Bagian 2

9.9K 424 26

Ara's POV

Malam ini begitu dingin. Dan jalan raya ini semakin terlihat ramai,mungkin para pengguna jalan ini baru pulang lembur. Kukayuh sepedaku untuk segera menuju restaurant besar " DELICIOUS " yang sudah terlihat olehku didepan sana. Bukan untuk "sok-sok'an" makan ditempat itu, lagian mana cukup uangku untuk makan di restaurant mahal seperti itu. Aku hanya ingin menjemput ayahku yang bekerja sebagai cleaning service di sana.
Kulihat ayah sudah menungguku disamping gang dekat restaurant. Setelah aku sampai, ayah terlihat heran menatapku

" Kok pake sepeda Ra, motornya kemana? "

" Bannya bocor Yah, terpaksa tadi gangguin mang Udin bentar buat benerin... Kalo nggak gitu besok kita berangkat kerjanya gimana, kalo naik angkot lagi Ara males hehehe " jawabku. Mang Udin adalah pemilik bengkel kecil dekat rumahku, yang sebenarnya sudah tutup sejak sore tadi.

" Ya sudah, sini ayah boncengin. Kamu tadi pulang jam berapa? Nggak lembur lagi? "

" Nggak yah...kerjaannya dikit soalnya. Tadi pulang jam empat " jawabku sambil mulai membonceng ayah.

  " emang nggak berat apa yah? " tanyaku saat kulihat ayahku mengayuh sepeda seperti tanpa beban, padahal aku diboncengnya.

" Badan ringan kaya krupuk gitu mana berat? Hahaha..."

" Ih ayah nyebelin... " aku pura-pura merajuk.

Kami tertawa dan mengobrol disepanjang jalan, hingga tanpa terasa kami telah sampai di rumah. Karna memang jarak restaurant tempat ayah bekerja lumayan dekat dengan kawasan perkampungan tempat tinggalku. Berbeda dengan tempat kerjaku yang sedikit lebih jauh, yaitu disebuah pabrik Garment di jalan Sudirman. Meskipun begitu, arah jalan tempat kerjaku dan ayah adalah satu rute. Jadi kami slalu berangkat dan pulang bersama, walaupun terkadang aku pulang lebih awal karna tak ada lembur. Jadi saat ayah pulang kerja malam hari pasti aku  menjemputnya.

Aku segera masuk ke dalam rumah, dan ayah memasukkan sepeda digudang samping rumah yang juga bisa untuk tempat sepeda dan motor. Kulihat ibu sedang menyiapkan secangkir kopi untuk ayah.

" Denis udah tidur ya Bu ? " tanyaku saat aku tak melihat adikku yang masih kelas 2 SD itu tak ada didepan tv, padahal saat kutinggalkan tadi dia masih menonton tv.

" Udah barusan. Ayahmu mana? "

" Lagi masukin sepeda, ya udah bu Ara juga mau tidur dulu ya... "  jawabku seraya pamit untuk istirahat karna aku juga mulai mengantuk.

" Motornya nggak sekalian kamu ambil tadi Ra? " tanya ibuku, aku baru ingat...

" Oh iya... Ara lupa!!" jawabku kaget, dan segera berlari hendak keluar rumah. Tapi segera dicegah ibu,

" Besok aja Ra... Katanya kamu ngantuk, besok pagi juga nggak apa-apa kan? "

Aku mengurungkan niatku.
" Iya bu hehehe, ya udah Ara tidur dulu bu..."

" Iya sayang, " jawab ibuku.

*****

Vina's POV

Jam 20.00, seperti biasa aku segera keluar ruanganku dan menuju mobil yang kuparkirkan didepan restoku. Beberapa karyawan atau pelayan ditempat ini menyapaku. Aku membalas dengan menganggukkan kepalaku. Sempat kudengar bisik-bisik diantara mereka, walaupun sangat pelan tapi dapat ku dengar dengan jelas.

" Bu Vina benar-benar ganteng ya? Astaga....aku suka banget liatin wajahnya"

" Kalau kaya gini terus, aku  yang lurus bisa-bisa belok gara-gara beliau ntar....hadeuh... " dan masih banyak lagi.

Pujian yang tiap hari dan tanpa lelah mereka tujukan untukku. Aku memang punya style yang bisa dikatakan 90% hampir mirip laki-laki. Yang membuatku terlihat sebagai wanita adalah gundukan didadaku yang memang terlihat jelas Menonjol. Seandainya payudaraku sedikit lebih kecil,aku pasti dianggap laki-laki.

Setelah sampai diluar aku segera masuk kedalam mobil, tujuanku hanya satu. Yaitu menanti kedatangan gadis itu. Gadis yang sudah 2 minggu ini menghantui pikiranku. Dan begitu bodohnya aku karna aku baru tahu dari satpam restoku bahwa ternyata sudah setahun ini, gadis itu tiap hari selalu ada untuk mengantar jemput ayahnya. Karna ayahnya yaitu pak Adi juga baru setahun ini memang bekerja disini sebagai cleaning service.

Aku menunggu gadis itu hanya untuk memandanginya dari dalam mobil.

Konyol memang....

Tapi itulah yang saat ini baru bisa ku lakukan. Karna aku belum punya rencana tepat untuk mendekatinya.

Kulihat pak Adi sudah menunggu anaknya di tempat biasa.
Tak sampai 5 menit gadis itu muncul,

Astaga...

Seperti ada hal aneh, tiba-tiba saja aku merasa seperti terhipnotis. Mataku enggan berpindah pandang, tak henti-hentinya melihat ke arah gadis itu....

Dia manis sekali.

Dengan sweater biru muda dan celana pensil semakin membuatnya terlihat sangat imut. Rambutnya dikuncir kuda memperlihatkan leher mulusnya yang slalu membuatku ingin mencium leher itu selain bibirnya.

Arrrggghh..

Aku benar-benar tergila-gila pada gadis itu, dan mungkin saja bisa gila betulan kalo seperti ini terus. Jantungku dibuatnya berdetak sehebat ini....

Aku memang beberapa kali jatuh cinta dan berhubungan dengan beberapa wanita, tapi entah kenapa hanya gadis itu yang mampu membuat perasaanku jadi lebih tak masuk akal.

Oh ya Tuhan aku baru sadar, kenapa dia pakai sepeda? Apa rumahnya dekat dari sini? Apa dia tidak capek? Dimana motornya? Apa dia tidak takut malam-malam bersepeda sendiri hanya untuk menjemput ayahnya, yang sebenarnya orang tua itu bisa cari ojek sendiri tanpa merepotkan anak gadisnya. Apa orang tua itu tidak khawatir?

Haaaah....bahkan hal sesepele inipun aku khawatirkan. Aku harus bagaimana, dengan cara apa aku bisa mendekati gadis itu?

Lama aku berkutat pada isi kepalaku, tiba-tiba Handphone dikantong kemejaku berdering hingga membuatku terlonjak kaget.

"Sial...!" Umpatku

Kulihat dilayar Handphone tertera nama Siwi. Manager restoku yang dulu sempat  berpacaran denganku itu meneleponku. Kuangkat telponnya tanpa mengalihkan pandanganku pada pak Adi dan gadis pujaanku yang mulai berboncengan,

" Lo dimana sih Vin, ada complain ni... " cerocos Siwi dengan suara agak meninggi diseberang telepon. Aku tahu pasti dia ada diruanganku saat ini.

" Astaga Siwi, lo itu manager kan? Itu kan tugas lo..! " ketusku.

" Tapi ini orangnya galak banget Vin... Gue ngeri jadinya " ujarnya dengan suara yang berubah manja. Aku menghela nafas, itulah kenapa aku dulu bisa putus dengannya. Aku tidak suka sifat manjanya yang terlalu dibuat-buat dan terkadang berlebihan. Tapi dibalik sifatnya itu dia punya otak yang cerdas, maka dari itu dia langsung kujadikan manager restoku saat dia dulu merengek meminta pekerjaan dengan alasan agar selalu dekat denganku.

" Gue mau pulang, agak pusing " aku berbohong karna saat ini aku sedang tidak ingin meladeninya. Segera kuputuskan sambungan teleponnya. Dan segera menghidupkan mobil, aku mau pulang lebih awal meskipun restoku masih tutup jam 11 malam nanti.

*****

(AMO)

So Possessive (gxg)Baca cerita ini secara GRATIS!