Part 14 - Sebuah Kenyataan

1 1 0
                                    

Dua pekan sudah berlalu setelah kejadian di bar yang dilakukan oleh Dimas dan sekretarisnya tanpa sengaja ataupun niat, membuat Nisa menjadi orang yang mulai anti sosial dengan lingkungannya. Bagaimana tidak, ia sudah mengandung anak dari boss-nya sendiri.

"Bapak jahat!"

"Aku minta maaf, aku salah."

"Maaf? Kamu pikir dengan kata maafmu itu bisa memperbaiki semuanya? AKU BENTAR LAGI NIKAH DAN KAMU TAHU ITU! Kamu emang mau jebak aku 'kan?"

"Aku nggak ada niat sama sekali buat ngejebak kamu, aku benaran nggak sadar malam itu. Sumpah, aku nggak ada maksud buruk sama kamu, Nis."

"KAMU ORANG KEDUA YANG UDAH BIKIN HIDUP AKU JADI GELAP! KAMU NGGAK AKAN TAHU RASANYA DI POSISI AKU. Sakit, aku sakit." Nisa merintih mencekam dadanya.

"Aku udah ngaku kalau aku salah. Kamu tenang, aku bakal tanggung jawab."

"Semudah itu kamu bilang bakal tanggung jawab? KAMU WARAS
NGGAK SIH? AKU BENTAR LAGI NIKAH!"

"Kamu mau nikah sama siapapun terserah, tapi dia harus bisa nerima keadaan kamu dulu. Kalau nggak, biar aku yang tanggung."

"LAKI-LAKI NGGAK TAHU DIRI!"

"Nisa, hei. Dengarin aku dulu. Nis, Nisa."

"Nisa, kita balik ke Jakarta sekarang oke? Aku yang bakal ngomong ini sama orang tua kamu."

"Masalah calon kamu itu, biar aku komunikasikan baik-baik. Aku juga nggak mau lepas tanggung jawab."

"Kita pulang?"

Nisa tak menjawab apapun, hanya air matanya yang mampu menggambarkan betapa sakitnya perasaannya itu, betapa semua orang mempermainkannya dengan sesuka hati.

Lalu bagaimana dengan Rian? Ia akan lebih sakit setelah mengetahui hal ini.

Mereka kembali ke Jakarta setelah mengambil tindakan untuk tidak ikut kontrak selama dua bulan, keadaan tidak memungkinkan segalanya.

"Kamu berani ketemu sama keluarga aku?"

"Ya emang harus berani 'kan? Atau mau aku tinggal gitu aja?"

"Laki-laki emang nggak ada yang bisa dipercaya," ucapnya tertawa miring.

"Makanya aku mau buktiin, nggak semua laki-laki seperti yang kamu pikirkan."

Hening.

"Mau makan?" tanya Dimas di sela-sela kefokusannya dalam menyetir.

"Nggak."

"Harus makan."

"Nggak mau."

"Makan!"

"AKU BILANG NGGAK!"

"Bukan buat kamu, buat yang di perut kamu."

"Bukan urusan kamu."

"Oke, kalau lapar bilang," ucap Dimas menghentikan cekcok.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang