chapter 25

633 91 10
                                    

          Sekitar puluhan menit lalu, atau bahkan sudah hitungan jam, rasa nya kejadian itu masi terkam jelas mengisi setiap celah memori dengan rentetan kisah yang benar-benar membuat kedua nya di selimuti kesunyiam dengan dua belah bibir saling bungkam, tak ada yang saling memulai pun memutuskan sesuatu perihal apa yang telah terjadi.

Taehyung tahu ini salah, terlalu buru-buru, tapi nyata nya ia tak menyesalinya sama sekali.

Nafas kedua nya saling bersautan dengan tenang, Airin memejam walau nyata nya gadis itu tidak tidur, sedari tadi ia hanya menerima sentuhan yang Taehyung berikan seperti kecupan pada pucuk kepala elusan pada surai dan punggung polos nya, ini terlalu nyaman atau mungkin ia yang terlalu merindu kendati rasa nya sudah lama sekali kedua nya tidak berkontak fisik sedangkan untuk berbicara satu sama lain saja begitu mustahil.

Dari beberapa hal yang terjadi, Airin bingung harus memulai lagi atau justru mengakhiri sebab semua nya seolah mengikat.

Tapi satu hal yang Airin tahu bahwa Taehyung tidak akan melepaskan nya lagi, ia bisa melihat pria itu begitu tulus pun cinta yang ia berikan tidak main-main.

Sekali lagi Taehyung memberi kecupan pada pipi sebelum ia benar-benar akan bangun lalu meraih pakaian nya berniat membersihkan diri, Airin membuka mata nya perlahan melihat bagai mana Taehyung sudah mengenakan celana dan masi membenahi kancing kemeja.

"Aku akan ke new york dua hari lagi"

Taehyung menoleh sesaat memerhatika gadis itu yang tengah merubah posisi nya menjadi duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nya, ia tampak menanggapi dengan tenang hingga tangan nya sudah berhasil menyatukan kancing walau masi menyisakan dua kancing atas yang sengaja di buka.

"Aku ikut kalau begitu"

"Kau lupa siapa diri mu Taehyung"

"Aku tidak pernah lupa siapa aku, Airin"

Keadaan di dalam serasa begitu sama dengan musim panas di awal juni, hanya saja keduanya berbicara kelewat tenang dengan oktaf yang tak terbilang tinggi atau membentak.

Taehyung menyahut bahkan memokus pandangan nya pada Airin membuat gadis itu sedikit mengertakan gigi dan menoleh kesamping takut melihat bagaimana raut itu terlihat lebih dingin.

"Jika kau mengabaikan keinginan dan kebutuhan mu untuk kesenangan orang lain, itu salah kau terlalu jauh menyiksa diri mu sendiri, Airin"

Dengan masi membuang pandangannya pada beberapa prabot kamar airin tidak bohong perihal diri nya yang merasa takut ketika melihat Taehyung serius begini lebih mengintimidasi, ia menjilat bibir nya sesaat lalu menoleh membuat kedua nya saling bersitatap.

"Pikirkan lagi jika ingin mengambil sebuah keputusan"Taehyung menghela pelan"jangan sampai ada penyesalan".

Taehyung keluar membuka lalu menutup kembali pintu hingga menimbulkan bunyi derit pergesekan kayu yang nyaring di ruangan yang di selimuti kesunyian dan Airin hanya bungkam.

Apa yang Taehyung katakan sungguh memukul keras perasaan nya, perihal penyesalan selalu datang belakangan itu benar adanya.

_________

Taehyung menatap luaran jendela dengan view jalanan kota yang tampak ramai di siang yang cukup terik, tangan nya menggoyangkan gelas yang berisi air putih sementara tangan kirinya berada pada saku celana.

Kepala nya masi terasa pening walau tidak terlalu kuat seperti tadi malam, ia sudah menghubungi Jungkook untuk meminta waktu beberapa hari tinggal di apartemen nya, Jungkook tentu tidak keberatan sebab apartemen tersebut juga jarang ia kunjungi, Taehyung juga menelpon asisten nya untuk membelikan beberapa pakaian.

Hiraeth | Kth  ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang