Part 23 - Perang Dingin

0 1 0
                                    

Kabar Nisa terdengar oleh Rian, betapa luar biasa sesak yang ia rasakan. Wanita impiannya tengah dalam kondisi darurat. Hilangnya janin yang dikandungnya, serta ingatan yang tidak dapat lagi mengenali masalalunya, membuat Rian begitu haus mangsa untuk menuntaskan rasa kecewanya terhadap Dimas.

"Lu apain Nisa Dim! Tega lu udah bikin hidup gua hancur." Napasnya begitu memburu, seakan siap melenyapkan orang di depannya tersebut.

"Ha!" Acuh Dimas. "Memangnya cuma lu yang hancur? Gua kehilangan anak gua!" lanjutnya menatap manik milik Rian yang memerah, ia nampak menunjukkan raut murkanya.

"SEMUANYA SALAH LU!" teriak Rian, nada tinggi itu membekas di sudut ruang ICU.

"Gua minta maaf Ran, gua juga nggak pengen ini terjadi sama Nisa," sesalnya.

"Gua benci sama lu!" Ia pergi setelah mengatakan hal diluar dugaan, membuat raga Dimas sedikit terguncang.

"Ran dengarin gua." Dimas berusaha mengejar Rian dengan tenaga seadanya, yang tengah berjalan menuju ruang rawat Nisa. Sesekali ia terjatuh, daya tahannya sudah sangat menipis. Napasnya terdengar terputus-putus, namun orang yang dikejarnya itu sama sekali tak melihat ke belakang. Punggung Rian tak lagi terlihat dalam pandangan Dimas, hingga Rian tiba lebih dulu ke ruang rawat Nisa.

Klek.

Suara pintu dibuka, membuat Nisa sontak membulatkan matanya kaget.

"Siapa kamu?" tanyanya dengan wajah penuh ketakutan, entah siapa yang berani menerobos ruang rawatnya seperti ini! Pikirnya.

"Nisa, ini aku Rian. Calon suami kamu." Rian mendekat ke arah bangkar, mencoba mengenalkan siapa dirinya terhadap Nisa.

"Ca-calon suami?" Kening Nisa berkerut, ia bingung dengan apa yang ia dengar. "Aku udah nikah!" ucapnya dengan lantang.

"Nikah? Enggak Nisa, kamu belum nikah. Aku calon suami kamu," ucapnya meyakinkan. Pemaksaan yang coba dilakukannya agar Nisa mengenalinya, justru membuat Nisa semakin merasa terancam.

"Nggak, kamu bohong! Pergi, pergi dari sini!" berontak Nisa, ia menyodorkan jari telunjuknya. Betapa ia benar-benar merasa tidak nyaman oleh keberadaan Rian di hadapannya.

"Nisa, Nisa. Plis dengarin aku dulu. Aku Rian." Rian menunjuk dirinya sendiri, namun cara yang dilakukannya itu hanya membuat Nisa semakin pusing saja.

"Pergiiii!" Nisa berteriak, meremas rambutnya kasar. Ia menerjapkan mata, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang orang ini katakan! Omong kosong!

"Nisa." Dimas lekas datang menghampiri, membuat Nisa menoleh cepat.

"Dimas," sahut Nisa, kehadiran Dimas membuatnya merasa aman.

"Dimas, usir dia!" Tatapan tajamnya mengunci pada pandangan Rian. "Dia pembohong, aku nggak mau lihat dia ada di sini." Lagi-lagi jari telunjuk ia sodorkan pada pria yang mengancam ketenangannya.

"Iya Nisa, kamu tenang. Husst." Dimas berusaha menenangkan, memberikan sedikit dekapan untuk mengusir rasa takut yang dirasakan Nisa.

"Usir dia, usir!" Air matanya seketika jatuh, nada lemahnya mulai terdengar.

"Ran, ikut gua!" Dimas meraih pergelangan tangan Rian, hendak membawanya keluar dari ruangan.

"Nggak, lu udah bikin Nisa lupa sama gua!" tolaknya kasar, membuat lawan bicaranya berteriak. Kesabarannya sudah terkuras habis menghadapi dokter kepala batu di depannya ini.

"RAN! GUA BILANG, IKUT GUA!" Nada hati-hati itu, terdengar penuh racun. Dengan terpaksa ia menyeret Rian keluar dari ruangan.

"Maksud lu apa Ran? Lu mau bikin dia jadi gila? Ha?" ucap Dimas setelah berhasil membawanya keluar dari ruangan. Kini ia dan Rian saling memandang dengan sorot mata yang siap untuk berperang.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang