20. Lagu Minor

52.1K 12.5K 3.4K
                                    

Kini, kita adalah lagu-lagu bernada minor
Dan aku menyanyikannya dengan putus asa
Bisakah lirik ini aku ganti dengan nada mayor
Walau tak cocok sebab terlalu ku paksa
Tapi, setidaknya, bisakah?
Bisakah kita menjadi lagu mayor yang bahagia?

○○○》♡♡♡《○○○

Suatu hari di bulan juni, Nana pernah berharap bahwa kematian kakaknya adalah sebuah mimpi buruk belaka. Pernah sekali, ketika ia terbangun keesokan paginya, ia akan menemukan Mama mengomel karena ia bangun keseiangan--terikat mimpi perihal kehilangan. Tapi di suatu hari pada bulan juni kala itu, ia terbangun dengan perasaan yang begitu kosong. Ada sebagian dalam dirinya yang hilang dan ketika ia beranjak dari tempat tidurnya, ia menyadari bahwa kehilangan itu bukan lagi soal sesuatu yang bisa ia cari untuk kemudian ia temukan.

Bulan juni dan hujan-hujan yang jatuh sepanjang harinya membuatnya semakin merasa terjerembab. Pada kubangan putus asa dan ia terlalu sangsi untuk mengulurkan tangan pada sekelilingnya.

Dan malam ini, ketika ia mendengar suara Eros marah-marah pada Cetta, ia merasakan perasaan itu lagi. Kosong. Dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, ia meraba-raba pikirannya sendiri. Seandainya dia ada di sini, pasti dia akan berubah menjadi kompor meleduk. Dan Cetta pasti tidak akan selamat seperti sekarang.

Di hadapannya, laptop kakaknya itu menyala. Puluhan folder ia buka, tapi Nana tidak menemukan apapun yang mampu menjawab pertanyaannya. Tapi isi dari galeri foti yang laki-laki itu simpan setidaknya mampu membuatnya merasa sedikit lebih baik.

Ada banyak sekali foto-foto masa kecil mereka yang tersimpan di sana. Bahkan Nana sempat tidak habis pikir ketika ia menemukan foto ktp Bang Tama dan Kak Ros di sana.

"Gue curiga.." ia berbisik pada dirinya sendiri. "Sewaktu-waktu kalau Kak Ros beneran tipe-x nama dia dari KK, dia pasti gunain ini buat pinjaman online."

Lalu dengan begitu saja, anak itu tergelak. "Balas dendam yang nice, Brother!"

Tapi kemudian tawa itu berhenti, pada folder bergambar hati yang sengaja ia buka paling akhir. Dan seharusnya dia tahu foto siapa yang akan berada di sana. Ada lebih dari 2 ribu foto Sahara dalam berbagai situasi. Lalu setelah itu ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Untuk mengambil satu lipatan origami berwarna merah dari dalam laci.

Ia membukanya perlahan-lahan. Dengan tarikan napas panjang--tanda bahwa di ujung hari itu, ia sedang kelelahan.

"Adinata Aileen Caesar. Dia terlahir dengan jiwaku yang dipenuhi iri. Dia terlahir dengan aku yang perlahan-lahan merasa kebas. Tapi ketika Tuhan membuatnya meringkuk kesakitan, aku justru marah. Dan seperti namanya, aku berharap dia akan sembuh. Lalu menjadi bintang yang bersinar terang di semesta ini. Sembuh, dan bersaing denganku."

Nana rasa, kakaknya itu menulis ini sambil menangis. Merutuk pada Tuhan tentang rasa sakit yang diberikan padanya. Terlihat sangat jelas sebab bagian tengah kertas itu terlihat pernah basah dan beberapa tulisannya berubah menjadi kabur. Kemudian Nana menatap botol-botol obatnya di ujung meja.

Dulu, dia menganggap obat-obat itu sebagai beban. Ia enggan menelan barang satu butir pun kalau bisa. Menjadi bebas seperti yang lainnya. Tapi bukankah dia juga harus bersyukur untuk itu? Karenanya, ia tetap hidup sampai sekarang. Karenanya, ia punya kesempatan untuk memperjuangkan mimpi-mimpinya lagi.

Akhirnya, ia meraih botol obat-obat itu dan mengambil masing-masing satu butir. Menenggaknya dalam sekali telan walau setelahnya ia meringis bukan main. Pahit. Tapi bukankah demikian pula keadaan ini mengajarinya tentang hidup. Meski pahit, kita terpaksa harus menelannya. Sampai-sampai kita merasa ingin muntah saking muaknya.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang