Part 19 - Penyesalan Seorang Dimas

1 1 0
                                    

Seseorang dengan tampang matang dan berwibawa, duduk menyendiri di antara tiga sekumpulan orang dengan pakaian biasa nan sederhana. Ia terlihat diam, seperti tak ada gairah untuk bersuara.

"Bro?" Salah seorang teman membuyarkan lamunannya.

"Aa, kenapa?" sahutnya.

"Lu kenapa? Tumben nggak ngomong apa-apa."

"Lu manggil kita ke sini buat acara apa?" tanya teman yang lain.

"Gua, sebenarnya lagi ada masalah."

"Masalah kantor jangan lu bawa sampai ke sini, Bro."

"Nggak. Kali ini beda. Gua ngerasa jadi orang tergagal di dunia"

"Sejak kapan pembisnis lakuin hal tergagal di dunia, hahaha!"

Dimas menetralkan deru nafasnya, ia sedikit membungkukkan badannya ke depan.

"Gua hamilin perempuan."

"Aaaa?" Mereka kaget bersamaan.

"Serius lu?"

"Yang benar aja lu, Bro?"

"Saat itu gua mabuk, dan gua benar-benar ngerasa jadi orang pecundang."

"Sampai hati lu nekat lakuin itu, Bro."

"Gua nggak tahu, gua nggak sadar."

"Siapa perempuan itu?"

"Sekretaris gua sendiri."

"Terus lu nikahin dia?"

"Nggak."

"Lah, ini yang namanya pecundang. Berani berbuat, nggak berani tanggung jawab."

"Bukannya gua nggak mau tanggung jawab, masalahnya dia itu calon istri adik gua. Mereka mau nikah, bukan hak gua juga misahin orang yang saling cinta."

"Ya tapi itu anak lu, Bro."

"Mau gimana lagi, hidup gua benar-benar kacau sekarang. Gua udah hancurin hidup perempuan, gua nyakitin hati adik gua sendiri, dan sekarang gua masih bebas berkeliaran kayak gini."

"Udah lah Bro, nggak usah ngerasa yang paling bersalah. Lu 'kan nggak tahu dia calonnya adik lu, dan lu lakuin semua itu secara nggak sadar."

"Kisah hidup bokap gua, seperti lahir kembali ke hidup gua. Dan gua nggak tahu, akhirnya bakal seperti apa."

Yah! Kisah hidup Pak Abram, seperti bereinkarnasi. Kedua saudara itu telah mengulang perjalanan yang sama.

"Gua gagal menjaga diri gua dari orang yang gua cintai selama ini."

"Udah lah, jalan hidup nggak ada yang tahu."

Meratapi kisah lama yang terkubur lima tahun ini, membuat Dimas kembali merasakan sesak yang begitu menusuk.

***

"Lu itu kurang ajar ya, sampai hati lu bikin gue kena sanksi dari Pak Iky!" bentak Fafa pada salah seorang mahasiswa. Namun yang dibentaknya itu tak juga kunjung memberikan respon, hanya diam menatapi kemarahan Fafa terhadap dirinya.

"Gua ada masalah apa sama lu?" jawabnya dengan santai.

"Haa? O iya, gue lupa. Cowok emang nggak pernah punya masalah, tapi dia sering bikin cewek dalam masalah!"

"Ngapain juga gue lempar lu ke dalam masalah?"

"Liat!!" Fafa menyodorkan ponselnya, membuat mahasiswa itu bereaksi panik.

"Ini bukan gua," elaknya.

"Terus lu mau bilang, kalau ini kembaran lu?"

Ia diam terpaku, isi ponsel itu memperlihatkan dirinya yang tengah berhadapan dengan seorang dosen. Sosok Gio, terlihat jelas pada layar ponsel milik Fafa.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang