Part 27 - Istri Posesif

2 1 0
                                    

Hari ini, di kamar bernuansa putih. Dimas tengah duduk di samping jendela transparan yang berukuran besar serta dibaluti oleh gorden putih. Ia berhadapan tepat dengan layar laptopnya. Terdapat kertas putih yang berserakan di meja, dan tak lupa teh panas kesukaannya.

Sedang di seberang sana, ada Nisa yang masih terlelap dalam tidurnya. Semalam, ia baru saja dari pesta pernikahan rekan kerja Dimas. Pulang sangat larut, dan tak sempat mengganti dress mini miliknya. Beberapa menit kemudian ia terbangun. Membuka mata perlahan, dan mendapati Dimas dalam pandangan pertamanya.

"Mas," panggil Nisa, Dimas menoleh cepat. Mengangguk dan tersenyum simpul.

"Udah bangun kamu?" Sembari meneguk tehnya.

"Mas kenapa nggak bangunin aku? Aku kan jadi telat bikin sarapan buat kamu." Nisa sedikit kesal, ia seperti lalai menjalankan tanggung jawabnya.

"Nggak papa." Senyum ikhlasnya itu sangat menggoda. "Aku udah terbiasa nggak sarapan."

"Apa?" Nisa melunjak kaget dari kasur. Ia berjalan menghampiri Dimas. "Jadi selama ini, aku nggak pernah nyiapin sarapan buat kamu? Iya? gitu?" Matanya melotot. Istri macam apa yang tidak melayani suaminya di pagi hari? Pikirnya.

"Nisa, Nisa, tenang." Menarik tangan Nisa dan menyuruhnya duduk. "Maksud aku, selama kamu dirawat, emang nggak ada yang nyiapin sarapan buat aku. Jadi aku udah terbiasa nggak sarapan."

"Ya ampun, Mas. Jadi ini aktivitas pagi kamu? Buruk bangat tahu nggak! Nggak boleh minum kafein kalau belum sarapan!" teriak Nisa di hadapan Dimas. Ini justru mengundang kemarahan pihak yang lain juga.

"Nggak usah marah-marah di depan aku. Aku nggak suka lho! Mending sekarang kamu mandi, terus siapin sarapan." Nisa terdiam, tak ingin balas mengoceh lagi.

"Kamu ke kantor hari ini, Mas?" tanyanya setelah berhasil mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Ia pikir Dimas sudah sangat marah padanya, menatapnya saja sudah enggan.

"Iya." Ia mulai menatap lekat wajah Nisa. "Hari ini ada sekretaris baru di kantor, aku harus datang untuk ngasih dia bimbingan."

"Perempuan, Mas?" Nisa memajukan badannya.

"Aku nggak tahu Nis. Manager Papa yang udah bantu cariin."

"Aku boleh ikut ke kantor?"

Dimas berdehem, mendekati Nisa pelan dan berbisik di samping telinganya. "Kalau mau ikut, mandi sana!" Nisa tertawa kecil, ia segera beranjak.

"Ya udah bukain." Nisa menyodorkan tubuhnya dan berdiri tepat di hadapan Dimas, ini membuatnya bingung.

"Apanya yang dibuka?"

"Resleting dress yang di belakang, Sayang. Tangan aku nggak sampai."

Dimas menelan salivanya kasar, entah pemandangan apa yang disuguhkan untuknya pagi ini.

Stttret.

"Udah." Mendengar hal itu, Nisa memutar badan dan hendak membuka dress miliknya.

"Eh, kamu mau ngapain?" kaget Dimas, ia memundurkan kursi duduk miliknya.

"Ya aku mau buka dress lah, mau mandi. 'kan?"

"Ngapain buka di sini, di dalam aja!"

"Kok gitu, emang nggak boleh?"

"Ya nggak boleh lah, orang kita belum," ucapnya terpotong.

"Apa?"

"Nisa, Sayang." Dimas berdiri. Memeluk pinggang Nisa sembari menuntunnya berjalan. Tanpa sadar, mereka sudah berada di depan pintu kamar mandi.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang