Part 21 - Awal Dari Segalanya

1 1 0
                                    

Panas terik kota metropolitan, menyerang dua insan yang tengah mengantri di jalan raya. Kemacetan begitu parah, hingga membuat pengendara lain harus berhenti.

Suasana semakin keruh oleh bisingan klakson yang nampak tak sabar untuk segera keluar dari situasi ini. Suara teriakan yang sangat menganggu itu, membuat Nisa diserang rasa pusing. Sudah lumayan lama ia duduk dan menyaksikan betapa padatnya jalan ibu kota, kini kekuatan dayanya terkuras habis.

"Nisa, Nisa kamu baik-baik aja 'kan?" Orang yang ditanyainya itu mengangguk lemah.

"Nisa tahan dulu, bentar lagi macetnya reda. Kamu kuatin diri kamu dulu, oke?" Sekretarisnya itu terjebak dalam kemacetan yang membuat kondisinya melemah.

Sekian menit berlalu, ratusan pengguna kendaraan perlahan meloloskan dirinya. Dimas pun tanpa aba-aba langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi.

"Nisa, kita ke rumah sakit sekarang!"

Sang boss semakin melajukan mobilnya hingga mencapai batas maksimal, keadaan Nisa kini membuatnya panik tak karuan. Bukannya fokus menyetir, ia malah sibuk mengarahkan pandangannya ke arah Nisa.

"Kita bentar lagi sampai, kamu ber,"

"Dimaaaas!!"

Decitan mobil terdengar begitu nyaring, hingga memekakkan gendang telinga.

Scitt! Gubrak! Dor!

Sang boss menabrak truk tangki yang sedang beroperasi hendak memutar arah jalan. Ia tidak dapat menghindarinya, kecepatan mobilnya telah melebihi batas laju.

Suara ledakan yang begitu hebat, mengundang banyak keramaian yang tak dapat dihitung. Sejumlah pengendara lain ikut meramaikan dan melihat apa yang terjadi.

Seluruh warga beramai-ramai merespon situasi itu, salah satu dari mereka memanggil tenaga pemadam untuk segera ditangani.

Truk tangki tersebut segera dievakuasi oleh warga setempat, sang supir langsung dibawanya ke rumah sakit terdekat. Sedang mobil milik Dimas, sudah begitu hancur. Pemandangan mengerikan terlintas dalam pandangan salah seorang warga.

"Pak, Pak! Mereka terjebak di mobilnya, Pak," teriak salah satu dari mereka.

Warga sontak beranjak mengeluarkan korban dari mobilnya.

"Ya ampun, kasian mana lagi hamil."

"Astagfirullah dia perdarahan Bu, Pak," ucap seorang ibu-ibu bergamis. Ia begitu tersentuh untuk membawa Nisa ke rumah sakit, agar mendapatkan perawatan medis secepatnya.

Selang setelahnya, mobil ambulans datang dengan para perawat yang mendorong bangkar. Disusul oleh mobil polisi untuk segera mendeteksi penyebab kecelakaan yang terjadi.

Dimas yang setengah sadar itu, mencoba menahan rasa sakitnya. Darah segar mengalir dari arah hidungnya. Raut kecewa dan emosi saling terpaut di wajahnya, melihat Nisa yang kini terbaring tak sadarkan diri. Perdarahan yang dialami sekretarisnya, semakin membuat Dimas ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga.

Bunyi sirine turut menghiasi jalan raya. Menempuh kurang lebih lima belas menit perjalanan, mobil ambulans yang tengah menampung dua orang ini tandas di rumah sakit.

Mengetahui adanya pasien yang datang, dokter beserta koasnya berhilir mudik mendorong bangkar. Sahutan dan teriakan menggema di rumah sakit itu, Nisa pun lekas dibawa ke ruang VK. Sedang Dimas dimasukkannya ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan serius.

Ibu-ibu bergamis yang ikut mengantar itu, memilih tetap berada di rumah sakit. Mencoba mengabari keluarga korban dengan meminta bantuan pada resepsionis rumah sakit.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang