Sui Juris Sum (Menjadi Mandiri)

17 1 0
                                              

Setelah kemarin bersenang-senang. Aku, Arka, Sayu dan Affan. Kembali memerangi tugas-tugas. Kali ini entah mengapa walau senang yang terus menggebu-gebu dalam hati, tetapi jasmani ingin pulang lebih cepat. Mungkin ia lelah telah terus berkelana, mencari tangga yang nantinya akan jasmani naiki sebagai tanda menuju keberhasilan.

Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, Ayah mengajakku untuk menemaninya berbelanja bulanan, dan juga nongkrong di cafe mall sembari aku mengerjakan tugas. Karena tak mungkin kutolak, jadi aku lebih baik menolak ajakan teman di banding orang tua.

Seusai kelas, aku bergegas pulang dengan motor bututku yang sudah menemani hampir 4 tahun. Kado ulang tahun dari Ayah yang iya panjatkan atas kesyukurannya memiliki aku. Tentunya karena keluhku selalu jalan kaki saat berangkat dan pulang sekolah ketika SMA. Tapi tetap saja, ini adalah pemberian berharga dari Ayah. Walaupun terbilang cukup muda, 4 tahun berjalan bersama. Tapi banyak kenangan yang tercipta di motor ini, kenangan yang direkam dalam kepala, that's why I call this bike a precious gift.

-----□----

"Gimana yah, jadi?"

Ayah sedang duduk santai di teras, melihatku membereskan sepatu dan jaket. Sembari jalan kepadanya, aku menanyakan sepatah-kata tadi.

"Udah entar aja, mending kamu istirahat dulu, tinimbang lara. Sana, mangan atau apa gitu, baru cus shoping-shoping."

Logat khasnya yang entah mengapa selalu membuatku tertawa, kejawa-jawaan yang natural dalam dirinya seperti peran komedi yang sebenarnya tidak diperankan, tapi tawa selalu menghiasi bila Ayah berbicara dengan medok jawanya.

"Ih kok ngguyu, cekikikan gitu, udah sana mangan, Ayah masak cumi balado, cepet! Keburu dihabisin."

Ucapnya menggerutu

"Iya-iya! Sabar, nanti cepet tua lho!"

Aku tertawa terbahak-bahak menuju kamar untuk ganti baju. Lalu sehabis itu makan dan berangkat. Untung saja hari ini menu makanannya cumi balado, salah satu makanan favoritku, yang hanya enak bila dibuat oleh chef handal Fabumi Sudarjo alias Ayah. Sebenarnya Ayah tidak sehandal chef profesional, ia tetap takut bertemu dengan semburan minyak panas, tapi yang kumaksud adalah chef handal di rumah, karena diriku yang sama sekali tidak mengerti dunia permasakan. Ayah ingin mengajarkanku cara memasak berbagai makanan, tapi nurani tak tertarik dengan hal itu, sehingga sampai sekarang, rencana aku bisa memasak masih tertunda.

"Wes?"

Ucap Ayah sembari duduk di bangku meja makan depanku.

"Udah, dikit lagi. Emang Ayah pengen beli apa sih?"

Aku bertanya kepadanya, barang apa yang hendak ingin dia beli, apalagi mengajakku bersamanya, itu bukan hal yang biasa. Ayah terbiasa memanjakan dirinya sendiri tanpa melibatkanku, kadang kala memang ia menawarkanku untuk ikut atau tidak, tapi jasmani seperti enggan membawanya pergi, padahal nurani selalu merasa bersalah menolaknya. Tapi jujur saja, aku rasa Ayah ingin menyiapkan sesuatu untukku, mengajak dengan memaksaku, tadi malam saja beliau menetap di kamarku, berkali-kali memohon kepadaku untuk ikut. Aku tidak mungkin menolaknya, dengan alasan apapun pasti penyesalan akan menggerogoti seluruh indraku, penyesalan akan diriku yang menolak sepipih permintaan dari orang tua, jadi...seperti biasa, aku selalu pasrah dan menerimanya dalam nurani.

"Ya apa aja, namanya shoping ya random. Entah nanti nemu baju bagus, sepatu bagus. Apapun itu yang kelihatan bagus di beli. Tapi enggak sampai boros juga, inget tuh! Jangan sampai kalap!"

Femina Tristis (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang