Part 8 - The Accident

1.3K 29 3

Cloudy mengerjapkan kedua matanya. Dilihatnya cahaya putih diatasnya yang seketika menyilaukan matanya. Tercium aroma yang sangat asing baginya, aroma seperti obat-obatan.

Cloudy membuka penuh kedua matanya secara perlahan. Pemandangannya diliputi dengan ruangan serba putih, orang-orang disekitarnya terlihat berlalu lalang. Cloudy merasa sangat asing ditempatnya berada saat ini. Dan setelah melihat selang infus di tangan kirinya, barulah Ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit. 'Apa yang terjadi?' begitu pikirnya pertama kali.

Cloudy mencoba bangkit dari tidurnya, namun rasa pening yang hebat menerpanya, membuat ia tak punya pilihan lain selain terlentang kembali. Cloudy melihat ke sisi kanan, ada Adrian sedang terlelap dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Raut wajah Adrian terlihat sangat lelah, tubuhnya juga terus bergerak karena posisi tidurnya yang kurang nyaman. Cloudy terus memperhatikan Adrian, sampai tiba-tiba Adrian tergelak dari tidurnya dan terbangun.

"Hey, udah bangun. Gimana rasanya? Ada yang sakit?" tanya Adrian dengan cemas saat melihat Cloudy yang sudah terbangun.

Wajah setengah sadarnya Adrian membuat Cloudy terkekeh geli.

Adrian terlihat bingung "Kok malah ketawa?"

Cloudy hanya membalasnya dengan senyuman. Adrian bangkit dari tempat duduknya kemudian duduk di samping tempat tidur Cloudy.

"Kepala lo sakit?" Adrian mengusap lembut kepala Cloudy yang terlilit oleh perban.

Cloudy mengangguk. "Gue.. kenapa.. Dri?" tenggorokan Cloudy terasa tercekat, sulit sekali mengeluarkan suara.

"Udah nggak usah mikir macem-macem dulu ya." Adrian tersenyum simpul. "Suster?"

Seorang suster berlari kecil ke arah Cloudy dan Adrian. Setelah terjadi percakapan singkat antara Adrian dan suster tersebut, suster itu pun pergi meninggalkan mereka berdua dan tak lama kemudian, suster tersebut kembali dengan beberapa alat medis. Cloudy yang tak tahu apa-apa hanya terdiam ketika suster tersebut memeriksa keadaannya.

"Hanya terdapat memar ringan di lengan dan kaki, selain itu tidak ada luka serius, dan kalau terasa pening di kepala itu dikarenakan benturan kecil yang dialami pasien, namun secepatnya akan membaik." Adrian menghela nafas lega mendengarkan penjelasan suster tersebut. Setelah Adrian mengucapkan ucapan terima kasihnya, suster itu pun pergi.

Adrian dengan sigap membantu Cloudy yang sedang berusaha untuk bangkit dari tidurnya. "Jangan banyak gerak, Dy." Ujar Adrian.

Cloudy memberi isyarat dengan tangannya bahwa ia ingin minum, dan dengan cekatan Adrian mengambilkan segelas air putih yang ada di meja samping tempat tidur.

"Gimana udah agak mendingan?" tanya Adrian setelah Cloudy menghabiskan minumannya. Cloudy balas mengangguk.

"Gue belum ngabarin orangtua lo, soalnya gue nggak tau no..."

"Nggak usah." Potong Cloudy.

"Loh kenapa? Mereka kan harus tau kalo anaknya lagi di rumah sakit?"

Cloudy menggeleng lemah. "Ada kerjaan penting yang nggak bisa mereka tinggal."

Adrian hanya menghela nafas berat.

"Apa yang terjadi sih, Dri? Gue cuma inget sore-sore lagi naik sepeda sama lo terus lo teriak 'Cloudy awas!!' abis itu tau-tau gue udah disini."

Adrian menatap Cloudy dengan tatapan lembut. "Tadi pas lagi naik sepeda, lo ngelindes batu, ya.. lumayan gede batunya. Lagi siapa sih orang kurang kerjaan yang taro batu ditengah jalan?!" raut wajah Adrian berubah masam seketika. "Terus dari arah berlawanan ada mobil, lo yang mulai kehilangan keseimbangan akhirnya nggak sengaja nabrak mobil itu, untungnya mobil itu langsung rem mendadak, dan lo kebentur sedikit. Tapi lo udah mendingan kan? Apa masih sakit?" raut wajah Adrian berubah cemas.

Only One [Completed]Read this story for FREE!