18. Dialog: Ramai yang Sepi

53.1K 12.7K 3.3K
                                    

Aku tidak pernah ragu dalam mencintaimu
Aku hanya ragu soal,
apakah aku benar-benar layak atau tidak

***

Hujan masih turun deras disertai petir dan angin kencang. Siang yang seharusnya terik, menjadi tak ubahnya setangkai bunga yang layu. Tak gulita, namun warna langitnya jelas padam. Kelabu dan sedikit terasa sendu. Kalau melongok sedikit ke teras belakang rumah, kita bisa menemukan seragam pramuka Cetta bergerak-gerak diembus angin. Ia setengah basah, karena belum terlalu lama dijemur saat Tama membawanya kembali ke teras belakang. Sebelum akhirnya hujan turun begitu deras.

"Kamu kenapa nggak bilang mau ke sini?" dan bukan hal aneh jika suara Tama terdengar lebih serak sekarang. Ada satu jam lamanya dia menangis. Berkata berulang-ulang kali bahwa dia rindu--padanya yang tak bisa lagi ia bawa kembali ke sini.

Wajahnya sembab, dengan sepasang mata yang terlihat seperti hari-hari ketika Jovan mengajaknya bergadang nonton pertandingan bola. Dan cukup bagi Laras untuk memahami semuanya. Perempuan itu tidak ingin bertanya apa-apa disaat dia sudah mengerti dengan apa yang laki-laki itu alami. Jadi ketika ia menemukan Tama sedikit lebih baik dari beberapa menit sebelumnya, ia beranjak ke dapur. Memotong satu ruas jahe sebelum akhirnya ia geprek kasar dan ia seduh dengan air panas.

Ia belajar itu dari Mamak. Dulu, Laras selalu melihat Mamak membuatkan wedang jahe ketika Bapak sedang dalam keadaan sedih. Itu karena Mamak tidak punya kata-kata hangat untuk menenangkan kegelisahan Bapak. Jadi dia berharap, hangatnya wedang jahe itu mampu memberikan sedikit kehangatan. Walau dewasa ini Laras tahu, itu bukan soal wedang jahenya, tapi perlakuan Mamaklah yang membuat Bapak merasa jauh lebih hangat.

"Kemarin Mama cerita ke aku kalau kolestrolnya tinggi lagi. Jadi tadi aku ke tempat laundry buat bawain vitamin. Terus pas mau pulang, nggak sengaja ketemu Jovan. Kata dia kamu sendirian di rumah." Laras menarik napas panjang, lalu meletakkan satu gelas wedang jahenya persis di depan Tama. Dan ia berakhir duduk di hadapan laki-laki itu dengan tenang.

Wajah Tama masih terlihat muram. Seolah dia tidak punya tenaga apa-apa lagi bahkan untuk mengangkat gelas di hadapannya. Tapi ia harus tetap bersyukur karena kedatangan Laras benar-benar menyelamatkan dirinya. Karena andai saja perempuan itu tidak datang, entah apa jadinya Tama saat ini. Bisa jadi jauh lebih kacau dari keadaannya sekarang

"Kamu nggak buka toko?" tanya Tama, sesaat setelah ia menyesap minumannya perlahan-lahan.

Dulu, Laras pernah mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah SD negeri di daerah Tangerang. Dengan jarak yang cukup jauh yang akhirnya membuatnya kelelahan dengan rutinitasnya sendiri, akhirnya Laras memilih menyerah. Ada pikiran untuk kembali mengajar di sekolah-sekolah terdekat. Namun di tengah jalan, hasrat itu tak lagi ia temukan. Di usia 24 tahun saat itu, Laras kehilangan jati dirinya. Ia berubah menjadi manusia yang clueless dengan hidupnya sendiri.

Lalu satu tahun setelah ia kebingungan dengan hidupnya sendiri, ia akhirnya menemukan apa yang membuatnya merasa bergelora lagi. Ada satu ruko di daerah Senopati yang akhirnya ia sewa dengan harga lumayan. Untuk ia jadikan toko bunga yang akhirnya ia jalankan sampai hari ini.

"Ada Ajeng sama Dias." itu dua orang pegawainya. Dan Tama hanya memberi anggukan ringan sebelum menyesap wedang jahenya sekali lagi. "Mas mau makan apa? Aku bikinin."

"Mas nggak lapar."

"Tadi sarapan?" Laras bertanya kembali dan yang ia temukan hanya anggukan yang sama dari Tama. "Sarapan apa?"

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang