Part 18 - Perhatian Kecil

1 1 0
                                    

Dua bulan berlalu, kandungan Nisa telah memasuki minggu ke 8. Perubahan sudah ia rasakan beberapa terakhir ini, sering mual dan suasana hati yang yang tidak konsisten.

Seperti hari ini, keras kepalanya itu telah membawanya untuk datang ke kantor, membuat Dimas tidak bisa menyembunyikan rasa amarahnya.

"Saya nggak pernah mengijinkan perempuan hamil bekerja di kantor saya!" bentak Dimas, membuat Nisa justru semakin melawan.

"Saya kalau nggak kerja, perusahaan ini nggak akan terurus dengan baik!"

"Saya punya banyak karyawan di kantor ini, nggak usah ngerasa kalau kamu yang paling handal mengurus semuanya!"

"Memang iya kok, aku yang paling bisa. Kalau nggak, ngapain juga Bapak ngangkat saya jadi sekretaris?" lawannya dengan sangat pede, seolah membanggakan kinerja kerjanya yang begitu baik.

"Saya nggak peduli seberapa besar peran kamu di perusahaan ini, yang jelas sekarang, kamu pulang!"

"NGGAK!"

"NISA JANGAN KERAS KEPALA, YA! Lagian Rian mana nggak sama kamu?"

"Rian lagi nugas di Solo," jawabnya singkat.

"Ya udah, aku antar kamu pulang."

"Ngapain pulang, aku mau di sini."

Dimas mengepalkan tangannya, lalu mengusap wajahnya kasar.

"Oke, tapi jangan pernah keluar dari ruangan ini!"

"Nggak bisa, aku harus antar dokumen."

"Astaga Nisaaaa!" Dengan sangat terpaksa Dimas menyeretnya dan menyuruhnya duduk di sofa.

"Diam di sini, oke?"

"Ada syaratnya," ucapnya kemudian.

"Apa?" tangkas Dimas cepat.

"Beliin ketoprak di luar." Permintaannya itu membuat Dimas menelan salivanya pelan.

"Tunggu di sini."

Asik menunggu sang boss dengan ketoprak pesanannya, Nisa dengan lancangnya membuka laci pribadi milik Dimas.

"Ouh, nggak nyangka si bapak ternyata raja bucin," herannya, ia menemukan kertas putih dengan tulisan tinta yang tersusun rapi di laci Dimas.

Nisa menemukan sepotong foto. Rupanya itu adalah foto yang sudah dirobek, hanya menyisakan wajah Dimas yang tengah mengenakan jas nuansa putih seperti jas pengantin.

Tak sempat membaca semua isi surat itu, Dimas sudah datang lebih dulu.

"Nisa," panggilnya, ia langsung menghampiri Nisa dan melihat apa yang dilakukan sekretarisnya itu.

"Ngapain?" tanya sang boss mengintrogasi, membuat Nisa menjadi salah tingkah.

"Oh, enggak. Ini cuma, anu. Eh makasih ketopraknya, Pak," ucapnya sembari menyengir kuda, ia meraih bungkusan ketoprak di tangan Dimas, lalu kembali dan duduk di sofa.

"Lain kali, jangan buka benda milik orang tanpa izin," tekan Dimas sebagai peringatan.

"Iya, Pak maaf. Itu nggak disengaja."

"Kamu makan ketopraknya, aku tinggal ke ruang IT dulu."

"Makasih. Nggak ikut makan, Pak?" tawarnya.

"Saya nggak hamil, kamu aja," balas Dimas datar, segera meninggalkan ruangan.

Tok tok.

Suara pintu diketuk, Nisa menyahut dari dalam tanpa membukanya.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang