Part 16 - Rasa Yang Kuat

1 1 0
                                    

"Yayah, Mama enapa nda ikut alan-alan?" tanya Akira yang saat ini tengah menikmati harinya bersama Doni.

"Mamanya Kira capek habis pulang kerja, jadi istirahat dulu. Nggak bisa temani Kira jalan-jalan, makanya sama Ayah." Penjelasan Doni cukup membuat Akira tidak bertanya apapun lagi.

"Ayah e ana," pinta Akira dengan telunjuknya yang mengarah pada satu tempat.

"Mau main kuda-kuda?" Akira mengangguk.

Wahana permainan yang ramai diminati anak-anak itu, juga menarik pandangan Akira untuk ikut merasakannya.

Asik bermain, hingga Doni pun lupa siapa dirinya. Kini ia ikut larut dalam permainan anak-anak itu.

***

"Pak, saya masih bisa ngejar skripsi 'kan, Pak?" ucap Fafa yang tengah berhadapan dengan dosennya, betapa jauh ia tertinggal karena prioritasnya yang selalu tertuju pada Akira selama ini.

"Kamu selesaikan skripsi A sampai dengan Z, dalam waktu tiga minggu. Lewat dari itu, sidang kamu akan saya tunda. Dan wisuda harus menunggu satu tahun lagi."

"Ti-tiga minggu, Pak?" Fafa berdecak heran.

"Iya, dan akan ada tugas tambahan untuk pemenuhan nilai UKK kamu yang di bawah rata-rata."

"Tugasnya apa, Pak?"

"Nanti akan saya beritahu."

"Baik, Pak. Terima kasih."

"Terima kasih apa? Senang kamu di situasi ini?"

"Bukan gitu, Pak. Makasihnya itu karena Bapak udah ngasih kesempatan."

"Ya sudah, kamu manfaatkan waktu kamu dengan baik!"

"Siap Pak. Kalau gitu, saya permisi ya, Pak."

Semenit kemudian setelah Fafa keluar dari ruangan dosen, betapa ia begitu menggerutu dan menggertakkan giginya kesal. Bagaimana waktu tiga minggu itu bisa ia selesaikan menyusun skripsi?

"Bisa-bisanya gue terjebak di situasi ini!" monolog Fafa, tak sadar jika mahasiswi lain sedang memperhatikan tingkahnya.

"Fa, lu sakit?" tanya seorang temannya yang baru saja berjalan dari arah kantin.

"Gue nggak sakit Rain, gue sekarat."

"Gimana-gimana?" Mengedipkan mata berkali-kali. "Ikut gue ke kelas private. Sasa, Nayla sama Serra nungguin lo dari tadi," ajak Raina menuntun Fafa berjalan, kekuatan tulangnya seakan rapuh seketika.

"Lu kenapa sih? Datang-datang lemas bangat kayak kepiting rebus," sahut Sasa yang baru kali ini melihat Fafa yang tampil tak bersemangat.

"Wah, kena mental nih anak," tambah Serra.

"Kesel bangat gue sama Pak Iky, bisa-bisanya ngasih gue waktu tiga minggu buat ngerjain skripsi sampai tuntas!"

"Apaaa," kaget Nayla, ia langsung mendekat dan memberi penenangan dengan sebuah tepukan di pundak Fafa.

"Terus gimana sekarang?" tanya Serra.

"Ya bantuin gue lah guys!!"

"Lo tenang aja, nanti gue bantuin nyari judul skripsinya," ucap Raina.

"Lagian bisa-bisanya lu tertinggal jauh Fa, kita udah di London lu masih di Cikarang," ujar Sasa yang nampaknya membuat tawa sedikit terselip di antara mereka.

"Senang bangat lu ngetawain orang!" balas Fafa.

"Enggak, duka lu duka kita juga," lerai Raina.

"Enak aja!" Jeda. "Iya-iya, duka kita SEMUA! Sini peluk yuk," ujar Sasa merangkul semua teman-temannya.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang