Bagian 01

765 104 1
                                    

Siang ini, sinar matahari begitu kencang mengeluarkan sinarnya. Yuri yang tengah dibawah pohon rindang pun menggerutu kesal. Pasalnya, sudah hampir lima belas menit ia menunggu Giselle yang tengah ada urusan dengan beberapa guru entah karena apa. Ditambah dengan permintaan Giselle kepadanya untuk memberikan satu file besar ke kantor Yuta.

Yuri menunggu Giselle di bawah pohon rindang. Hatinya memanas, jantungnya berdegup kencang membayangkan wajah Yuta yang terkejut akan kehadirannya. Semenjak pesta Giselle, Yuri terus-terusan memikirkan wajah Yuta yang terlintas di otaknya secara tiba-tiba.

Ditambah dengan jari mereka yang bersentuhan, membuat Yuri tak bisa berpikir positif, terlebih ia sudah di umur legal. Tarikan di pinggang Yuri masih terasa dan gadis itu terkadang berandai-andai akan ada pesta dansa lagi, dan Yuta memeluk pinggangnya sama seperti saat mereka dansa pertama kali.

Dari kejauhan, ia melihat Mark dengan Lucas tengah berjalan. Seulas senyuman terbit di wajah Yuri. Tangannya melambai ke arah Mark yang tertawa melihatnya, pria itu berlari kecil ke arah Yuri.

"Hai, Yuri. Kok belum pulang?" Tanyanya sambil menatap manik mata Yuri.

"Giselle nyuruh aku tunggu disini, soalnya mau ngasih satu file ke kantor Omnya. Dia ada urusan lain." Jawabnya jujur.

"Aku anter, ya?" Tawar Mark yang di angguki oleh Yuri.

Mark menoleh ke arah Lucas yang tengah menyipitkan matanya menggoda sahabatnya dan Yuri. "Sans, Mark. Gue tau kok, gue balik duluan ya!" Seru Lucas yang diangguki oleh Yuri.

"Take care, brother!" Balas Mark sebelum ia mendaratkan bokongnya di aspal yang di buat untuk tanah tanaman.

"Jangan duduk dulu!" Titahnya kepada Yuri. Kemudian Mark membersihkan aspal tersebut dan membuka jaketnya. Di tarik tangan Yuri perlahan, lalu di letakkan jaketnya di atas paha Yuri agar tidak ada yang bisa melihat paha Yuri.

Mendapat perlakuan spesial dari Mark, Yuri tersenyum malu. "M-hm, you're so sweet, Mark." Pujinya yang hanya dibalas tawa oleh pria itu.

"I am, thank you."

Sejujurnya, Yuri ingin sekali menanyakan tentang hubungan mereka. Tetapi nyalinya tidak sebesar itu. Ia takut Mark risih dan berujung meninggalkannya karena Yuri termasuk tipe perempuan yang mementingkan kepastian. Yuri sampai menggelengkan kepalanya karena memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan.

"Hey, what's wrong?" Tanya Mark yang di gelengi oleh Yuri.

"YURI! Eh ada Mark," Sapa Giselle setelah sampai di depan Yuri dan Mark. Wajah gadis yang tengah berdiri itu beralih ke Yuri. "Ayo!" Ajaknya.

Yuri dan Mark beranjak dari duduknya, lalu mereka pergi ke depan gerbang bersama. Yuri menatap Mark yang menganggukkan kepalanya, "Kamu tunggu sini, ya!" Titahnya.

"Jijel, Yuri sama gue. Lo balik sama siapa?" Tanya Mark pada Giselle yang kebetulan tengah memesan ojek online di ponselnya. Tanpa menjawab dengan suara, Giselle menunjukkan layar ponselnya yang di angguki oleh Mark.

Setelah memastikan Mark pergi, Giselle mendekat ke arah Yuri. "Eh! Elo kapan official sih, anjir? Gak bilang-bilang!" Oceh Giselle menyangka sahabatnya sudah berpacaran dengan Mark.

Yuri mendengus kecil, "Gue belom official, Jijel! Gue juga sampe bengong nungguin dia ngeresmiin gue." Jawab Yuri diiringi dengan dengusan kencang.

"Ya lo minta kepastian lah, bodoh!"

"Gue pengen! Tapi ya lo tau sendiri, gak semua orang punya pemikiran yang sama!"

Giselle terdiam mendengar jawaban Yuri, ia menganggukkan kepala. Lalu ia mengusap bahu sahabatnya yang tengah menekuk wajahnya.
"Ya, kalo elo belom di resmiin, mending cari yang pasti," ujarnya memberi saran.

YAKUZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang