chapter 23

346 74 18
                                    

Vote coment nya, kalau aku double up ada yang mau gak, coba koment ada brapa orang yang mau?

Yang belum follow akun ini silahkan di follow, akan ada banyak cerita romance and adult di booksvii nanti nya yang masi tersimpan rapi di draf .

Yang belum follow akun ini silahkan di follow, akan ada banyak cerita romance and adult di booksvii nanti nya yang masi tersimpan rapi di draf

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







           
              Airin sudah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk keberangkatan nya ke new york pekan ini, mulai dari persiapan pakain dan keperluan lain nya yang di butuhkan nanti, tidak banyak alasan untuk nya tetap berangkat, hanya ingin menempuh pendidikan, dan menjauh dari Taehyung.

Mungkin menjadi kan Taehyung rumah terakhir nya bernaung adalah sebuah ekspektasi dan angan yang tidak mutlak, sebab kini semua nya telah berakhir walau Airin di dera rasa takut sebab ucapan taehyung tempo lalu yang mengatakan bahwa ia lebih memilih mati jika ia pergi dari laki-laki itu, ucapan itu masi terngiang jelas bahkan membayang-bayangi nya.

Hampir dua minggu terakhir ini tidak ada kabar di antara keduanya, bahkan Airin tidak tahu bagai mana kondisi Taehyung sekarang, apa baik-baik saja atau justru sebalik nya.

Pun kini bagai mana Airin yang tengah menyiapkan segala pakaian untuk di masukan kedalam tas koper berwana biru muda milik nya serasa tidak begitu memiliki minat yang kuat, padahal new york adalah kota impian gadis itu sedari dulu dan apapun yang berbau tentang new york selalu menjadi incaran nya.

Dengan pikiran yang entah kemana dan tangan yang sibuk memilah baju di dalam lemari, Airin seketika berhenti mana kala suara ketukan pintu kamar mengalihkan atensi nya.

Airin diam sesaat jika ibu nya pasti tidak akan mengetuk pintu terlebih dahulu kecuali di kuci dari dalam seperti itu, lalu tanpa menunggu lama dengan membawa tungkai nya yang berbalut sendal rumahan ke arah pintu untuk membuka nya.

Airin membuka pintu cukup pelan, tapi seketika itu ia tersenyum lebar sebab presensi Jungkook yang tengah menggendong Jungki berdiri di depan nya.

"Bibi"

Bocah kecil itu sontak turun dari gendongan Jungkook dan beralih memeluk airin yang ikut merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukan nya.

"Kau tahu, Bibi rindu sekali"

Jungkook tersenyum melihat kedua nya, sejauh ini Jungkook tidak mengetahui bahwa anak nya begitu menyayangi gadis tersebut.

"Bibi ayo ikut Jungki ke rumah, bial ada teman"

Jungki memelas dengan wajah polos nya sembari melakukan pergerakan kecil untuk memeluk Airin semangkin erat.

"Kan sudah ada eomma Rahel"

Tidak di gubris sama sekali bocah itu justru mengusak di perpotongan leher Airin seolah mencari kenyamanan di sana.

"Jungki rindu Appa dan Bibi, kenapa bibi tidak bawa appa ke sini, bibi tidak rindu dengan Appa juga ya?"

Hiraeth | KthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang