2. Keluarga Baru

22 11 6
                                    

Vote, komen, share ya!
Follow juga akun Author!
Tambahin ke reading list kalian juga, ya?

▪■Selamat Membaca!■▪

"Allahu Akbar, Allahu Akbar ...."

Samar-samar indra pendengarku mulai menangkap alunan indah ini. Perlahan namun pasti, kubuka kedua manik ini dan mendapati Ibu sudah terbaluti dengan mukenah putih. Cantik! Sangat cantik!

"Eh sudah bangun. Cepat ambil wudhu dan shalat berjama'ah dengan Ibu!"

"Okey bos!"
.
.
.
.
.
"Apa yang kamu katakan?!"

Prang!

"Kenapa? Apa salah?"

Alangkah terkejutnya, baru saja turun sudah disambut dengan pertengkaran antara Ayah dan Nenek. Aku tidak tahu pasti kenapa mereka bertengkar dipagi buta ini. Hanya saja rasanya mustahil Ayah berani menjawab perkataan Nenek.

"Kamu tidak ingat kejadian satu tahun lalu?" bentak Nenek.

"Tentu aku ingat, dan aku sangat menyesal."

Memangnya ada apa dengan satu tahun yang lalu? Apakah Ayah berubah karena kejadian itu? Tetapi, jika memang benar, kenapa harus Aku dan Ibu yang menjadi sasaran empuk Ayah?

Ayah, rahasia apa yang selama ini Ayah dan seluruh rumah ini sembunyikan dariku? batinku.

"Kamu ngapain di sini?!" andai bisa, mungkin seluruh rumah ini sudah menggema akan teriakkanku. Aku sangat tidak menduga Bibi Selly akan datang di saat Aku berusaha mencari kebenaran tentang kejadian itu.

"I-itu, Aku mau wudhu."

Bibi Selly melihat Ayah dan Nenek yang tengah berdebat. "Jangan berbohong! Dasar, anak kecil suka ikut campur urusan orang tua!"

Tunggu dulu! Aku tidak berbohong, 'kan? Aku memang ingin mengambil air wudhu, sebelum sesaat Aku melihat kejadian tadi. Tapi, ahh sudahlah percuma saja membela diri. Meskipun terbukti benar, Bibi akan tetap menyalahkanku.

"Tunggu apa lagi?! Cepat pergi dari sini!" ucapnya sembari meninggalkan Aku sendiri.

Ketika aku berbalik, Nenek dan Ayah sudah tidak ada. Kecewa? Tentu saja!

Huft! Sudahlah, lain kali Aku akan lebih berhati-hati. batinku.

Aku segera melanjutkan niatku untuk mengambil wudhu dan sesegera mungkin naik ke atas dan pergi shalat berjama'ah dengan Ibu.

📚📚📚

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Sudah saatnya untuk berkemas dan pergi ke sekolah. Meskipun keluarga ini berlaku tidak adil terhadapku dan Ibu. Namun, mereka masih berbaik hati untuk membiarkan Aku mencari ilmu.

Berbicara soal Ibu, dia sudah turun dan bekerja di bawah. Ibu juga meninggalkan sehelai roti tawar untuk mengganjal perutku. Ya walaupun, Aku sudah terbiasa makan nasi, bukannya roti. Tapi, bersyukur sekali bisa makan.

"Ibu! Aku mau berangkat sekolah dulu ya," ucapku menghampiri Ibu, dan mencium punggung tangannya.

Ibu mengusap puncak kepalaku seraya tersenyum lembut. "Iya, hati-hati di jalan ya."

AKSARA: "The Adventure of Writter"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang