Laweh

13.6K 333 81
                                    


Berhari-hari Bayu hanya bisa meringkuk diam bersembunyi diatas rimbun akar kering yang terasa begitu lembab, dibalik rasa bingung dan pekikan kengerian yang ada di dalam tempat ini, bocah laki-laki itu baru saja menyadari bila tak hanya dirinya saja yang ada di balik jeruji besi yang membentuk sebuah persegi empat ini, ternyata ada 6 anak lain yang bernasib sama dengan dirinya, anak-anak itu juga terkurung di dalam setiap sisi jeruji yang lain, yang juga didalamnya terdapat dua sekat sel penjara.

Bayu sendiri terkurung bersama dengan seorang gadis yang tak lebih besar dari dirinya, wajahnya tirus dengan rambut panjang sepunggung, tulang tanganya kecil dan panjang, gadis itu memanggil dirinya sendiri dengan nama Erna.

Beberapa kali Erna mencoba berinteraksi dengan Bayu, terkadang dia mengajukan sebuah pertanyaan, pertanyaan-pertanyaan yang semakin lama terdengar semakin spesifik, seperti siapa namanya, berapa usianya, dan bagaimana dirinya bisa berakhir di tempat ini, namun, ada satu pertanyaan yang pernah diajukan oleh Ernah kepada dirinya, sebuah pertanyaan yang merubah presepsinya terhadap gadis asing tersebut, sebuah pertanyan kenapa Bayu hanya diam saja ketika melihat adik kandungnya digilas oleh besi dingin tersebut didepan matanya sendiri, pertanyaan itu membuat Bayu begidik ngeri, sepanjang hari sejak saat itu dirinya akhirnya memilih untuk menjaga jarak dari gadis tersebut, meski terkadang, Bayu mendapati Erna sedang menyeringai kearahnya.

**
dibawah atap yang tinggi, diselimuti kegelapan yang terkadang mengancam, Bayu merasakan dingin batu yang terasa menusuk tulang, matanya lalu teralihkan melihat ke sisi bagian lain, dimana kini dihadapannya, dibalik antara sebuah sumur tempat ni Entirah dulu membenam-benamkan kepalanya rupanya sedang berdiri seorang anak kecil yang lain, seorang anak laki-laki asing berkepala plontos yang kini sedang memandang Bayu dengan sorot mata yang kosong, sementara disamping sekat sell-nya ada seorang gadis yang lain yang juga asing bagi dirinya, gadis itu memiliki rambut yang pendek, dengan tubuh yang juga kecil, Ia tampak sedang duduk bersila sembari tangan-tangan mungilnya tengah merangkai sebuah sampul dari rumput-rumput kering yang dia temukan disekitarnya, Bayu mulai bertanya-tanya di dalam hatinya, siapa sebenarnya anak-anak ini.

Saat itu-lah, tiba-tiba terdengar suara gemerincing lonceng yang mengejutkan, Bayu tersentak sejenak sementara keheningan yang membenamkan tiba-tiba dihiasi pekik ketakutan dari beberapa anak yang ada di dalam tempat ini, Erna yang sejak tadi sibuk dengan dunia-nya sendiri tiba-tiba saja berjalan disudut paling gelap sel miliknya, sembari mencoba tidak melihat kearah pintu, Erna tampak seperti seseorang yang sedang menggigil kedinginan, tak berbeda jauh dengan sikap yang ditunjukkan oleh Erna, bocah berkepala plontos yang sejak tadi memandangi dirinya tiba-tiba juga melakukan hal yang sama, termasuk gadis kecil yang ada disampingnya yang tiba-tiba juga menjerit tanpa sebab dan alasan yang jelas, Bayu benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dan akan terjadi di dalam tempat ini, kenapa sikap mereka semua mendadak berubah seperti ini, namun kemudian, pandangan mata Bayu teralihkan pada sebuah pintu kayu dimana tak lama setelahnya, terlihat 4 orang wanita dengan pakaian suster yang sama seperti ni Entirah sedang berjalan masuk dengan langkah kaki yang tegas, wajah mereka tampak dingin tak bereskpresi, sementara di tangan-tangan mereka tergenggam segelincing kunci, Bayu sendiri akhirnya perlahan mundur ketika melihatnya, Ia benar-benar diselimuti ketakutan yang mendadak muncul dan tidak jelas darimana datangnya. Setelah satu persatu dari mereka membuka pintu sel yang mengurung semua anak-anak yang ada di tempat ini, Bayu lalu melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana wanita itu mengulurkan tangan kearah Erna yang sebelumnya berdiri disudut paling gelap, anehnya, perubahan sikap Erna yang sebelumnya diselimuti ekspresi penuh kengerian mendadak mendekat dengan sorot mata yang putus asa, nampaknya, ada sesuatu yang akan terjadi dengan dirinya.

Bayu berjalan ditempat paling terakhir, dirinya bersama dengan Erna dibawa ke sebuah pelosok hutan, langit yang gelap, rimbun pepohonan disekitarnya dengan tanah yang berlumpur tak menyurutkan niat wanita itu yang jauh memimpin di depan dengan kobaran api pada obor yang sedang dirinya bawa. Beberapa kali Bayu seperti ingin bertanya perihal kemana sebenarnya mereka akan dibawa, namun, Erna tampak tak ingin berbicara apapun kepada dirinya, aneh, pikir Bayu, bagaimana bisa gadis yang sebelumnya banyak bicara itu kini mendadak menjadi pendiam.

Tak lama waktu berselang, hujan deras tiba-tiba saja turun, suster wanita yang memimpin mereka tetap berjalan perlahan-lahan menembus sisi paling dalam bagian hutan yang lain, sementara dari riuh rimbun pohon yang sesekali tertiup angin, Bayu merasa ada sepasang mata yang tidak bisa dia jelaskan, Hutan ini tak hanya dihuni oleh binatang saja, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap sedang bersembunyi dibalik kesunyian yang seakan siap melumat mereka sewaktu-waktu.

Bayu lalu teringat dengan nasib anak-anak lain yang sama seperti dirinya.

Kemana mereka semua dibawa, dan apa arti dari perjalanan ini.

Ditengah riuh air yang terus menerjang tubuh mereka, tiba-lah akhirnya saat dimana suster wanita itu lalu berhenti kemudian berbalik menatap kearah mereka, Ia menunjuk sebuah rumah gubuk yang tersembunyi di bawah sebuah pohon beringin besar, di tiang sekat-nya, ada api yang menyala dari petromaks tua, Erna seperti tahu apa yang harus dia lakukan, karena setelahnya dirinya berjalan menuju ke rumah itu, Bayu sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, sebelum wanita itu membisikkan sesuatu di telinganya.

"mrunu-o, jogo-en, mbesok, kowe bakal tak susul" (pergilah kesana, jaga dia, besok, kamu akan kujemput)

Bayu lalu berjalan menuju ke gubuk tua tersebut sementara suster wanita itu, kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka, Bayu masih tidak mengerti perihal apa yang akan mereka lakukan digubuk yang ada ditengah-tengah hutan yang gelap ini.

Saat itu-lah, dia melihat Erna membuka pintu gubuk sebelum melangkah masuk seorang diri, seakan-akan Ernah sudah pernah berada di dalam tempat ini sebelumnya. Tak lama kemudian, Bayu lalu mengikuti apa yang Erna lakukan, meski sempat ragu, dirinya akhirnya memaksakan diri untuk masuk ke dalam gubuk kayu tersebut, di dalamnya sebuah cahaya temberam dari lilin yang ada diatas meja menyorot keseluruhan ruangan ini, tak ada apapun di dalam gubuk ini selain perabotan tua dari kayu, Erna lalu berdiri di depan sebuah pintu dalam, Ia tampak diam memandang kosong kearah handle pintu, sebelum akhirnya gadis itu menoleh melihat ke tempat Bayu sedang berdiri, Ia lalu berkata dengan suara yang begitu dingin.

"nabur kemenyan nang duwor durjo, ojok sampe turu nang jero omah iki lan jogo lilin-e ojok sampe mati" (tabur kemenyan diatas periuk tungku, jangan sampai tidur di dalam rumah ini, lalu, jaga lilinnya jangan sampai mati"

Erna lalu membuka pintu, ditangannya terdapat satu lilin yang menyala dengan kobaran api yang kecil, tak lama Bayu lalu meraih lilin yang lain yang ada di atas sebuah meja kayu disamping tubuhnya, ia kemudian berjalan perlahan-lahan, membuka handle pintu sebelum aroma anyir darah tiba-tiba tercium menusuk dihidungnya.

Saat itu lah, Bayu melihatnya.

Di atas sebuah ranjang yang ada di tengah-tengah ruangan, dengan tirai transparan yang mengelilinginya, terdapat seorang wanita tua telanjang dengan rambut putih yang penjang, sedang terpejam, disekitarnya ada piluk dari bambu kuning yang runcing, wanita tua itu tampak seperti seonggok jenazah yang diletakkan di sana begitu saja, Bayu terdiam, membeku, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di tempat ini, pikirannya semakin kalut, dari sudut lain, Erna sudah menabur sesuatu yang mengepulkan asap putih memenuhi isi ruangan ini, tak lama kemudian, dia lalu berkata, "yen lilin-mu sing mok jogo kui mati, nyowo-mu ra bakal isok ketulung maneh koyo cah sing ngancani aku sakdurunge, mari-ki Demit kui bakal teko nang kene" (bila lilin yang ada ditanganmu mati, nyawamu tidak mungkin bisa tertolong lagi seperti anak yang menemaniku sebelumnya, sebentar lagi iblis wanita itu akan datang ke tempat ini).

KUDROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang