22. Sayonara, It's Been Nice to Love You!

52.8K 11.9K 4.7K
                                    

Tidak semua orang berakhir menjadi teman hidup, beberapa di antaranya hanya menjadi pengalaman hidup
Dan pengalaman hidupku adalah kamu

○○○》♡♡♡《○○○


"Bisa nggak kalau kita berhenti di taman komplek sebentar?"

Sesaat, Nana menoleh ke belakang. Kencangnya suara angin ketika ia berkendara membuat suara Gayatri tak terdengar sama sekali. Mendekati tengah malam, ia harus berkejaran dengan waktu. Ia harus cepat-cepat mengantarkan gadis itu pulang sebelum malam semakin larut. Kemudian dia akan kembali ke kampus untuk menyelesaikan kesibukannya hari ini.

"Kamu ngomong apa?!" Akhirnya ia berteriak, memastikan apa yang dikatakan Gayatri barusan. "Aku nggak dengar!"

"Mampir ke taman di depan sebentar," yang perempuan tak kalah kencang berteriak. "Ada yang mau aku omongin sama kamu!"

Nana tidak membalas apa-apa lagi setelahnya. Tapi dia mendengar dan dia tahu dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Karena sepanjang perjalanan, yang ia rasakan hanyalah keresahan--seolah tahu bahwa akan ada hal buruk yang akan terjadi.

5 menit kemudian mereka sampai. Dengan keheningan panjang yang justru mereka habiskan tanpa dialog. Membuang waktu sedikit lebih lama pada malam yang begitu dingin. Di bawah lampu kemuning taman, mereka duduk bersebelahan. Sedikit berjarak, seolah melatih diri masing-masing bahwa setelah ini, jarak diantara mereka akan lebih jauh terbentang dari jarak malam ini.

"Waktu itu kamu sama ibu duduk di sini," akhirnya, Gayatri bersuara. Dengan sedikit hela napas sesak di detik berikutnya. Ia menunduk dalam-dalam, pada ujung-ujung sepatunya yang mengkilap.

Sementara di sebelahnya, Nana tidak jauh berbeda. Ia menelisik jauh ke depan, pada kelopak-kelopak bunga bugenvil yang berserakan di tanah. Mereka gugur, di pertengahan kemarau yang panas.

"Kenapa kamu nggak ngomong apa-apa waktu ibu ngomong kayak gitu?"

Nana tersenyum sumir, sadar bahwa kebohongannya tempo hari berakhir sia-sia. Kemudian ia mendongak, sembari mengeratkan jemarinya. Karena malam ini, dia menggigil bukan main. Dingin ini mengepungnya dari berbagai arah, dan dia tidak menemukan satu tempat pun untuk bersembunyi.

"Ngomong apa? Yang dibilang ibu kan emang bener, Ya." Begitu tuturnya. Dalam keadaan ini, Nana tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak keadaan, tidak juga ibunya Gayatri.

"Na, kamu tahu kalau--"

"Kamu tahu nggak?" Nana tiba-tiba menoleh dengan senyum lebar. "Ternyata Mama punya jurnal tentang aku sama saudara-sadara aku dari kami masih kecil banget. Dan ternyata, ada tentang kamu juga di sana. Karena kamu bagian dari keluarga kami juga. Dari dulu, Mama sama Bapak selalu bilang kalau kamu satu-satunya anak perempuan mereka. Kamu yang udah ada di samping Mama setiap pagi, soalnya pagi-pagi banget Ibu dan Bapak kamu udah pergi dinas. Dan kemarin, aku buka jurnal itu lagi."

Nana melihat jam di pergelangan tangannya, hanya untuk menemukan bahwa ternyata, waktu berjalan begitu cepat. Ia seharusnya buru-buru kembali. Tapi dia hanya punya malam ini untuk menuntaskan semua keresahan dan rasa takutnya selama ini. Ia hanya punya malam ini untuk mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang lebih layak. Walau, selamat tinggal tidak akan pernah berakhir dengan perasaan yang baik. Walau... sebaik apapun selamat tinggal mampu dikatakan, yang membekas hanyalah rasa sakit.

"Aku pikir, apa yang kita punya selama ini selalu cukup. Tapi ternyata, enggak sama sekali, Ya. Dan keadaan ini bikin aku sadar. Nggak peduli seberapa besar aku mencintai kamu, aku nggak bisa memaksakan apapun. Aku bisa memperjuangkan kamu, tapi untuk hal ini... aku nggak punya kekuatan apa-apa."

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang