BAB 9 : Dasar Tukang Ngambek

41.7K 4.2K 9
                                    

Arsen terkejut bercampur bingung melihat Nayara di meja makan rumahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arsen terkejut bercampur bingung melihat Nayara di meja makan rumahnya. Dalam hati ia bertanya kenapa Nayara bisa berada di rumahnya dan akan ikut makan malam bersama keluarganya. Setelah kejadian waktu SMA, tidak pernah sekali pun Arsen membayangkan kalau Nayara akan menginjakan kakinya di rumahnya lagi. Di sisi lain, Nayara juga sama terkejutnya dengan Arsen. Nayara tau, tidak seharusnya ia terkejut melihat Arsen pulang ke rumah Lily. Lily itu ibunya dan ini rumah orang tuanya, jadi wajar kalau dia pulang ke rumah orang tuanya sendiri. Dasar Nayara bodoh!

Arsen memutuskan kontak matanya terlebih dahulu. Ia kembali memasang ekspresi datarnya dan melanjutkan langkahnya memasuki ruang makan. Seakan tersadar, Nayara juga langsung mengalihkan pandangannya ketika Arsen memutuskan kontak mata padanya.

Nayara mengalihkan pandangannya ke tangannya sendiri yang memegang centong sayur. Saking terkejutnya melihat Arsen, Nayara sampai tidak sadar kalau sedari tadi tangan kanannya masih memegang centong sayur. Segera ia kembalikan centong sayur itu ke tempatnya semula. Mereka berpura-pura seakan tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran satu sama lain.

Arsen tidak datang sendirian. Ia datang bersama wanita yang sama yang Nayara temui di toko bunganya.

"Mah.. Pah.." panggil Arsen lalu menyalami tangan kedua orang tuanya.

"Eh, udah pulang kamu? Tumben jam segini udah pulang, gak lembur? Eh, ada Nadia juga?" tanya Lily berturut-turut.

"Malam tante, om" sapa Nadia, lalu ikut menyalami tangan Lily dan Tristan seperti Arsen.

"Wahh, ada apa ini tumben kamu ke sini gak bilang-bilang Tante, Nad?" tanya Lily.

"Aku mau kasih titipan dari Mami buat Tante"

Nadia memberikan paper bag di tangannya ke Lily.

"Wahh cupcakes! Keliatannya enak banget ini. Makasih yah Nad. Tolong sampaikan terima kasih juga ke Mami kamu. Oh iya, ayo duduk Nad, kamu makan malam disini aja yah sekalian" ajak Lily.

Nadia juga tidak bisa menolak permintaan Lily.

Saat ini mereka semua sudah duduk di tempat duduk masing-masing. Tristan duduk di kepala meja sesuai dengan kedudukannya di rumah sebagai kepala keluarga. Di samping kiri Tristan, duduk Lili, Kaila dan Nayara. Terakhir, Arsen dan Nadia duduk di samping kanan Tristan

"Oh iya, Ar. Ada Nayara. Kamu masih ingat Nayara kan? Tadi Mama gak sengaja ketemu Nay di restoran sushi tempat mama arisan. Kebetulan Nay juga lagi antar pesanan ke sana" tambah Lily menjelaskan pertemuannya dengan Nayara. Tanpa perlu bertanya, Arsen sudah mendapatkan jawabannya dari penjelasan Lily. Tapi penjelasan Lily belum menjawab satu pertanyaan lagi yang bersarang di kepalanya. Kenapa Nayara bisa berada di rumahnya dan ikut makan malam bersama keluarganya? Nayara tidak mungkin mengajukan diri untuk datang ke rumah Arsen dan ikut makan malam bersama keluarganya.

"Iya, aku udah liat" balas Arsen singkat.

"Oh iya, kalian berdua juga belum kenal satu sama lain yah. Nay, kenalin ini Nadia, anak teman arisan Tante, dan Nadia, ini Nayara, guru lesnya Kaila sewaktu SMP dulu, dan Nay,"

Akhirnya Nayara dan Nadia saling berjabat tangan dan berkenalan satu sama lain. Ditengah-tengah aktivitas makan, Lily kembali bertanya kepada Arsen.

"Tumben kamu udah pulang jam segini, gak lembur Ar?"

"Gak. Kerjaan lagi gak terlalu banyak" jawab Arsen singkat.

"Tumben pulang ke rumah, biasanya gak inget rumah. Pulangnya ke apartemen terus" sindir Lily.

Arsen menolehkan kepalanya menatap Lily sebelum membalas sindiran ibunya, "Jadi gak boleh aku pulang ke sini? Oke besok aku pulang apartemen lagi"

Mendengar Arsen yang seperti merajuk kepada Lily, Nayara menatap Arsen dengan salah satu alis terangkat. Hanya sebentar, lalu ia kembali menatap piringnya. Sambil menyendok makanan di piringnya, Nayara menggumam pelan.

"Dasar tukang ngambek"

"Dasar tukang ngambek"

Ternyata Lily juga mengucapkan hal yang sama dengan Nayara. Nayara tidak sadar kalau gumaman pelannya ternyata masih bisa didengar oleh semua orang. Seketika suasana di meja makan menjadi hening. Nayara mengangkat kepalanya, lalu mengedarkan matanya ke sekeliling meja makan, dan terakhir menatap Arsen dan Lily.

Mampus gw.

"M-maksudnya, Kirana yang tukang ngambek. Dia lagi ngambek sama aku karna gak mau nemenin dia ke mall besok. Tante kenal Kirana kan? Sepupunya Nino yang sahabatnya Arsen?" kilah Nayara dengan senyum canggung.

"Ohhh, kirain Tante itu buat Arsen. Iya tante kenal sama Kirana. Tapi kalau buat Arsen juga Tante gak marah Nay, emang bener tukang ngambek anaknya".

"Ahh gk kok Tante. Bener buat Kirana"

Nayara kembali fokus dengan makanannya. Tidak lama kemudian, terdengar suara ejekan dari seseorang yang duduk di sebelahnya.

"Kak, lain kali ngomongnya lebih pelan lagi" ejek Kaila sambil terkekeh kecil.

"Sutt, diem kamu. Itu bener buat Kirana kok"

"Iya, iya, aku percaya sama kakak kok. PERCAYA BANGET"

Nayara tahu sedari tadi Arsen terus menatap tajam padanya sejak insiden keceplosan tadi. Makan malam kembali tenang. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Ditengah-tengah makan malam, Tristan memecah keheningan dengan membuka percakapan dengan Nayara.

"Nay, Om dengar dari Kaila kamu punya toko bunga? Udah berapa lama?"

"Iya, Om. Udah jalan setahun"

Tristan mengangguk-anggukan kepalanya dan suasana kembali hening. Tiba-tiba suara Kaila memecah keheningan.

"Pah! Gimana kalau Ka Ara aja yang supply bunga buat dekorasi ulang tahun perusahaan?" usul Kaila.

"Sebenernya Papa juga lagi mikir soal itu daritadi. Gimana Nay kamu bisa?"

"Hmm, aku pikirkan dulu yah om, soalnya belum pernah terima permintaan event yang besar, biasanya hanya pesanan bunga saja" tawar Nayara.

"Ok, Om tunggu kabarnya. Jangan lama-lama yah Nay"

"Iya Om"

"Ck, udah, udah, kenapa jadi ngomongin kerjaan. Kamu tuh kebiasaan deh" potong Lily.

"Kok aku, Kaila tuh yang mulai duluan bahas. Aku cuma ikutan aja" balas Tristan melempar kesalahan ke putri bungsunya.

"Ihh, Papa kok gitu, lempar ke aku? Aku kan cuma kasih ide"

Tatapan Lily berpindah ke anak bungsunya.

"Yah, Mah, namanya ide yah gitu. Suka muncul tiba-tiba. Daripada aku lupa, jadi aku langsung sampaikan aja" balas Kaila membela diri sendiri.

"Jangan diulangi lagi"

"Iyaa, maaf.."

"Mas juga"

"Iya sayang, aku minta maaf"

Suasana kembali tenang dan hanya terdengar dentingan antara sendok, garpu dan piring. 

 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang