kepada daun-daun pohon mangga. Sementara di sepanjang pagar, bunga-bunga matahari nampak memantul. Seperti menahan beban hidup yang terlampau berat, ia terkantuk-kantuk seirama embusan angin menjelang subuh.

Kemudian ia memperhatikan pot-pot sukulen milik Jaya yang kini nyaris memenuhi rak tanaman. Jumlahnya mungkin sudah sampai ratusan sekarang. Dulu sekali, Sastra yang mengajarkan Jaya bahwa merawat tanaman itu sama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dan ketika orang-orang bertanya tanaman apa yang paling Jaya suka, dia memilih sendiri tanaman favoritnya: kaktus dan sukulen.

Sejak hari itu, setiap tanggal 5, Sastra selalu membawa pulang setidaknya 1 pot sukulen atau kaktus. Sampai bagian samping dekat garasi terlihat warna-warni karena pot-pot sukulen milik Jaya. Dan di bagian paling atas rak, ada satu Echeveria Minima yang nampak rimbun dalam pot. Ia mulai beranak-pinak setelah setahun berada di sana. Sukulen hadiah dari Gayatri. Dan Nana hanya bisa memperhatikan tanaman itu dengan sepasang mata yang menghangat. Karena belum genap 5 jam perpisahan mereka, Nana sudah merindukannya setengah mati.

"Na.." bahkan saat ini, Nana masih mendengar dialog terakhir itu. Ketika ia menurunkan Gayatri persis di depan pagar rumahnya. Sebelum ia berbalik, gadis itu menahan dirinya. Hanya untuk mengatakan sebaris kalimat, "Maafin ibu aku ya? Maafin semua salah ibu aku ke kamu."

Dan yang Nana dengar untuk kedua kalinya adalah, "Maaf juga kalau selama ini aku belum cukup baik buat kamu."

Tidak ada yang bisa Nana katakan lagi setelah itu. Segala kata-kata yang selalu berlarian dalam pikirannya selama ini seolah habis tanpa sisa. Yang ia lakukan terakhir kali untuk gadis itu hanya sebuah pelukan hangat. Dan ia menyimpan kehangatan itu untuk ia bawa sampai sekarang, sampai ia tiba di rumahnya dengan perasaan yang begitu kosong.

Akhirnya, di jam 2 pagi, tepat di hari ulang tahunnya, Nana menangisi perpisahan yang baru saja ia berikan pada Gayatri. Diiringi bayangan masa lalu mereka yang begitu indah. Dan mungkin, halaman ini menyimpan semuanya jauh lebih banyak dari yang ia kira. Mulai dari Gayatri yang menangis, Gayatri yang selalu menjahili dirinya, Gayatri yang rambutnya dikuncir dua, Gayatri yang... benar kan? Segala hal yang ia temui selalu soal gadis itu.

Hubungan asmara diantara keduanya memang baru terjalin 1 tahun, tapi kenangan yang pernah mereka lewati bahkan hampir seumur hidup mereka saat ini. Lalu ketika kenangan itu memaksa dirinya untuk kembali mengingat semuanya, ia terisak. Nana awalnya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi ketika ia pulang, lalu ia duduk di dipan seperti saat ini, perasaan kosong itu seperti sedang meremasnya dalam kekecewaan yang sangat kuat. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang ternyata, tidak sekuat dan sehebat itu untuk mempertahankan perasaan diantara dirinya dan Gayatri.

Akhirnya, ia mengambil langkah mundur. Untuk memberi ruang yang besar. Untuk jarak yang mungkin akan semakin jauh setelah ini. Sampai kemudian ia menyadari satu hal: ia kembali kehilangan.

"Aku masih mau jadi teman baik kamu. Jadi kalau suatu saat kamu butuh aku, datang ya, Na. Cari aku kapanpun kamu mau." Gayatri bahkan sempat berkata seperti itu. Tapi bagaimana ia bisa mendatanginya lagi? Setelah ada lubang besar diantara mereka, setelah perpisahan yang begitu pahit, bagaimana mungkin Nana bisa mencarinya meskipun itu adalah keinginan terbesarnya?

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang