19. Kenapa Selalu Es Kiko Rasa Anggur?

49.6K 12.5K 5.9K
                                    

Kelak, aku akan datang dalam ingatanmu
Dan simaklah, bagaimana aku menetap jauh lebih lama di dalam sana
Di dalam kepalamu yang terlalu ramai

○○○》♡♡♡《○○○


Mama mematikan keran dan memperhatikan Jaya yang terlihat sibuk di depan kulkas dengan pintunya yang terbuka lebar. Ia bahkan sempat meninggalkan kulkas dalam keadaan terbuka sebelum kembali lagi dengan gunting berwarna merah muda di tangannya.

"Jaya, itu kan masih ada kiko anggur yang sisa kemarin? Itu dihabisin dulu, baru buka yang baru." kata Mama begitu ia tahu bahwa Jaya sudah menggunting satu bungkus es kiko baru, sementara di sampingnya, es kiko rasa anggur dibiarkan menumpuk bahkan sampai belasan batang.

Karena sama seperti kemarin, es kiko rasa anggur akan selalu ditinggalkan. Bahkan tak jarang, bagian luarnya diselimuti bunga es yang tebal hingga warna ungunya tak terlihat sama sekali.

"Nggak mau ah, aku nggak suka." jawab anak itu, sebelum ia memotong es kiko rasa jeruknya menjadi dua bagian dan melahap keduanya sekaligus. Otomatis, bibirnya berubah menjadi lebar dan dia terlihat jauh lebih menjengkelkan dengan kelakuannya yang seperti itu.

Tak lama, Bang Tama dan Nana datang. Yang lebih tua ikut mengambil satu batang es kiko berwarna merah dan membawanya pergi dari sana. Sementara Nana, anak itu hanya butuh air dingin yang berada di bagian paling bawah.

"Lo tuh nyadar nggak sih badan lo bongsor banget?" celetuk Nana. Ia susah payah mendorong Jaya dengan bokongnya, namun ternyata tenaganya tak cukup kuat untuk membuat anak itu berpindah tempat. Alhasil, Jaya melotot ke arahnya.

"Apa sih, Mas?"

"Minggir! Gue mau ngambil minum." Nana jelas tidak mau kalah. Laki-laki berkaos putih itu balik sewot. "Lagian lo tuh nggak tahu apa gimana sih? Buka pintu kulkas lama-lama tuh bisa bikin pemanasan global!" kemudian ia menutup pintu dengan kakinya hingga berdebam--karena dua tangannya sibuk memegang gelas dan botol air minum.

Jengah, Mama hanya bisa menarik napas panjang. Ya memang begini kalau dalam satu rumah isinya hanya anak laki-laki. Perdebatan yang seperti ini bukan terjadi sekali-dua kali. Dan Mama akan lebih jengkel jika perdebatan ini muncul disaat dia tengah bicara. Maka setelah Mama benar-benar menyelesaikan cucian piringnya, ia berjalan ke arah keduanya dengan sorot mata tajam.

"Besok nggak usah beli kiko lagi." titahnya lugas.

"Ih Mamaaaaa." jelas Jaya langsung tidak terima, dan dua kiko yang memenuhi mulutnya, seketika ia lepaskan begitu saja.

"Itu kalau yang rasa anggur ditinggalin kayak gitu terus, mubazir. Itu belinya pakai uang loh! Kalau lama-kelamaan nggak dimakan juga nggak bakalan enak." Mama baru saja berhenti bicara saat Eros datang dan membuka kulkas. Mengambil satu batang es kiko rasa jeruk dan membawanya pergi begitu saja. "Kakak?! Itu yang rasa anggur dimakan juga!"

"Nggak ah, kecut." jawabnya. Padahal setahu Mama, rasa jeruk jauh lebih kecut ketimbang rasa lainnya.

Sampai akhirnya, Tama menyahut dari ruang tengah. "Rasa anggur tuh kayak obat sirup nggak sih? Aneh rasanya."

Lalu Jovan mengangguk untuk memberikan satu keterangan yang nyaris serupa. "Kayak rasa yang merah juga tuh. Tapi yang merah masih mending, yang anggur tuh beneran kayak sirup obat panasnya Jaya dulu."

Kemudian Tama tergelak ketika Jovan kembali menyeletuk, "Aku trauma sama rasa anggur, Ma. Ingat kan aku dulu pernah overdosis obat panasnya Jaya gara-gara enak soalnya rasa anggur."

Seketika, ruangan itu dipenuhi gelak tawa hanya karena mengingat betapa bodohnya Jovan sewaktu masih kecil dulu. Kecuali Mama dan Nana. Kalau Mama menahan kesal karena kelakuan anak-anak bujangnya, Nana justru termenung. Dalam kepalanya, berkelebat jawaban atas pertanyaan: kenapa selalu es kiko rasa anggur?

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang